Rabu, 13 Juli 2011

RIWAYAT ST. ALOYSIUS GONZAGA

. Rabu, 13 Juli 2011
0 Pendapatmu

 Saint Aloysius Gonzaga-3Santo Aloysius Gonzaga

Aloysius (Luigi) Gonzaga, putra tertua Marchese (bangsawan) dari Castiglione, dilahirkan pada tanggal 9 Maret 1568. Meski baru berusia 4 tahun, Luigi diajak dalam ekspedisi latihan untuk mengenak dunia militer. Pada kesempatan ini, biasanya Luigi kecil akan mengenakan seragam tentara dan akan berjalan disamping ayahnya memeriksa pasukan.

  Namun, permainan tentara ini harus ditinggalkan ketika Luigi terserang penyakit malaria. pada usia 7 tahun, ia bertobat dari cara hidup berkebangsawanan untuk memulai kehidupan yang lebih mengutamakan hal batiniah. Sejak saat itu, ia mulai berdoa dan mendaraskan mazmur-mazmur. Ketika ayahnya kembali ke spanyol pada tahun 1576, ia mendapati putranya yang berusia 8 tahun itu sudah menjadi seperti seorang dewasa, dan ia sudah menganggapnya sebagai ahli waris Castiglione yang pantas. Karena ia adalah anak tertua, masa depan Aloysius sudah ditentukan. Tetapi sementara ayahnya memikirkan Aloysius sebagai pengikut langkahnya. Pada tahun 1577, Aloysius dan adiknya, Rodolfo, dibawa ke Firenze (Florence) kepada seorang bangsawan kawan ayah mereka seorang Adipati, Duke Francesco de Medici. Di istana bangsawan itu, mereka tinggal untuk mengetahui adat istiadat kebiasaan seorang bangsawan. Keluarga Medici adalah salah satu keluarga bangsawan yang paling berkuasa di Eropa.

Saint Aloysius Gonzaga-2

Tetapi pada saat yang sama dalam keluarga itu, intrik dan kebohongan merajalela; pisau belati dan racun adalah alat untuk menyelesaikan masalah. Dikelilingi suasana demikian itu, Aloysius yang berjiwa peka menarik diri dan menolak untuk ambil bagian dalam perlombaan-perlombaan orang Firence. Hanya dengan cara inilah, ia dapat menghindari dosa. Demikian muak ia dengan jalan hidup ini sehingga pada suatu hari pada tahun 1578, selagi berada didalam Gereja  Maria annunciata, ia membuat sebuah keputusan kuat untuk tidak pernah menyakiti Tuhan dengan dosa.

   Dari Firence, Aloysius dikirim ke Mantua pada November 1579. Disana, ia hidup bersama sanak saudara. Salah seorang mempunyai kapel pribadi yang sangat menarik hatinya. Di sini, ia membaca buku kehidupan Para Kudus dan tetap asyik mendaraskan mazmur-mazmur. Dari pendarasan mazmur harian inilah, pikiran menjadi seorang imam muncul. Aloysius kembali ke Castiglione pada tahun 1580. Dalam perpustakaan keluarga, ia menemukan ringkasan ajaran kristiani, karangan Petrus Kanisius dengan meditasi-meditasi untuk setiap hari pada akhir buku itu. Aloysius menggunakan meditasi-meditasi itu untuk doanya dan mulai merasakan buah-buah rohani.

  Carolus Borromeus, yang menjadi katedral di Malino, tiba di Castiglione pada kunjungan di keuskupan Agung itu. Ia bertemu dengan Aloysius yang berusia 12 tahun dan terkesan oleh anak itu. Dalam pembicaraan-pembicaraan, Kardinal itu mendengar bahwa anak muda belum menerima komuni Pertama, maka beliau mempersiapkan Aloysius. Pada tanggal 22 Juli, beliau sendiri menerimakan komuni pertama kepada Aloysius. Sesudah itu Aloysius selalu rindu untuk menerima komuni. Aloysius juga berpuasa tiga hari seminggu, bermeditasi pagi dan sore, serta menghadiri misa setiap hari sejauh mungkin.

  Pada Tahun 1581, ketika Maria dari Austria, janda kaisar Maximilianus II, melewati italia dalam perjalanan pulangnya ke Spanyol, ayah Aloysius memutuskan supaya keluarganya mengantarkan ke Madrid. Aloysius bersama Maria tiba di Madrid pada tanggal 7 Maret 1582. Ia menjadi pelayan pendaping adipati dari Austrias dan kemudian diangkay menjadi kstaria. Pada saat itu, Aloysius sudah yakin bahwa kehidupan bangsawan bukanlah untuk dia.

  Di Madrid itupula ia mempunyai Bapa pengakuan seorang Yesuit dan makin lama semakin terpikir menjadi seorang Yesuit. Hasrat itu dikuatkan pada tanggal 15 Agustus 1583, ketika ia sedang berdoa didepan patung Bunda Maria di gereja Yesuit. Dalam hati ia merasa inilah yang Tuhan minta darinya dan setelah meninggalkan gereja itu ia pergi ke bapa pengakuannya untuk memberitahukan keputusannya. Namun bapa pengakuannya menerangkan bahwa sekarang harus memperoleh izin dari ayahnya.

  Mendengar bahwa putra tertua dan ahli warisnya ingin meninggalkan warisan keluarganya demi hidup imamat, sang Marchese menjadi marah. Karena ayah dan anak sama-sama teguh dalam pendirian mereka masing-masing. Maka suatu ketegangan terjadi dalam hubungan mereka. Mengira bahwa ia dapat mengubah kehendak putranya, Sang Marchese membawa keluarganya kembali ke Castiglione pada tahun 1584. Lalu ia mengirim Aloysius dan adiknya untuk mengunjungi pelbagai istana di Italia, dengan harapan bahwa Aloysius akan meninggalkan pikirannya untuk menjadi imam. Ketika Aloysius kembali dari perjalanannya itu, ia belum juga mengubah keputusannya. Akhirnya sang ayah jemu dan memberika persetujuan. Pada awal bulan November tahun itu, Aloysius meninggalkan warisannya, pergi ke Roma dan menghadap Pater Jendral Caludio Aquaviva. Ia masuk novisiat Serikat Yesus pada tanggal 25 November 1585.

  Aloysius baru berusia tujuh belas setengah tahun, namun ia novisiat, ia sudah dewasa karena latar belakang dan perjuangannya. Motto yang memimpin ia ke novisiat ia pegang selama tahun-tahun beikut : “ Saya ibarat sepotong besi yang telah bengkok. Saya masuk biara agar diluruskan kembali.” Aloysius memberikan secara total ke dalam proses untuk menjadi seorang Yesuit. Setelah mengakhiri masa novisiatnya, ia pindah ke kolese Roma untuk menyelesaikan studi filsafatnya. Ia telah mulai studi filsafat ketika berada di istana raja di Madrid. Ia mengucap ketiga kaulnya (Kemiskinan, Kemurnian dan ketaatan) pada tanggal 25 November 1587.

Saint Aloysius Gonzaga-1

  Kemudian ia melanjutkan studinya dengan belajar teologi dan ia terbukti sebagai mahasiswa yang cemerlang dengan otak yang encer. Dalam tahun 1589, ia kembali ke Castiglione untuk waktu yang cukup lama demi mendamaikan saudaranya Rodolfo dengan Adipati Mantua. Setelah berhasil dalam soal ini, ia kembali ke Roma pada bulan Mei 1590.

  Pada awal tahun berikutnya, 1590, terjadilah wabah dan kelaparan di Italia. Aloysius mengumpulkan dana dengan mengemis di Roma bagi daerah-daerah yang terkena wabah. Kemudian ia bekerja langsung merawat orang-orang sakit.  Ia mengangkut orang-orang yang hampir mati dijalan raya, membawanya kerumah sakit, memandikan mereka dan memberi mereka  makan serta mempersiapkan mereka untuk penerimaan sakramen-sakramen. Keadaan jasmaninya berontak ketika berhadapan dengan penyakit, darah dan segala yang kotor berbau. Sekali demikian, ia mengatasi rasa jijik itu untuk membantu mereka yang membutuhkan pertolongan. Pada suatu malam, ia kembali dari rumah sakit. Ia berkata kepada pembimbing rohaninya, Pater Robertus Bellarminus, “Saya merasa hari-hari saya tak akan lama lagi. Saya merasakan kerinduan begitu besar untuk bekerja dan melayani Tuhan sehingga saya tidak bisa percaya Tuhan telah memberikan itu sekiranya ia tidak bermaksud mengambil saya dengan segera.”

  Karena banyak Yesuit muda mulai terkena penyakit itu, Pater Superior melarang Aloysius untuk kembali ke rumah sakit. Ketika Aloysius mengajukan lagi permintaan untuk melayani orang-orang sakit, ia diberi izin, tetapi hanya untuk membantu Rumah Sakit Santa Perawan Maria Penghibur. Di sana, pasien-pasien dengan penyakit menular biasanya tidak diterima. Aloysius pergi kesana, mengangkat seorang pasien dari tempat tidurnya, merawatnya dan mengembalikannya ke tempat tidur semula. Ternyata orang itu terkena penyakit menular dan Aloysius ketularan penyakit itu dan terpaksa istirahat pada tanggal 3 Maret 1591.

Apapun akan berharga bagi keabadian.”

  Untuk sementara waktu, penyakit itu bertambah hebat, tetapi kemudian Aloysius sembuh dan infeksinya reda. Namun demikian, penyakit itu telah menjadikannya begitu lemah sehingga tak pernah pulih kembali. Demam serta batuk muncul selama beberapa minggu ia tetap hidup tapi kesehatannya semakin mundur. Dalam doa, Aloysius diberitahu bahwa ia akan meninggal pada hari Raya Tubah dan Darah Kristus. Ketika hari itu tiba, yaitu 21 Juni 1591, ia tampak lebih segar daripada hari sebelumnya. Ia memohon sakramen Bekal Suci, tetapi pembesarnya menolaknya karena kelihatannya Aloysius tidak akan mati dalam waktu singkat. Malam itu, untuk kedua kalinya ia meminta Bekasl Suci, dan supaya pasien itu tenang, lalu diatur baginya agar menerima sakramen tersebut. Dua orang Imam tinggal bersama dia pada malam itu. Sesaat sesudah pukul 10, rasa sakit lambungnya yang terluka semakin hebat dan tak tertahan lagi.

  Maka ia minta supaya badanya diangkat sedikit. Ketika kedua Yesuit itu datang mendekat, mereka mengamati bahwa wajahnya mulai berubah dan mereka menyadari bahwa Aloysius yang muda ini akan wafat. Aloysius mengarahkan pandangan matanya kepada salib yang ia pegang, dan sewaktu mencoba menyebut nama Yesus, ia meninggal dunia.

  Aloysius Gonzaga berusia 23 tahun saat wafat. Ia dimakamkan di Gereja Anunciata, disamping Kolese Roma. Di kemudian hari, jenasahnya yang suci dipindahkan ke Gereja Santo Ignasius. Di sana, jenasahnya dihormati sampai hari ini. Aloysius Gonzaga adalah orang kudus Tuhan. Ini terlihat dari motto Aloysius : “ apapun akan berharga bagi keabadian.” Di atas segalanya, ia mencintai kerendahan hati dan doa. Baginya, doa menjadi sangat penting bagi semua pengetahuan; cinta diterima dalam batin melalui doa kontemplatif. Aloysius mempunyai empat devosi khusus. Pertama, devosi kepada Sakramen Maha Kudus. Ia membagi hari-harinya dalam satu minggu menjadi dua; yang pertama, untuk mengucap syukur atas komuni suci yang telah diterimanya terkahir kali, dan yang kedua, untuk menyiapkan dirinya dalam penerimaan Komuni Suci mendatang. Devosi kedua ditujukan kepada sengsara kristus. Pengalaman Aloysius dalam penderitaan dan penyesahan diri secara alami membawanya pada pencarian misteri penderitaan Kristus sebagai sebuah model untuk menjadi kuat dan tenteram. Devosi ketiga adalah devosi kepada Bunda Maria. Devosi ini menunjukkan ia mempunyai cinta yang dalam kepada Bunda Maria. Yang terakhir adalah devosi kepada Para Malaikat. Ini terlihat dari tulisan-tulisan utamanya yang berbicara tentang malaikat penjaga dan kesembilan malaikat Surga yang bernyanyi memuji Tuhan. Mata hati yang selalu tertuju pada hal-hal surgawi adalah bukti bahwa hidupnya terarah pada Sang Raja Abadi. Melihat hidup, Doa, karya, dan semua keutamaan yang dimilikinya, Aloysius menjalani hidupnya dalam kesucian. Oleh karena itu, ia diberi gelar Beato oleh Paulus V pada tanggal 19 Oktober 1605 dan dinyatakan sebagai Santo oleh Paus Benedictus XIII pada tanggal 31 desember 1726. Pesta Santo Aloysius dirayakan setiap tanggal 21 Juni.

 

 

Sumber : Gema ed. HUT ke 32 Paroki Aloysius Gonazaga-Cijantung

Klik disini untuk melanjutkan »»

Rabu, 06 Juli 2011

PAROKI CIJANTUNG ST. ALOYSIUS GONZAGA

. Rabu, 06 Juli 2011
0 Pendapatmu

Paroki Cijantung-DepanGedung Paroki St. Aloysius Gonzaga

 

PROFILE PAROKI
Buku Paroki :
Pada tanggal 21 Juni 1979 resmi menjadi paroki ke-32 di KAJ. Peletakan batu pertama pembangunan gedung gereja dilangsungkan tanggal 17 Februari 1980. Diberkati oleh Uskup Agung Leo Soekoto, SJ dan diresmikan pemakaiannya oleh Gubernur DKI Jakarta Letjen Purn. Tjokropranolo pada tanggal 23 November 1980.

Alamat Paroki :
Jl. Pendidikan III/2, Cijantung II, Jakarta Timur 13770
Telepon 8400465, 8408958


Pastor Paroki :
Agustinus Malo Bolu, CSsR

Statistik umat (per Agustus 2006)
Jumlah Wilayah      : 12
Jumlah Lingkungan : 43
Jumlah KK             : 1,910 KK
Jumlah umat          : 8,500 jiwa


Batas wilayah :
a. Sebelah utara berbatasan dengan Condet Batuampar, wilayah Paroki Cililitan
b. Sebelah barat berbatasan dengan sungai Ciliwung yang memisahkan paroki Cijantung dengan Paroki Jagakarsa.
c. Sebelah timur berbatasan dengan jalan tol Jagorawi yang memisahkan paroki Cijantung dengan paroki Kalvari (timur laut) dan paroki Cilangkap (timur)
d. Sebelah selatan berbatasan dengan propinsi Jawa Barat di mana paroki terdekat adalah Paroki St. Thomas, Kelapa Dua


UMAT PERDANA - Cikal bakal itu tumbuh dari komunitas tentara
Berdirinya paroki St. Aloysius Gonzaga Cijantung tidak terlepas dari peranan Pusat Rawatan Rohani Katolik TNI AD beserta keluarga Katolik baik sipil maupun militer yang berada di wilayah Cijantung. Selama belasan tahun mereka menghidupi kebutuhan rohaninya dengan berbagai kegiatan-kegiatan sekitar altar. Sejarah mencatat bahwa merekalah sesungguhnya penabur benih-benih sebagai cikal bakal umat di paroki ini. Bagaimana kisah ini berawal, berikut ini adalah penuturan beberapa saksi hidup yang mencoba meniti kembali perjalanan mereka.
Bermula dari adanya proyek pembangunan perumahan Angkatan Darat yang diberi nama Proyek Gatot Subroto. Proyek ini muncul sekitar tahun 1960-an, yang merupakan rencana yang sudah diatur oleh TNI khususnya Angkatan Darat. Saat itu sudah banyak perumahan TNI AD yang dibangun seperti komplek Rajawali, Gunung Sahari, Ksatrian dan Kota namun jumlahnya tidak memungkinkan lagi menampung anggotanya sehingga perlu dilakukan penambahan mengingat area yang ada sangat terbatas. Daerah Cijantung menjadi salah satu pilihan untuk mengembangkan proyek ini karena memiliki lahan yang sangat luas yang terbentang sepanjang komplek Cijantung I (RPKAD), Cijantung II (Komplek Perwira dan Komplek Sederhana). Bahkan di kemudian hari pembangunan perumahan ini mencapai tahap berikutnya hingga mencapai daerah Cijantung III (Komplek Yonkav 7), dan Cijantung IV (Komplek Hubad, Komplek Yonkav 1).


Adanya proyek ini menjadikan banyak perpindahan anggota tentara AD dari daerah Kota menuju Cijantung secara besar-besaran. Dalam proses pemindahan ini sangat dimungkinkan terdapat beberapa tentara yang beragama Katolik namun jumlahnya sangat sedikit. Tidak mudah menjumpai umat Katolik di sekitar wilayah Cijantung I dan II karena mereka tersebar ke berbagai komplek. Melalui beberapa perjumpaan dengan segelintir orang Katolik dan demi memenuhi kebutuhan rohani akhirnya diadakan pertemuan rutin yang dihadiri beberapa orang Katolik. Sejak itu terbentuklah sebuah komunitas orang Katolik TNI AD di Cijantung.
Adanya komunitas ini sangat membantu diantaranya mengatur keberangkatan anggota yang ingin pergi mengikuti misa hari Minggu ke paroki terdekat. Biasanya mereka mengikuti perayaan ekaristi di paroki Bidaracina (Polonia) atau malah di Gereja Katedral. Bagi anggota yang mempunyai kendaraan sendiri dapat membawa sebagian dari mereka untuk berangkat bersama-sama sementara bagi yang tidak mendapatkan fasilitas kendaraan maka komunitas ini yang berusaha meminjam kendaraan dinas. Pada masa itu di mana alat transportasi tidak mudah dijangkau, rasanya terlalu jauh dan amat sulit jika harus menghadiri misa hari Minggu tanpa memakai kendaraan.
Seiring dengan perjalanan waktu, perkembangan umat semakin lama semakin bertambah meski belum mencapai angka ratusan. Di antara mereka sudah saling mengenal satu dengan yang lainnya. Maka tidaklah mengherankan jika ikatan emosional di antara mereka sangat kental bagai keluarga sendiri.
Ada suatu pengharapan di dalam benak mereka seandainya mereka bisa mengadakan suatu misa di komplek mereka sehingga tidak perlu pusing-pusing lagi untuk mencari kendaraan pergi dan pulang antara Cijantung dan Bidaracina. Berawal dari pengharapan inilah akhirnya, demi menanggapi kebutuhan ini, mereka mencoba mewujudkannya dengan menghubungi bagian Pusat Rawatan Rohani (Pusroh) Katolik TNI AD yang berada di Jalan Gunung Sahari. Tujuannya sudah jelas yaitu agar diusahakan ada misa kudus di komplek Cijantung. Permintaan itu tidak serta merta langsung dikabulkan karena harus dikaji terlebih dahulu di antaranya adalah bahwa untuk menyelenggarakan suatu misa kudus umat yang terlibat paling sedikit harus 50 orang, sementara umat perdana di Cijantung hanya ada 12 keluarga. Maka demi mencukupi quota ini, beberapa aktivis, sebut saja salah satunya adalah Bapak FX Djokosoejono, berinisiatif mendatangkan beberapa anggota yang adalah para katekis militer dari komplek Jalan Gunung Sahari, komplek Rajawali, dan komplek Ksatrian untuk ikut serta dalam perayaan ekaristi tersebut.
Sejarah mencatat bahwa misa perdana bagi umat Cijantung terwujud pada tahun 1962. Pastor Ch. Widjajasuparto, Pr dari Pusroh Katolik AD yang mempersembahkan misa ini dan dihadiri oleh 12 KK ditambah beberapa orang katekis. Sejak saat itu, umat Cijantung bisa mengikuti perayaan ekaristi tanpa harus jauh-jauh pergi ke Paroki Bidaracina. Untuk selanjutnya penyelenggaraan misa ini hanya dilaksanakan sebulan sekali dengan tempat yang selalu berpindah-pindah dari rumah ke rumah mengingat jumlah mereka masih sedikit.
Dapat dibayangkan bahwa dalam setiap pertemuan yang sebulan sekali itu terbangun suasana yang lebih akrab dan hangat. Kadang-kadang selepas pertemuan itu masih dilanjutkan dengan acara yang lain, sebut saja misalnya permandian bayi, upacara perkawinan dan pelajaran agama. Walaupun pertemuan - pertemuan berjalan cukup panjang dan melelahkan, umat tetap semangat dan tidak merasa bosan.
Melihat antusias yang begitu besar, akhirnya Pusrohkat AD menunjuk Bapak FX Djokosoejono sebagai penanggungjawab komunitas di wilayah ini khususnya dalam hal penyelenggaraan misa. Tugas ini meliputi mencari pastor, menyiapkan tempat untuk misa hingga memobilisasi umat agar bisa datang menghadiri misa sebanyak-banyaknya.
Memasuki tahun 1964 umat Cijantung telah berjumlah 125 jiwa. Jumlah sebanyak ini rupanya sudah tidak mungkin lagi menyelenggarakan misa dari rumah ke rumah. Ketika jumlah umat semakin bertambah, maka kebutuhan tempat untuk berkumpul yang lebih memadai mulai dirasakan. Mulai saat itulah perayaan ekaristi dilaksanakan dengan berpindah-pindah dari satu gedung ke gedung yang lain. Sebut saja salah satunya adalah ruang kelas SD Persit KWK Cijantung II. Kemudian dari sini lalu pindah di ruang tunggu Poliklinik Kesdam V/Jaya Cijantung II. Di tempat ini diperlukan persiapan-persiapan yang cukup lama mulai dari mengepel lantai, mengubah ruang loket menjadi ruang pengakuan dosa dan mengatur bangku-bangku. Sementara itu pastor yang memimpin perayaan ekaristi masih didatangkan dari Jalan Gunung Sahari.
Dari poliklinik lalu kemudian pindah lagi ke ruang kantin RPKAD di Cijantung I. Di tempat ini segala kesibukan masih tetap sama, bahkan harus lebih cepat lagi mengingat seusai perayaan ekaristi segera disusul upacara kebaktian dari saudara-saudara yang beragama Kristen Protestan. Di tempat ini pula perayaan Natal dan Paskah serta upacara-upacara perkawinan pernah diadakan. Kemudian dari ruang kantin RPKAD pindah lagi ke koridor barak bujangan anggota RPKAD. Di kemudian hari misa itu berpindah ke salah satu ruang belajar prajurit di deretan kantor resimen.
Begitulah situasi yang terjadi saat itu. Kebutuhan tempat ibadat begitu sangat mendesak yang membuat para aktivis ini harus menyiapkan tempat yang cukup luas, mengubahnya menjadi altar lalu harus pula berpindah-pindah. Sungguh suatu perjuangan yang berat yang harus dilakoni sebagai konsekuensi logis terpenuhinya kebutuhan rohani demi berkembangnya iman umat.
Beberapa aktivis lain, antara lain Bpk. R.F. Soedirdjo merintis suatu wadah pendidikan tingkat SLTP pada tahun 1965 yang diberi nama SMP Gatot Soebroto. Sekolah ini menempati 4 buah gudang RPKAD di komplek Cijantung I. Sekolah yang dikelola bersama oleh Bapak M. Soemardi dan Bapak FX Djokosoejono ini mendatangkan guru pengajar dari para katekis militer yang berasal dari Gunung Sahari, Ksatrian-Bearland, dan Rajawali. Para katekis yang menjadi membantu mengajar itu antara lain Kapten YM Barus, Letnan F. Winardi, Letnan Sumasto, Letnan MYB Suyanto, Kapten RE. Soeharto dan Romo F. Salim. Usaha ini banyak dibantu oleh Letkol Sarwo Edhi Wibowo, komandan RPKAD waktu itu, dan Pusroh Katolik AD. Kontribusi yang tidak bisa dilupakan adalah sejak SMP ini berdiri pelaksanaan ibadat mempunyai tempatnya yang agak tetap dengan memakai salah satu ruang di sekolah ini. Perayaan ekaristi menjadi dua kali sebulan ditambah misa Jumat pertama pada sore hari. Pada tahun itu jumlah umat mencapai 200 jiwa. Pada perkembangan selanjutnya, sejak tahun ajaran 1972, SMP Gatot Soebroto ini dijadikan sekolah negeri dengan nama SMP Negeri 103 Jakarta
Dua tahun kemudian, tepatnya 1967 atas prakarsa kepala Pusrohkat AD, dalam hal ini Romo Letkol N. Pudjohandojo, Pr didirikanlah SMAK Ign. Slamet Riyadi (pernah diwartakan dalam iklan untuk pembukaannya di harian Kompas) sebagai kelanjutan jenjang pendidikan SMP yang telah dirintis sebelumnya. Prakarsa ini direstui oleh Uskup Agung Jakarta Mgr. A. Djajasepoetra, SJ. Sekolah ini menempati komplek yang sama dengan SMP Gatot Soebroto di komplek gudang RPKAD Cijantung I. Tempat ibadat dari SMP Gatot Subroto kemudian dipindahkan ke aula sekolah ini.
Pada akhir 1968 utusan umat Cijantung yaitu alm. Bapak Heribertus Slamet dan Bapak FX Djokosoejono datang menghadap Uskup Agung Mgr. Djajasepoetra di Klender untuk memohon agar Keuskupan Jakarta berkenan membangun kelas-kelas untuk belajar bagi siswa-siswi SMAK Ign. Slamet Riyadi di tanah hibah TNI AD ke Pusrohkat AD yang kini ditempati oleh Yayasan Ign. Slamet Riyadi. Permohonan yang disaksikan oleh Romo Looyman SJ itu dikabulkan dengan syarat akan dibangun tiga kelas dan sebuah aula yang harus dipakai untuk penyelenggaraan misa.
Tahun 1969 jumlah umat telah mencapai 300 jiwa. Perayaan ekaristi dan ibadat sabda masih tetap dilakukan dua kali dalam sebulan. Tempat ibadat akhirnya menggunakan aula SMAK Ign. Slamet Riyadi yang baru didirikan oleh keuskupan Jakarta. Dalam ibadat sabda umat dapat menyambut komuni kudus yang disiapkan dari Paroki Bidaracina.
Umat Cijantung terus berkembang baik dalam jumlah maupun partisipasinya. Awamlah yang senantiasa menggerakkan kehidupan menggereja ini. Ketika pelayanan pastoral menjadi sangat minim saat itu peranan awam justru menjadi ujung tombaknya. Memang hidup menggereja tidak hanya menjadi urusan kaum klerus tetapi juga awam. Dan ini sungguh terbukti di Cijantung yang berkembang melalui semangat menggereja kaum awamnya yang cukup konsisten dalam menanggapi kebutuhan rohani umat. Ini sejalan dengan apa yang disampaikan oleh Bapak Stepanus Mujilan, yang namanya mulai dikenal di KAJ ketika 1973 mengunjungi umat Cijantung untuk turut membangkitkan semangat partisipasi umat. Pada saat itu jumlah umat Cijantung telah mencapai lebih dari 500 jiwa.
MENYANDANG STATUS STASI Setelah 12 tahun perkembangannya
Sejak misa perdana diselenggarakan pada tahun 1962 yang dilaksanakan oleh Pusrohkat TNI AD kehidupan menggereja umat semakin lama semakin meningkat malah cenderung berkembang. Beberapa pelayanan pastoral selain misa juga diadakan seperti permandian bayi, pemberkatan perkawinan dan sebagainya. Namun karena Pusrohkat itu tidak memiliki kewenangan territorial di Keuskupan Agung Jakarta maka segala tanggung jawab administrasi umat menjadi kewenangan keuskupan. Untuk itu segala pelayanan pastoral yang terkait dengan administrasi diserahkan sepenuhnya kepada paroki terdekat yang waktu itu berada di paroki Santo Antonius Padua, Bidaracina. Maka sejak itulah Cijantung menjadi bagian dari wilayah Paroki Bidaracina dengan pelayanan pastoral sepenuhnya ditangani oleh Pusrohkat TNI AD.
Yang menjadi pertanyaan adalah apakah Cijantung waktu itu sudah pantas menyandang status stasi di bawah Paroki Bidaracina? Tidak ada catatan resmi mengenai hal ini namun dari beberapa nara sumber yang sudah digali termasuk dari saksi sejarah pendiri Paroki Cijantung, bahwa secara de facto sejak 1962 umat Cijantung sudah mandiri artinya umat Cijantung dapat tumbuh dengan tidak bergantung pada induknya yaitu Paroki Bidaracina malah dalam hal penyelenggaraan pelayanan pastoral, seperti misa, pelayanan sakramen, dan ibadat-ibadat lain mampu mengusahakan sendiri baik tempat maupun tenaga pelayannya secara mandiri. Selain masalah administrasi, Cijantung memang sudah terbiasa mandiri mengingat komunitas mereka adalah komunitas tentara di mana dari atasan hingga bawahan memiliki jalur perintah tersendiri yang tidak dimiliki umat lain. Maka ketika kebutuhan rohani muncul jalur yang ada berada di bawah pendampingan Pusrohkat TNI AD.
Menurut catatan sejarah paroki Bidaracina dalam buku sejarahnya yang berjudul “JALAN KITA” hal. 28 menyebutkan demikian : “…Dalam perjalanan hidupnya Paroki Bidaracina melahirkan Paroki baru yaitu : Paroki Cililitan (1968). Kemudian hari Paroki Cililitan melahirkan Paroki Cijantung (1979). Dahulu Cililitan dan Cijantung termasuk territorial Paroki Bidaracina…” Kalimat ini memang tidak menyebutkan secara eksplisit bahwa Cijantung pernah menjadi stasi Bidaracina namun hanya wilayah pelayanannya mencapai ujung selatan Bidaracina.
Dua tahun setelah Paroki St. Robertus Bellarminus, Cililitan berdiri atau tepatnya tahun 1970, Romo Rob Bakker SJ, pastor kepala paroki Cililitan, mempertimbangkan untuk memasukkan Cijantung menjadi salah satu stasinya karena secara territorial sangat berdekatan dengan Cililitan. Dan niat ini baru terwujud empat tahun kemudian. Maka sejak 1974 resmilah Cijantung sebagai stasi di paroki Cililitan. Ini berarti segala pelayanan pastoral ditangani langsung dari Paroki Cililitan. Jumlah umat pada waktu itu telah mencapai 375 jiwa.
Sejarah telah mencatat bahwa proses perkembangan umat Cijantung memiliki ciri khas tersendiri di mana kemandirian umat bukan atas pendampingan paroki induknya melainkan karena adanya komunitas tertentu yang didukung oleh institusinya dalam hal ini TNI AD. Maka sebenarnya ketika Paroki Cililitan baru berdiri umat Cijantung sudah mandiri dalam hal penyelenggaraan pelayanan pastoral yang didukung oleh Pusrohkat TNI AD.
Ada rentang waktu 6 tahun antara 1968 – 1974 setelah Paroki Cililitan berdiri, bahwa Cijantung masih menjadi bagian dari paroki Bidaracina. Apakah Cijantung dan Cililitan sudah menjadi stasi saat berada di wilayah Paroki Bidaracina atau memang baru 1974 itu Cijantung menjadi stasi ketika berada di paroki Cililitan? Berbagai sumber memberikan jawaban dengan pasti bahwa de jure Cijantung menjadi stasi di bawah Paroki Cililitan meski kenyataan sejarah mencatat bahwa kemandirian Cijantung sudah teruji sejak 1962 namun untuk menjadi sebuah stasi membutuhkan persiapan lain selain kemandirian yakni dukungan yang cukup intens dari pimpinan paroki Bidaracina.
Sejak resmi menjadi salah satu stasi Paroki Cililitan tugas penggembalaan umat ditangani oleh Pastor JB. Wiyana Haryadi, SJ dan kadang-kadang dibantu oleh para pastor militer. Tugas-tugas pastoral lebih ditingkatkan dan yang terpenting adalah adanya tempat ibadat yang layak dan tidak berpindah-pindah. Sarana yang dipakai adalah aula SMAK Ign. Slamet Riyadi yang dibangun di atas tanah Angkatan Darat oleh Keuskupan Agung Jakarta untuk menjadi tempat misa yang lebih luas dan menetap. Pengurus Dewan Stasi secara terus menerus menghimpun umat-umat di semua penjuru stasi tak terkecuali yang berada di luar komplek Cijantung yang wilayahnya meliputi Condet Balekambang (Utara), Gandaria (Selatan) hingga Cilangkap (Timur). Setiap penjuru stasi ditelusuri untuk mencari dan menemukan umat yang terpencil. Siapa yang menyangka bahwa jumlah umat ketika itu mencapai 729 jiwa yang terdiri dari : 184 orang tua; 91 dewasa; 438 anak-anak; 16 katekumen.
Dan demi memantapkan pembinaan umat maka dibentuklah lingkungan-lingkungan. Saat stasi, Cijantung sudah membentuk 7 lingkungan yang terdiri dari :
- Lingkungan Cijantung I
- Lingkungan Cijantung II (Sederhana)
- Lingkungan Kampung Susukan
- Lingkungan Ciracas
- Lingkungan Kampung Gedong
- Lingkungan Cibubur
- Lingkungan Munjul
- Lingkungan Gandaria
Empat tahun kemudian pada akhir tahun 1978 jumlah umat sudah mencapai 1.800 jiwa. Peningkatan jumlah umat ini selain karena permandian orang dewasa pada hari raya Paskah (tahun 1978 ada 27 orang baptisan dewasa) juga permandian bayi dan banyak pula kaum pendatang. Jumlah lingkungan telah dimekarkan menjadi 13 lingkungan karena memang perlu dimekarkan demi kebutuhan pelayanan umat
Tanggal 11 Februari 1979 Romo JB Wiyana Haryadi, SJ mengakhiri masa tugasnya di Cijantung. Beliau digantikan Romo JB Martosudjito, SJ yang sebelumnya bertugas di Paroki Pademangan. Selama 4 bulan pertama Romo Marto, demikian panggilan akrabnya, masih harus tinggal di Pastoran Cililitan karena belum ada rumah untuk pastor di Cijantung. Namun demikian, romo yang ditahbiskan di India ini bertugas sepenuhnya untuk Cijantung. Dengan cermat beliau melanjutkan usaha-usaha yang telah dirintis pendahulunya. Usaha menjadikan Cijantung sebagai paroki tersendiri sekaligus pembangunan sebuah gereja sebagai tempat ibadat yang tetap menjadi motivasi umat untuk terus membangun sikap mental berdikari, swadaya dan swasembada umat dituntut.
Setelah pastoran sementara selesai dibangun di komplek Ign. Slamet Riyadi, pada tanggal 20 Juni 1979 Romo Marto pindah dari pastoran Cililitan ke pastoran Cijantung.
Semenjak itu, misa harian mulai diadakan setiap pagi hari jam 05.45. Misa kudus hari Minggu menjadi tiga kali, yaitu pada hari Sabtu jam 18.00, hari Minggu jam 06.00 dan 08.00 di Aula Slamet Riyadi.
Sensus umat kembali digalakkan lagi untuk menggali sumber daya yang dimiliki umat Cijantung. Partisipasi umat lebih dibangkitkan antara lain dengan kewajiban menyerahkan iuran kartu merah.
PAROKI KE-32 ITU ADALAH CIJANTUNG
Setelah kurang lebih lima tahun berstatus stasi, tanggal 21 Juni 1979 Uskup Agung Mgr. Leo Soekoto, SJ akhirnya meresmikan stasi Cijantung menjadi paroki baru ke-32 di KAJ dengan nama Paroki St. Aloysius Gonzaga. Pastor Kepala Parokinya adalah Romo JB Martosudjito SJ. Jumlah umat saat Cijantung menjadi paroki mencapai 2,008 jiwa (385 KK) terbagi dalam 13 lingkungan.
Dengan menyandang predikat paroki ini, rencana baru muncul yaitu bagaimana membangun gedung gereja. Semangat yang menggebu-gebu ini ditandai dengan dibentuknya panitia persiapan pembangunan dengan dengan tugas menggalakkan usaha-usaha pencarian dana. Umat ikut berprihatin dalam keikutsertaannya membangun. Suasana pembangunan rumah ibadat benar-benar menjiwai setiap pertemuan dan pembicaraan umat di lingkungan-lingkungan.
Pada tanggal 17 Februari 1980 dimulai pembangunan gedung gereja yang ditandai peletakan batu pertama oleh Mgr. Leo Soekoto, SJ Uskup Agung Jakarta. Dalam rencana itu, sebuah komplek akan dibangun, di mana berdiri sebuah rumah ibadat, sebuah aula serbaguna dan gedung pastoran yang permanen. Pada tahap pertama dibangun gedung gereja dengan target waktu 8 bulan selesai. Dalam kotbahnya Mgr. Leo Soekoto menegaskan, “…kalau nanti gereja ini selesai dibangun, jangan sampai ada warga yang menyesal, karena untuk pembangunan gereja itu ia hanya menyumbang jauh di bawah kemampuannya; atau tidak menyumbang apa-apa, sebatang pakupun tidak; sebutir pasirpun tidak!...”
Kotbah ini cukup mengena. Semua warga bahu membahu sesuai dengan kemampuannya untuk mewujudkan berdirinya gedung gereja sesuai dengan targetnya. Mengenai target waktu pembangunan gereja ini, Romo Marto sempat mengingat kata-kata Uskup yang mengatakan demikian :
“…dalam satu tahun lagi, saya akan tertawa. Tertawa senang kalau gereja Cijantung sungguh-sungguh selesai dibangun, atau tertawa mengejek kalau pembangunan belum selesai seperti janjinya…“
Mendapat tantangan demikian, umat semakin bersemangat untuk segera menyelesaikan pembangunan gereja. Pencarian dana terus ditingkatkan antara lain dengan mengadakan “Malam Dana Pembangunan Gereja St. Aloysius Gonzaga” yang dilaksanakan pada tanggal 13 April 1980 di Flores Ballroom Hotel Borobudur Intercon-tinental. Dengan dibantu oleh Krisbiantoro sebagai MC, acara disemarakkan oleh para artis ibukota dan pagelaran sendratari dari padepokan Bagong Koesoediardjo.
Sementara untuk pembelian bangku-bangku gereja, sebagian dibantu oleh Bina Graha, khususnya melalui Sesdalobangnya waktu itu dipimpin Bapak Solihin GP. Pada akhirnya, walaupun ada perbedaan pendapat yang berujung pada pembubaran panitia pembangunan gereja/PGDP sebelum gereja itu selesai dibangun, semangat dan keinginan umat untuk memiliki gereja tetap berkobar dan kompak.
Delapan bulan setelah peletakan batu pertama atau tepatnya 23 November 1980, gedung gereja akhirnya diber-kati oleh Mgr. Leo Soekoto. Pada hari yang sama pula gedung gereja ini diresmikan oleh Gubernur DKI Jakarta, Bapak Tjokropranolo.
Di tengah semangat membangun yang terus menyala, 2,500 jiwa umat menyambut pemberkatan gedung gereja dengan penuh rasa syukur. Mereka kini telah memiliki gedung gereja yang cukup besar dan megah. Ketika Paroki Cijantung telah memiliki gedung gerejanya sendiri yang lebih permanen, wilayahnya telah tersebar cukup luas yang terbagi atas 4 wilayah dan 15 lingkungan yaitu :
Wilayah I :
Lingk. St. Yakobus Senior
Lingk. Sta Maria Dolorosa
Lingk. St. Yakobus Yunior
Wilayah II :
Lingk. Sta. Anna
Lingk. St. Yohannes
Lingk. St. Thomas
Lingk. St. Stanislaus Kotska
Wilayah III :
Lingk. St. Yohannes Berchmans
Lingk. St. Ignatius
Wilayah IV :
Lingk. Sta. Maria Ratu Rosario
Lingk. St. Carolus Borromeus
Lingk. St. Paulus
Lingk. Sta. Maria Asumpta
Lingk. St. Petrus
Lingk. St. Antonius
Pembangunan gedung gereja telah selesai namun langkah masih panjang karena masih ada 2 bangunan lagi yang harus berdiri yaitu gedung pastoran dan gedung serbaguna yang letaknya di kiri dan kanan gedung gereja. Maka tahun berikutnya mulailah memasuki tahap untuk membangun pastoran dan baru selesai pada bulan April 1982.
Mgr. Leo Soekoto sepertinya melihat bahwa tugas Romo Marto membangun paroki Cijantung sudah selesai dengan telah berdirinya 2 bangunan yaitu gereja dan pastoran. Pada tanggal 31 Juli 1982 Romo JB Martosoedjito, SJ harus mengakhiri masa tugasnya di Paroki Cijantung. Tiga tahun masa pengabdiannya dari menyiapkan paroki hingga membangun gereja benar-benar memiliki kesan yang sangat luar biasa bagi umat Cijantung. Mereka sepertinya tidak rela melepaskan Romo Marto dari Cijantung. Bagi sebagian umat yang merasa pernah berjuang bersama beliau dalam suka dan duka ini pasti akan menjadi kenangan tersendiri pada masa-masa 3 tahun pengabdian beliau.
Romo Marto digantikan oleh Romo Aloysius Soesiloharso Siswopranoto, SJ atau lebih dikenal dengan nama Romo Sis, yang sebelumnya berkarya di Paroki Pasar Minggu. Selain tugas penggembalaan umat, Romo Sis juga mengemban tugas khusus dari Uskup untuk membenahi persekolahan Ignatius Slamet Riyadi yang carut marut saat itu. Bagi Romo Sis Cijantung bukanlah daerah baru karena sejak tahun 1969 beliau pernah melayani umat di sini pada waktu menjadi pastor paroki di Bidaracina. Menurut catatan sejarah Paroki Bidaracina, Romo Sis bertugas di paroki tersebut pada tahun 1969 (Agustus?) setelah Romo Kijm, SJ pindah pada tanggal 24 Maret 1969.
Dalam melaksanakan tugas pastoralnya, beliau dibantu Romo F Mardi Prasetyo, SJ yang juga sempat membantu Romo Marto. Romo yang bertubuh kecil dan berambut keriting ini rupanya hanya sebentar berkarya di Cijantung. Pada tahun Januari 1984 beliau harus berangkat ke Roma untuk tugas studi di sana. Jadilah Romo Sis berjuang sendiri melayani umat Cijantung yang pada pertengahan 1983, jumlah umatnya telah mencapai sekitar 4,382 jiwa dan berkembang dalam 6 wilayah dan 23 lingkungan. Wilayah-wilayah dan lingkungan itu meliputi :
Wilayah I :
Lingk. St. Yakobus Senior
Lingk. Sta Maria Dolorosa
Lingk. St. Yakobus Yunior
Wilayah II :
Lingk. Sta. Anna
Lingk. St. Yohannes
Lingk. St. Thomas
Lingk. St. Stanislaus Kotska
Wilayah III :
Lingk. St. Theresia
Lingk. St. Mateus
Lingk. St. Markus
Lingk. St. Alfonsus
Wilayah IV :
Lingk. St. Petrus
Lingk. St Paulus
Lingk. St. Antonius
Lingk. St. Yaokim
Wilayah V :
Lingk. Sta. Maria Ratu Rosario
Lingk. Sta. Maria Asumpta
Lingk. St. Hieronimus
Lingk. St. Carolus Borromeus
Lingk. St. Agustinus
Wilayah VI :
Lingk. St. Ignatius
Lingk. St. Stephanus
Lingk. St. Yosef
Lima bulan berselang setelah kepindahan Romo Mardi, tepatnya tanggal 1 Juni 1984, hadir Romo Ign. Madya Utama, SJ untuk membantu tugas-tugas Romo Sis. Gagasan yang cukup menggemparkan dan ini menurut catatan beliau saat bertugas bersama dengan Romo Sis adalah mengembangkan kebijakan pastoran terbuka yang merupakan ide visitasi provinsilaat SJ di mana masa itu kecenderungan pastoran dan biara itu seperti rumah kaca, tak tersentuh oleh umat. Dengan lahirnya gagasan ini dan melihat keadaan umat Cijantung yang kebanyakan hidup dalam serba kekurangan, menjadikan pastoran seperti rumah mereka. Umat boleh masuk ke sana bahkan ke meja makan sekalipun.
Tanggal 8 Januari 1986 Romo Madya meninggalkan Cijantung untuk tugas belajar ke Philipina. Beruntung sebelum kepergian Romo Madya ini, pada bulan Nopember 1985, telah hadir di tengah-tengah umat Cijantung seorang Frater Senior yang turut membantu pelayanan pastoral yaitu Frater Emmanuel Widayat Tri Nugroho, Pr. Setelah membantu Romo Sis sekitar 9 bulan, tanggal 15 Agustus 1986 Fr. Widayat menerima tahbisan imamat dari Uskup Agung Jakarta. Kemudian beliau ditempatkan sebagai pastor pembantu di Paroki Cijantung tanpa masa adaptasi lagi.


MEMBANGUN SAMBIL BERBENAH DIRI
Membangun entah membangun fisik ataupun membangun umat menjadi pekerjaan rumah sebuah paroki baru. Kedua rencana ini harus berjalan beriringan sehingga ketika pembangunan fisik dijalankan, sikap mental umat juga disiapkan. Membangun fisik menjadi bagian yang tidak terpisahkan bagi Cijantung demi lancarnya pembangunan umat.
Ketika gedung gereja dan pastoran sudah berdiri, umat membutuhkan kenyamanan untuk mencapai komplek gereja. Ini tidak terkecuali membicarakan soal jalan. Pada saat itu, Jalan Pendidikan III yang merupakan akses satu-satunya menuju komplek gereja masih merupakan jalan tanah. Bila musim hujan tiba, kondisinya sangat becek dan membahayakan para pengguna jalan. Akhirnya disepakati bahwa paroki akan merenovasi jalan tersebut. Jalan sepanjang 250 meter dan lebar 4 meter itu kemudian diaspal mulus (hot mixed). Renovasi jalan itu cepat selesai berkat bantuan dari Yonzikon Zeni AD yang lokasinya berdampingan dengan komplek gereja. Pembangunan jalan ini juga merupakan wujud nyata pelayanan warga Paroki St. Aloysius Gonzaga, Cijantung kepada masyarakat sekitarnya, sekaligus untuk memperingati sewindu hari jadi paroki dan sebagai hadiah pesta perak imamat Romo Sis. Pada waktu peresmian jalan tersebut, Romo Sis menyerahkan hadiah pesta peraknya kepada masyarakat sekitar melalui Bapak Lurah Cijantung.
Tahun 1987 Romo Sis mengakhiri masa tugasnya di paroki Cijantung dan beliau dipindah ke Paroki Tanjung Priok. Penggantinya adalah Romo Alexius Widianto, Pr. Pada tahun itu pula menandai berakhirnya pelayanan imam-imam Jesuit di Cijantung dan hingga tahun 2005 penggembalaan umat diserahkan sepenuhnya kepada imam-imam dioses KAJ. Umat paroki Cijantung saat digembalakan oleh Romo Widi telah mencapai 5.524 jiwa. Romo yang sebelumnya bertugas di Pasar Minggu ini dalam tugas-tugas hariannya dibantu Romo YA Imam Subagyo, Pr yang menggantikan Romo Th. Widayat Trinugroho, Pr. karena harus pergi studi ke Roma.
Pertumbuhan jumlah umat yang bergerak cepat harus diimbangi dengan sarana-sarana fisik yang memadai. Muncul kembali kebutuhan umat untuk membangun gedung serbaguna paroki berlantai satu, yang akan dipakai untuk acara-acara pertemuan, pelajaran agama, kursus-kursus dan lain-lain. Dengan segera dibentuklah panitia pembangunan gedung paroki. Rencana semula gedung yang akan dibangun hanya berlantai satu, tetapi dalam pelaksanaannya berubah menjadi tiga lantai. Pembangunan itu menghabiskan dana yang tidak sedikit. Selain swadaya dari umat, pembangunan itu juga didukung oleh banyak pihak, termasuk bantuan dari Bina Graha. Fungsi utama pembangunan gedung serbaguna ini selain untuk tempat pertemuan-pertemuan, gedung yang cukup megah itu juga dipakai untuk melayani umat yang berkaitan dengan
administrasi serta seksi-seksi tingkat paroki.
Di tengah kesibukan membangun gedung paroki, hadir Frater Diakon Ferdinandus Kuswardianto, Pr. Seperti Romo Widayat, setelah Frater ini ditahbiskan menjadi imam, Romo Anto – demikian panggilannya – ditugaskan kembali di Paroki Cijantung. Pada saat yang hampir bersamaan hadir pula Romo Y Wiyanto Harjopranoto yang menggantikan Romo Imam yang pindah tugas ke Paroki Theresia.
Setelah gedung serba guna ini selesai dibangun, Romo Widi harus mengakhiri masa tugasnya di Paroki Cijantung pada tahun 1993 dan digantikan sementara oleh Romo C Hardosuyatno, MSF. Kemudian pada tahun 1994 Romo Anto juga harus pindah tugas menjadi pastor pamong di Seminari Menengah Wacana Bhakti, Pejaten. Beliau digantikan oleh Romo P Ekosusanto, Pr yang sebelumnya bertugas di Paroki Kelapa Gading.
Tidak lama kemudian Romo Hardosuyatno, MSF yang memang hanya menjadi pastor kepala paroki sementara akhirnya menerima tugas sebagai pastor Polri sepenuhnya. Tepatnya tanggal 1 September 1994 beliau digantikan Romo LBS Wiryowardoyo, Pr yang sebelumnya bertugas di Paroki Bojong Indah. Pada waktu yang berdekatan pula Romo Wiyanto ganti bertugas di Paroki Bojong Indah.
Tanggal 1 Maret 1996 Romo Eko meninggalkan Paroki Cijantung untuk tugas studi ke Philipina. Beliau digantikan Romo A Yus Noron, Pr yang sebelumnya bertugas di Paroki Jatibening. Romo Yus Noron, Pr inipun sewaktu masih menjadi frater pernah juga menjadi tenaga assistensi pastoral pada tahun 1982. Buat beliau Cijantung bukan hal yang baru karena di paroki inilah beliau pernah melayani. Kemudian pada bulan Februari 1997 Romo Frans Talinau Doy, Pr ikut memperkuat tugas penggembalaan di Paroki Cijantung.
Rotasi tugas para pastor ini boleh dibilang mengalami perputaran yang sangat cepat sehingga umat seperti kehilangan pola atau ciri penggembalaan pastornya karena dalam kurun waktu 10 tahun sudah 10 pastor yang keluar masuk mendampingi umat.


MENYIAPKAN SEBUAH PAROKI BARU
Di bawah Romo Wiryo selaku pastor kepala, pembinaan iman umat terus ditingkatkan. Selain itu, pada masa beliaulah pembangunan fisik sarana dan prasarana rumah ibadat direnovasi secara besar-besaran mulai dari merenovasi rumah pastoran hingga memperluas kapasitas gedung gereja dengan panti imam yang cukup artistik. Hal ini dirasakan amat mendesak mengingat sampai akhir tahun 1996 Paroki Cijantung telah memiliki jumlah umat di atas angka 10,000an jiwa yang terdiri dari 2.323 KK.
Jumlah umat yang demikian besar ini menjadikan gedung gereja tidak mampu lagi menampung umatnya. Harus disadari bahwa pertumbuhan umat yang demikian pesat ini dapat dikategorikan menjadi 3 bagian. Bagian pertama adalah baptisan baru yang terdiri dari baptisan bayi dan baptisan dewasa. Bagian kedua merupakan warga baru yang diterima dari gereja lain (Protestan). Bagian ketiga adalah warga Katolik baru yang pindah dari daerah lain.
Perpindahan umat ini dapat dilacak sejak tahun 1970-an di mana ketika perusahaan multinasional mulai diijinkan masuk ke Indonesia mereka banyak terdapat di wilayah Cijantung dan sekitarnya, para karyawannya banyak juga yang beragama Katolik. Maka secara administrative mereka masuk sebagai warga Paroki Cijantung. Cijantung yang pada mulanya adalah komunitas tentara yang tinggal di Komplek Cijantung I dan II. Hingga paruh kedua tahun 1990-an wilayahnya semakin luas, terdiri dari 3 kecamatan dan 16 kelurahan. Kini umat bukan hanya dari kalangan militer saja, tetapi sudah beragam profesi dan pekerjaan, status social, golongan dan lain-lain. Demikian besarnya hingga waktu itu, secara administrative Paroki Cijantung pernah memiliki 15 wilayah dan 49 lingkungan. Pesatnya pertumbuhan umat dan luasnya wilayah yang harus dilayani ini, membawa konsekuensi dan reksa pastoral khusus.
Pertama, timbul gagasan dari dewan paroki untuk memekarkan paroki ini dan membentuk paroki baru yaitu Paroki Cipayung. Gagasan ini mengemuka ketika Bapak Kardinal Yulius Darmaatmaja, SJ mengadakan kunjungan pastoral di paroki ini, sekaligus untuk memberkati altar baru pada tanggal 10 Mei 1997.
Pada prinsipnya Uskup Yulius Kardinal Darmaatmaja, SJ setuju tetapi dengan catatan agar persekutuan umat di wilayah Cilangkap diperkokoh dahulu dan jangan tergesa-gesa membangun gereja.
Pada tahun 1998 Paroki Cijantung yang telah berjumlah 10,825 jiwa merealisasikan pemekaran wilayahnya dan membentuk paroki baru yang bernama Paroki St. Yohannes Maria Vianney, Cilangkap dengan pastor kepalanya Romo Yohannes Maria Vianey Sudarmo O.Carm. Gugusan Paroki Cijantung yang menjadi Wilayah Paroki Cilangkap adalah meliputi Cilangkap, Cipayung, Ciracas, Kelapa Dua Wetan, Munjul, Pekayon, Pondok Ranggon, Cibubur dan Setu. Embrio umat basis Paroki Santo Yohanes Maria Vianney Cilangkap berawal dari 2 gugusan komunitas basis Paroki Santo Robertus Bellarminus Cilitan dari satu sisi dan gugusan umat basis Paroki Santo Aloysius Gonzaga Cijantung di sisi lain. Jumlah umat Cijantung yang pindah ada sekitar 34% sehingga umat Paroki Cijantung menjadi 7,157 jiwa.
Ada catatan tersendiri mengenai masalah batas wilayah ini yaitu ketika bergabungnya lingkungan St. Carolus Borromeus ke Paroki St. Thomas Kelapa Dua. Banyak warga lingkungan ini tinggal di wilayah yang melintasi tapal batas Jakarta – Jawa Barat. Menurut administrasi paroki, lingkungan ini menjadi bagian dari wilayah paroki Cijantung, namun sejak pemekaran ini, lingkungan St. Carolus yang seharusnya bergabung ke dalam wilayah Paroki Cilangkap, akhirnya memutuskan untuk menyatukan diri dengan Paroki Kelapa Dua yang berada di bawah Ordinaris Keuskupan Bogor. Paroki Cijantung tidak mungkin melupakan kontribusi lingkungan yang satu ini setidaknya tetap tercatat dalam sejarah paroki bahwa dahulu mereka pernah menyatu dan membangun paroki bersama dengan lingkungan-lingkungan yang lain.
Ketika lingkungan ini berdiri, luas wilayahnya memang melintasi batas antar Ordinaris baik Bogor maupun Jakarta. Saat itu Paroki St. Thomas belum berdiri dan paroki terdekat hanya Cijantung. Pemekaran lingkungan yang terus berlangsung saat di paroki Cijantung, menyisakan umat yang berdomisili di wilayah tapal batas Bogor. Maka sah-sah saja jika mereka punya keinginan untuk masuk ke Paroki St. Thomas, keuskupan Bogor yang baru resmi berdiri tahun 1991.
Kedua, pertumbuhan umat yang pesat membutuhkan sarana-sarana fisik yang memadai. Untuk itu perlu dilakukan renovasi beberapa bangunan yang ada. Yang perlu dibenahi dulu adalah pastoran. Gedung pastoran ditata sedemikian rupa dan diberi AC. Lalu pada saat itu juga dibangun menara lonceng yang berdiri megah. Ruangan sakristi yang semula terletak di belakang altar, dipindah ke samping gereja dan membentuk bangunan tersendiri berlantai dua. Biaya renovasi ini diperoleh dari kolekte umat setiap Minggu, bantuan dari para pejabat sipil/militer dan pinjaman dari bank.
Pertumbuhan umat yang pesat berdampak tidak tertampungnya umat di gedung gereja pada saat mengikuti misa. Tak jarang terpaksa umat harus berdiri di halaman depan gereja. Hal ini sangat terasa pada saat misa Minggu pagi jam 08.00. Karena itu gedung gereja juga perlu dipugar. Gedung lama dipugar dan diperluas ke belakang, sementara bagian samping bersatu atap dengan gedung paroki dan pastoran. Untuk menyesuaikan, altar lama kemudian diganti dengan altar baru. Setelah selesai, rencananya bagian depan gereja akan diperluas dan dimajukan lagi. Sambil menunggu realisasinya, kemudian dibangun Gua Maria yang cukup besar di depan gedung paroki agar umat dapat berdevosi kepada Bunda Maria dengan lebih khusuk. Agar umat merasa lebih tenang beribadah, pagar di depan gereja dipugar dan diganti dengan pagar baru yang lebih kokoh dan tinggi. Telah banyak yang dibenahi dan tetap dituntut partisipasi yang lebih besar dari umat.
Pembangunan sarana fisik harus diimbangi dengan pembangunan hidup rohani umat. Justru yang kedua ini yang lebih penting. Agar hidup rohani iman jemaat semakin bertumbuh, gereja menyediakan banyak sarana pelayanan yaitu seksi-seksi dan organisasi paroki. Inilah focus penggembalaan Romo Wiryo selaku pastor kepala paroki Cijantung.
Pada tahun 1999, Romo Wiryo harus pindah tugas setelah 5 tahun membangun Cijantung menuju Paroki Pulo Gebang. Beliau digantikan oleh Romo Yus Noron yang saat itu menjadi pastor pembantu di Cijantung.
Romo Yus melanjutkan program kerja yang telah dicanangkan oleh pendahulunya. Tidak banyak yang pembangunan fisik yang dilakukan pada masanya karena memang sudah dituntaskan oleh Romo Wiryo.
Pada bulan Nopember 2001, Romo Yus pindah tugas ke Paroki Kelapa Gading. Beliau digantikan oleh Romo Jakobus Tarigan. Romo Jack, demikian panggilannya dibantu oleh Romo Rochadi sebagai pastor pembantu.
Semasa Romo Jack inilah kehidupan liturgi umat mengalami masa-masa dinamikanya yang cukup mencolok. Kekeliruan cara beribadat umat dibenahinya sehingga secara sontak umat seperti dikagetkan oleh aturan-aturan liturgis yang berlaku. Selain itu kedisplinan umat benar-benar disentilnya habis. Tidak jarang Romo Jack harus turun dari panti imam untuk memberi peringatan kepada umat agar mengikuti misa dengan baik. Dan tidak jarang pula beliau mengulangi misa jika umat tidak siap memulainya.
Luar biasa yang dilakukan oleh Romo Jack ini sehingga umat mau tidak mau mengikuti aturannya. Timbul pro dan kontra itu sudah menjadi resiko yang harus dialami jika ingin kehidupan liturgi umat menjadi baik, demikian kilahnya
Salah satu perkembangan terbaru di Paroki Cijantung pada masa beliau adalah selesainya renovasi Kapel St. Yakobus di Wilayah I dan diresmikan penggunaannya kembali pada tanggal 28 Maret 2004. Kapel milik Kopassus inipun diubah namanya menjadi St. Valentino dan sudah tidak disebut kapel lagi melainkan gereja.
Romo Jack mengakhiri tugasnya di Cijantung pada bulan Agustus 2005 dan beliau diganti oleh Romo Maximus Woga, CSsR. Bersama Romo Maxi ini, tugas-tugas pastoral dijalani bersama dengan Romo V. Adi Prasojo, Pr. Romo Adipun tidak lama bertugas di Cijantung karena pada September 2006, beliau digantikan oleh Romo Harry Liong yang semula bertugas di Paroki Ignatius Jalan Malang.
Cukup panjang perjalanan paroki Cijantung sejak cikal bakal itu tumbuh tahun 1962. Dari sebuah komunitas tentara yang berjumlah 12 KK itu mampu hidup, tumbuh dan berkembang menjadi sebuah paroki yang cukup besar perkembangan umatnya. Semula hanya satu profesi saja tetapi sekarang berbagai profesi tumbuh bersama, hidup dan berkembang, mewarnai keaneka ragaman paroki ini hingga saat ini. Sungguh Roh Kudus benar-benar bekerja mendampingi mereka melalui pelayanan beberapa orang, kesungguhan Pusrohkat AD dan tentunya kegigihan mereka untuk tetap hidup dan menghidupi kebutuhan rohani mereka. Kita patut mengimani karya Roh Kudus ini dan mengamininya. Andai semuanya itu tidak pernah terjadi, Paroki Cijantung mungkin tidak pernah ada.


PERKEMBANGAN PAROKI CIJANTUNG
Buku induk paroki Cijantung telah ada dan mulai melakukan pencatatan atas baptisan pertama kali pada tanggal 16 Desember 1973. Ini berarti ketika Cijantung belum menjadi stasi, buku induk itu sudah mulai dipersiapkan. Pada tahun-tahun sebelum tanggal itu, pencatatan atas baptisan umat Cijantung dimuat dalam buku induk Paroki Bidaracina. Sebenarnya tidak hanya catatan pembaptisan umat saja yang tercantum dalam buku induk paroki Bidaracina tetapi juga perkawinan yang dilangsungkan pada masa-masa tahun 1962 hingga awal 1973. Melihat catatan buku induk paroki yang dimulai tahun 1973, maka kecil kemungkinan ada pembaptisan atau perkawinan warga yang dilangsungkan di Cijantung dan dicatat dalam buku induk paroki Cililitan.
Dalam buku induk Paroki Cijantung akan kita temukan bahwa pembaptisan bayi pertama sebelum Cijantung menjadi stasi adalah Vincentius Galih Siswanto yang lahir pada tanggal 16 April 1973. Bayi dari pasangan Yohannes Berchmans Subangun dengan Christina Maria Sri Rahayu dari Lingkungan St. Anna ini dibaptis oleh Romo Wiyana Haryadi, SJ pada tanggal 16 Desember 1973. Pada bulan dan tahun yang sama atau tepatnya tanggal 24 Desember 1973 (malam Natal) telah dicatat pula pembaptisan dewasa atas nama Stephanus Sunardji. Pembaptisan itu dilakukan juga oleh Romo Wiyana Haryadi, SJ.
Itu adalah sekelumit catatan-catatan kecil yang menjadi sejarah di paroki ini. Masih banyak catatan-catatan lain namun dalam hal perkembangan umat, di bawah ini kami sajikan statistik perkembangan umat dari tahun ke tahun.


GERAK DAN LANGKAH UMAT
Sejak perintisannya dari tahun 1962 hingga saat ini, kesadaran umat dalam hal pembinaan iman/rohani terus digalakkan dengan penuh semangat dan berkesinambungan. Umat Cijantung patut berbangga hati karena sejak awal beih-benih iman itu tumbuh tidak kurang dari 78 orang imam pernah mendampingi kehidupan rohani umat. Berbagai seksi dan organisasi kategorial pernah hadir memberikan kontribusinya bagi pengembangan iman umat. Seksi atau organisasi yang ada yaitu Liturgi, Sosial, Pewartaan, PA/PBM, WKRI, Legio Maria, Warakawuri, ME, Mudika, GSM, Svara Gonzaga, PDKK, dsb adalah merupakan bentuk kesadaran umat untuk mau berkembang. PS Aloysius Gonzaga Voices, misalnya, lahir karena adanya kesamaan minat dalam paduan suara saat lomba paduan suara se-dekenat timur ybl, atau GIM (Gerakan Imam Maria) yang tercetus karena adanya ikatan emosional kaum orangtua seminari, dan sebagainya. Itu semua muncul karena memang umat punya kesadaran yang cukup tinggi untuk mengembangkan imannya. Namun di lain pihak ada juga yang pernah tumbuh dan akhirnya lekang dimakan waktu, sebut saja Antiokhia dan Choice yang sempat menjadi salah satu organisasi kategorial yang cukup dikenal orang muda saat itu kini sudah tidak muncul lagi. Patah tumbuh hilang berganti, begitulah dinamika umat Cijantung dalam usaha mengembangkan perwujudan imannya.
Banyaknya kegiatan umat ini patut dibanggakan namun sekaligus kerja keras bagi para imam untuk tetap mendampingi mereka agar tidak salah dalam melangkah.

 

 

Sumber : parokicijantung.blogspot.com

Klik disini untuk melanjutkan »»

Selasa, 28 Juni 2011

KEINDAHAN PULAU TIDUNG

. Selasa, 28 Juni 2011
0 Pendapatmu

Tidung merupakan salah satu pulau yang termasuk dalam gugusan Kepulauan Seribu. Pulau ini masih dalam wilayah DKI Jakarta dan dapat menjadi salah satu alternatif tujuan pantai selain pantai Ancol. Pulau Tidung sendiri sebenarnya terdiri dari 2 pulau, yaitu Pulau Tidung Besar dan Pulau Tidung Kecil. Pulau Tidung Besar merupakan salah satu pulau terbesar diantara pulau-pulau lain di kepulauan seribu. Sedangkan Pulau Tidung Kecil tidak berpenghuni.

Pulau ini semakin ramai menarik wisatawan karena daya tarik pulau ini yang kian tersebar. Pulau Tidung memiliki hamparan pasir putih yang membuat pantainya menjadi cantik. Air laut kebiruan yang jernih memungkinkan para wisatawan untuk melihat lebih jauh ke dasar air yang terdapat ikan-ikan cantik atau terumbu karang.

Transportasi ke Pulau Tidung

Transportasi ke pulau tidung 

Biaya angkutan ke pulau tidung

Waktu tempuh mencapai Pulau Tidung tidak terlalu lama. Dengan menggunakan kapal dari Muara Angke, Jakarta, waktu yang diperlukan sekitar 2-3 jam. Jadwal kapal menuju Pulau Tidung sekitar pukul 07.00 WIB, jadi jangan sampai terlambat agar Anda tidak ditinggal. Karena perjalanan melalui air, maka Anda tidak akan dibosankan oleh kemacetan yang biasa terjadi di jalan-jalan darat menuju tempat wisata yang biasa terjadi pada musim liburan. Selain itu, untuk menikmati semua keindahan ini, biaya yang diperlukan tidak terlalu besar sehingga tidak perlu menabung lama untuk berkunjung ke Pulau Tidung. Biaya naik perahu menuju Pulau Tidung sebesar Rp 33.000,- per orang.

Cara lain menuju Tidung adalah menggunakan jasa wisata yang ditawarkan. Biasanya kapal akan berangkat dari Ancol dan menggunakan kapal boat khusus. Dan tentunya harga yang ditawarkan lebih mahal dibanding menggunakan perahu.

Jembatan Cinta

Jembatan CintaPulau Tidung Besar dan Pulau Tidung Kecil dihubungkan oleh jembatan yang menjadi ciri khas dari pulau ini. Jembatan yang dikenal dengan nama Jembatan Cinta ini menjadi salah satu tempat yang biasa dikunjungi bagi para wisatawan. Panjang jembatan ini kira-kira 800 meter. Dari jembatan yang terbuat dari kayu ini, wisatawan dapat melihat pemandangan di dalam air laut seperti terumbu karang dan ikan-ikan yang lincah berenang pada sisi-sisi jembatan. Saat pagi atau sore hari, jembatan ini menjadi tempat yang romantis untuk melihat matahari terbit atau terbenam. Anda juga dapat menguji keberanian dengan melompat ke dalam laut dari Jembatan Cinta yang tingginya sekitar 10 meter. Aktivitas yang biasa dilakukan para pengunjung Pulau Tidung.

Fasilitas Pulau Tidung

Berbagai kegiatan yang dapat dilakukan di Pulau Tidung antara lain bersepeda mengelilingi pulau, pantai atau menyusuri Jembatan Cinta. Sepeda yang disewakan dengan harga Rp 15.000,- per hari memungkinkan Anda berpuas-puas mengelilingi pulau ini. Tidak ada mobil di pulau ini sehingga jalan-jalan yang ada diantara rumah-rumah penduduk bukanlah jalan yang lebar. Rumah-rumah sederhana milik penduduk, tanaman-tanaman yang ada di depan rumah, tumbuhan rimbun di sisi jalan dan pohon kelapa di sekitar pantai menciptakan suasana berbeda dari perkotaan. Aktivitas yang menyenangkan sekaligus sebagai sarana membugarkan tubuh yang letih.

Snorkel Pulau Tidung Snorkeling merupakan kegiatan yang tepat dilakukan di pantai Tidung. Airnya yang jernih membuat kita dapat melihat aneka makhluk hidup yang ada di bawah air beserat terumbu karang yang ada. Jika tidak membawa peralatan snorkeling, Anda dapat menyewanya dengan harga Rp 35.000,-. Untuk menikmati pemandangan yang lebih indah, Anda dapat menyewa perahu agar dapat mencapai beberapa spot bawah laut yang indah.

 Banana_Boat Banana Boat dan kano merupakan permainan air yang dapat dicoba di sekitar pantai Pulau Tidung. Berenang di dekat pantai dengan anak-anak akan membuat anak-anak menikmati rekreasinya. Pantai yang dangkal dan airnya yang bersih layak menjadi tempat main untuk anak.  Setelah puas bermain di pantai, segarkan diri Anda dengan menikmati kelapa muda di pinggir pantai. Untuk mengisi perut yang lapar, ada warung-warung nasi yang dimiliki penduduk pulau ini. Anda dapat berinteraksi dengan para penduduk yang ramah. Penduduk tidak bersifat komersial, sehingga harga makanan dan minuman tidak dipatok dengan harga yang tinggi. Anda masih bisa mendapatkan seporsi makanan dengan harga Rp 10.000,-.

Jika Anda memutuskan untuk menginap di pulau ini, jangan lewatkan kesempatan untuk BBQ di pinggir pantai. Menikmati ikan bakar dan makanan laut lainnya sambil ditiup udara malam pantai yang sejuk dan debur ombak pasti akan membuat selera makan bertambah.

Penginapan di Pulau Tidung

Penginapan

Tempat penginapan di pulau ini bukanlah resor atau hotel mewah. Para pengunjung pulau ini dapat menginap secara homestay. Rumah-rumah penduduk disewakan untuk para wisatawan yang ingin menikmati pulau ini. Anda dapat memilih apakah ingin menginap di kamar dengan AC atau tanpa AC. Walau tidak semewah hotel atau resor, penginapan di Pulau Tidung cukup bersih dan yang pasti harganya tidak memberatkan kantong. Bagi para backpakers atau yang ingin mencoba alternatif lain, Anda dapat berkemah di pinggir pantai untuk bermalam.

Pemandangan pantai dan laut yang akan Anda dapatkan di Pulau Tidung tidak kalah dengan pantai lain yang terkenal. Untuk menuju pulau ini juga tidak diperlukan biaya yang terlalu besar. Banyak paket wisata yang manawarkan wisata ke pulau ini dengan biaya sekitar Rp 300.000,- yang sudah mencakup biaya transportasi, makan dan penginapan. Maka, jika Anda ingin berekreasi tanpa harus dipusingkan oleh biaya, Pulau Tidung menjadi salah satu tujuan wisata Jakarta yang menarik dikunjungi.

 

Sumber : kumpulan.info

Klik disini untuk melanjutkan »»

Rabu, 22 Juni 2011

PENGETAHUAN MENGENDARAI SEPEDA MOTOR

. Rabu, 22 Juni 2011
0 Pendapatmu

Utamakan selamat

Seperti yang telah kita ketahui bahwa pengendara sepeda motor mempunyai resiko kecelakaan lebih tinggi dimana faktor tsb dikarenakan si pengendara belum begitu memahami tehnik mengendarai & mengontrol kendaraan di jalan raya.

 

Untuk menjadi seorang pengendara motor yang baik / defensif, diperlukan 3 kemampuan dasar :

1. Kemampuan / pengetahuan untuk mengkontrol dan menguasai motor.

2. Kemampuan / pengetahuan mental untuk mengenali potensial bahaya yang muncul  dijalan raya.

3. Kemampuan / pengetahuan untuk menguasai diri – kontrol emosi.

 

 

1. KEMAMPUAN / PENGETAHUAN UNTUK MENGKONTROL DAN MENGUASAI MOTOR

A.Sebelum mengendarai motor

Sebaiknya lakukan pemeriksaan sebagai berikut :

-> Pada kendaraan :

    - Adakah kebocoran / tetesan cairan dari motor anda

    - Kondisi ban, rem

    - Fungsi indikator bahan bakar

    - Lampu-lampu ( Lampu Utama, Rem, Sein )

    - Perlengkapan standar kendaraan bermotor ( Kunci busi , spion&obeng )

-> Pada diri anda sendiri ( pengendara ) :

    - Segala sesuatu yang mempengaruhi pengendara maka akan mempengaruhi cara berkendara ( Alkohol, obat-obatan, dll ).

     - Kondisi kejiwaan /emosi ( marah, segala sesuatu yang membebani pikiran, dll ).

-> Pada apa yang anda kenakan :

    - Hal ini tidak selalu mencegah terjadinya luka / cedera, namun yang pasti akan mengurangi cedera yang lebih parah.

-> Pada helm yang pengendara kenakan :

    Untuk keamanan dalam meredamkan benturan, sebuah helm biasanya mempunyai umur pakai 1-5 tahun, tergantung dari pemakaiannya. Helm hanya didesain untuk satu kali meredam benturan atau satu kali jatuh. Oleh karena itu, apabila anda berniat membeli helm lebih baik membeli yang baru, karena anda tidak mengetahui latar belakang helm bekas pakai ( second hand ).

pic-1.1

B. Mengontrol sepeda motor

-> Posisi tubuh yang benar

pic-3.1

  Diharapkan akan meningkatkan kontrol terhadap kendaraan dan memberikan kenyamanan serta mengurangi rasa lelah dalam berkendara. Kaki di foot step, lutut merapat ke tangki, punggung sebisa mungkin tegak, legan&bahu relax, siku membentuk sudut dan pergelangan tangan menghadap kebawah.

 

 -> Periksa keadaan sekitar melalui kaca spion dan pergerakan kepala :

pic-3.2

   Untuk memastikan kondisi sekitar, terutama bagian belakang dan samping motor, pengendara harus melakukan pengecekan melalui kaca spion. Dan untuk memastikan keadaan yang sebenarnya, pengendara harus melakukan pergerakan kepala terutama bagian yang tidak terlihat melalui kaca spion atau yang biasa disebut blind spot. Hal tsb akan sangat bermanfaat, sebisa mungkin jadikan sebagian kebiasaan sehari-hari dalam berkendara.

-> Pergerakan kepala dan penempatan mata :

pic-3.3

   Hal ini penting karena mata mempunyai hubungan langsung dengan arah kendaraan. Jangan terfokus pada satu objek yang seharusnya anda hindari, tetapi arahkan pandangan mata pada bidang / arah yang anda kehendaki.

 

-> Tikungan

   

pic-3.4

 

   Ketika sedang melintasi tikungan, tubuh pengendara condong sesuai dengan arah tikungan, dengan kepala tegak dan mata memandang ke jalan untuk memastikan jalur setelah tikungan.

   - Pengereman pada kecepatan rendah ( Dibawah 10 km/ jam ) :

   - Jalankan kendaraan, sebelum melakukan pengereman pada roda depan pastikan arah.

   - Roda depan dalam keadaan lurus.

   - Jalankan kendaraan secara perlahan jaga agar gas sedikit diatas putaran idle/langsam, gunakan rem roda belakang hanya untuk mengurangi kecepatan dan gunakan kopling untuk mencegah mesin mati.

 

-> Menikung pada kecepatan rendah :

   - Pada saat menikung, semakin perlahan anda mengendarai motor, semakin berat beban motor yang anda tanggung. Oleh karena itu, anda harus mewaspadai tikungan yang akan anda lalui dan arahkan pandangan anda ke jalur / arah yang anda tuju.

 

C. Mengkontrol kendaraan pada kecepatan lebih tinggi

-> Mengubah arah kendaraan – berkelit / menghindar

pic-5.1

 

    - Lihat kearah mana anda menuju.

    - Secara gradual tekan kemudi kesisi mana anda akan mengarahkan kendaraan anda, tekan kemudi kesisi kanan bila akan belok kanan, tekan sisi kiri bila akan belok kiri.

Hal tersebut akan membuat kemudi tidak berfungsi sementara waktu, tapi usahakan bersandar kearah yang anda tuju. Setelah bahaya terlampaui, kurangi tekanan dan luruskan kemudi.

 

-> Pengereman

   - Menggunakan kedua rem ( Depan dan belakang ) secara bersamaan akan menhentikan kendaraan dalam jarak yang paling pendek.

   - Pengereman yang baik ada 2 bagian yaitu set-up dan squeeze

  

* Set-up berarti melakukan persiapan melakukan pengereman depan dan belakang hanya sampai rem mulai bekerja.

Pada tahap ini dipersiapkan kewaspadaan anda dan persiapan kendaraan

anda untuk melakukan pengeraman, serta :

        a. Mengaktifkan fungsi rem dan system suspensi

        b. Berpindah beban motor di roda depan, yang membutuhkan lebih banyak traksi.

       c. Informasi / peringatan pada pengendara dibelakang anda karena lampu rem menyala.

Kemudian lakukan pengereman secara squeeze hingga kendaraan berhenti. Set-up dan squeeze membutuhkan latihan untuk dapat jadi kebiasaan.

 

   - Permukaan jalan yang tidak bagus ( basah atau gravel )

Lakukan squeeze secara mantap dan persiapkan jarak pengereman yang lebih panjang. Pada kondisi jalan yang basah, lakukan persiapan / set-up lebih awal untuk mengeringkan rem agar berfungsi secara maksimal.

Skiding melakukan pengereman dengan rem depan saja atau rem belakang saja dalam keadaan darurat dibandingkan dengan set-up dan squeeze dapat menyebabkan tergelincir.

Apa yang anda akan lakukan bila :

   - Roda belakang tergelincir, arahkan sesuai tujuan apabila keluar jalur, kemudian kurangi tekanan rem dan lakukan pengereman dengan lebih berhati-hati

   - Bila roda depan tergelincir, segera hentikan pengereman baru kemudian lakukan pengereman secara lebih berhati-hati.

 

Tikungan lakukan pengereman sebelum memasuki tikungan. Karena atraksi yang ada digunakan untuk menikung dan tidak mencukupi bila digunakan untuk pengereman.

 

Apabila anda harus melakukan pengereman pada saat tikungan, lakukan pengereman setelah sedapat mungkin menegakkan motor dan meluruskan kemudi.

pic-6.1

 

2. KEMAMPUAN MENTAL UNTUK MENGENALI POTENSIAL BAHAYA

   Untuk menjaga pengendara handal / baik dituntut untuk mempunyai mental yang berkesinambungan. Agar supaya dapat mencegah kemungkinan buruk (bahaya).

 

A. Survival space (jarak mengikuti yang aman)

     Pengendara motor diharuskan membiasakan untuk melihat kedepan dan dimana saat melakukan pengereman / perlambatan dan bergerak maju.

Sebagai pedoman yang baik dan aman diperlukan tiga detik untuk jarak dengan kendaraan didepan.

 

pic-8.1

“Survival space” memberikan reaksi untuk berhenti dan menghindar dari bahaya.

 

B. Cara menghitung jarak mengikuti yang aman

   Cara mengukur jarak yang aman untuk mengikuti kendaraan didepan, dengan menghitung “one thousand and one, one thousand and two and three “ pada obyek statis / benda mati seperti tiang listrik, tiang lampu, pal kilometer, dll.

 

C. Dalam kondisi jalan yang basah atau tanah – gravel

    Pada kondisi jalan yang basah atau berupa hamparan tanah – gravel, dibutuhkan paling tidak beberapa detik bahkan mungkin lebih. Namun lebih aman bila menyediakan jarak 5 atau 6 detik.

pic-9.1

D. Menjaga jarak yang aman

Seperti contoh berikut ini :

-> Jalan 2 arah

pic-10.1

Pengendara menghindar dari kemungkinan timbulnya bahaya. Kendaraan dari depan.

 

-> Pejalan kaki dan mobil parkir disisi jalan

pic-11.1

Pengendara bersiap untuk mengerem dan menghindar dari kemungkinan timbulnya bahaya, terutama pada antara mobil-mobil yang sedang parkir.

 

-> Persimpangan jalan

pic-12.1

Mengambil lajur yang aman, dimana persimpangan ( pertigaan-perempatan ) berada didepan kita. Pengendara bersiap mengerem / perlambatan dan menghindar dari kemungkinan timbunya bahaya.

 

-> Jarak mengikuti

pic-13.1

Pada kondisi jalan yang kering, jarak mengikuti yang aman 3 detik. Pada kondisi jalan basah, jarak mengikuti yang aman minimal 4 detik (5 atau 6)

 

-> Blind Spot

pic-14.1

Bilamana anda didalam situasi yang membahayakan, maka secepatnya pengendara melakukan perlambatan agar tidak terjadi kecelakaan.

 

-> Tikungan kekiri

pic-15.1

Melakukan perlambatan / mengurangi kecepatan sebelum tikungan dengan melakukan pengereman dan memindahkan gigi yang tepat ( rendah ). Maksimalkan pandangan anda kedepan untuk melindungi dengan jarak yang aman, yaitu minimal 3 detik untuk keluar dari tikungan.

 

-> Tikungan kekanan

pic-16.1

Pada tikungan ini prinsipnya sama dengan tikungan kekiri

 

3. KEMAMPUAN / PENGETAHUAN UNTUK MENGUASAI DIRI – KONTROL EMOSI

     Dari sebagian banyak pengendara motor, mengendarai motor tidak hanya sebagai sarana transportasi atau merasa “ fun and freedom “. Kemungkinan sesuatu yang paling susah didalam mengendarai motor adalah mempunyai pikiran “ self control “ untuk menjaga dari perasaan “ fun and freedom “. Pengendara yang mempunyai perasaaan “ fun and freedom “ akan menambah batas ( limit ) dalam meningkatkan resiko ( high risk ) Apapun resiko yang dialami oleh pengendara motor didalam situasi bahaya, semuanya tergantung pada keberuntungan ( luck ) daripada pengendara tersebut untuk keluar dari kecelakaan.

pic-17.1 

Oleh karena itu itu untuk membantu kita dari hal-hal yang buruk dengan melihat dari cara kita mengendarai motor dan mengembangkan / merubah sikap atau cara berpikir. Daripada kita menyalahkan pengendara lain, marilah memulai berpikir apa yang sudah kita lakukan dan selalu mengkontrol keselamatan kita, bagaimana kita menjaga jarak aman “ survival space “. Lalu belajar dari pengalaman-pengalaman dan kesalahan-kesalahan yang kita lakukan. Semuanya itu merupaka resiko besar dan kecil ( high risk – low risk ). Semua tergantung dari cara kita mengkontorl diri kita ( self control ).

pic-18.1

 

 

T - CLOCK INSPECTION

Pastikan motor anda siap digunakan.

   Untuk pengecekan lakukan “T - CLOCK inspection”

 

T   : Tires and wheels (ban dan roda)

* Cek tekanan ban sesuai ukuran

* Perhatikan kondisi ban seperti retak, sobek dan benda-benda yang terdapat di ban, misal : Paku, besi, kaca dll.

* Cek mengenai roda (velg), contoh : Penyok, retak dan lingkaran roda secara keseluruhan.

* Ruji (Spoke) perlu dicek untuk kerenggangan / kekecangan dan kekurangan.

* Cek untuk “Bearing” (leher) dan karet-karet pada roda.

 

C   : Controls

* Cek segala tuas-tuas, misalnya : tuas rem, persneling (gearshift). Pastikan bekerja dengan normal, tidak retak, bengkok atau hilang.

* Cek kabel-kabel terutama yang tidak menggangu pada putaran steer (steering).

* Cek selang-selang (good condition).

* Cek “throttle” atau gas bekerja sempurna, tidak susah digerakan atau macet.

 

L   : Lights and eletrical (lampu-lampu dan kabel-kabel).

* Cek aki (air, terminal, posisi)

* Cek lampu dekat dan jauh

* Cek kabel-kabel socket)

 

O   : Oil and fluids (oli dan segala cairan)

* Cek oli (mesin, rem, kopling)

* Air aki, radiator (jika ada) dan bahan bakar

* Selang-selang (kebocoran)

 

C   : Chassis (kerangka motor)

* Retak, penyok

* Cek untuk shock absorber, rantai.

 

K   : Kickstand

* Perhatikan penyangga samping maupun tengah. Pastikan kondisinya baik (tidak bengkok/retak dan pegas / per berfungsi)

 

 

 

 

Sumber : Buku panduan Indonesia Defensive Driving Center (IDDC),

 

iddc

28228_125975057421257_125967384088691_261090_1855230_s

Klik disini untuk melanjutkan »»

Rabu, 01 Juni 2011

PELANGGAN BERBASIS MLM HUKUMNYA HALAL

. Rabu, 01 Juni 2011
0 Pendapatmu

Obet

Sehubungan dengan berkembangnya persaingan di dunia retail, khususnya toko buku, maka perlu dilakukan berbagai terobosan atau ide-ide baru guna mendapatkan pencapaian omset yang sesuai target atau bahkan bisa melampaui target itu sendiri. Diperlukan upaya memaksimalkan layanan pelayanan untuk lebih menarik minat pelanggan, yang bukan hanya senang menggunakan jasa perusahaan kita, tetapi juga menjadi bangga karena menjadi bagian dari kesuksesan perusahaan kita. Untuk itu kita perlu menjalin kerjasama dengan pelanggan, dalam hal ini tentu pelanggan potensial.

Upaya yang dapat kita lakukan adalah :

  • Memberdayakan pelanggan potensial untuk mengajak rekan-rekan kerjanya, sanak saudara, ataupun relasinya untuk menjadi pelanggan baru TB. Gramedia.
  • Sebagai bahan negosiasi untuk pelanggan potensial (A) pelanggan lama, TB. Gramedia memberikan point reward, yg bentuknya bisa berupa diskon belanja ataupun voucher belanja yg nilainya ditentukan. Atau bisa juga untuk setiap pelanggan potensial diberikan reward istimewa, misalnya: voucher belanja buku sepuasnya pada hari ulang tahun pelanggan tersebut dengan nilai maksimal Rp. 100.000,-
  • Mekanisme dapat mengadopsi sistem yang diberlakukan dalam Multi Level Marketing (MLM) dalam pemberian point reward.

Salah satu contoh kasus :

  • pelanggan A memiliki 5 relasi yang menjadi pelanggan potensial baru, berarti pelanggan A memiliki 5 point reward, yang nilai point rewardnya bisa ditentukan pihak toko ( misalnya 5 point = voucher belanja buku senilai Rp. 25.000,-)
  • Pelanggan baru (A1, A2, A3, A4, A5) yang merupakan binaan dari pelanggan A, juga bisa mendapatkan point reward, begitu seterusnya.
  • Pelanggan yang mengikuti program ini akan mendapatkan potongabn atau diskon pada setiap pembelanjaannya, yang besarannya sekitar 10 sampai dengan 15 persen (tergantung mana yang ditetapkan pihak toko).
  • Mekanisme dari program ini tentunya bisa lebih sempurnakan lagi atau dimodifikasi, tanpa mengurangi nilai-nilai dan budaya perusahaan.

Yang patut dicatat dari program pemberdayaan pelanggan berbasis Multi Level Marketing ini adalah :

  • Selain menghemat biaya promosi, anggaran bisa meminimalisir dengan mengalihkan kepada yang lebih urgent atau lebih penting.
  • Memberikan apresiasi lebih kepada rekan-rekan dibagian penjualan untuk selalu memaksimalkan potensi yang dimiliki, bukan hanya menjual, tetapi juga mengoptimalkan jaringan pelanggan yang mereka miliki sebagai bagian dari active selling dan crossing selling.
  • Program ini bukan untuk membatasi kerja bagian penjualan, tetapi justru menambah wahana baru untuk lebih meningkatkan kinerja bagian penjualan.
  • Diharapkan program dapat lebih mendekatkan pelanggan TB. Gramedia dengan menjadikan pelanggan sebagai sahabat TB. Gramedia.
  • Setiap pembelanjaan oleh pelanggan akan mendapatkan diskon, nilai diskon inilah yang nantinya dijadikan salah satu sumber dana sebagai besaran point reward yang akan diperoleh pelanggan.
  • Promosi yang dilakukan oleh pelanggan ke relasinya, cenderung melalui pendekatan kekekluargaan dan redaksionalnya tidak selaluberbau propaganda.
  • tetap dilakukan upaya maksimal maintenance pelanggan dan sosialisai program secara berkesinabungan.
  • Tenatunya program yang dijalankan perusahaan untuk mengaet lebih banyak pelanggan potensial.
  • Program inijuga di upayakanmampu memberikan nilai terobosan baru setelah adanya program VIP card yang saat ini masih berlangsung.
  • Yang pasti, dengan adanya pelanggan baru berarti bertambahnya omset dan pencapaian target yang lebih maksimal.

Dan tanpa mengesampingkan sisi bisnisnya, kita juga harus melihat bahwa pelanggan cenderung menikmati keramahan dan layanan yang maksimal dari perusahaan kita karena sudah diberikan apresiasi lebih. Bukan hanya karena pelanggan itu raja, tetapi mereka berharapan juga adanya sentuhan humanis yang berbeda dan bukan propaganda. Berikan apresiasi lebih buat pelanggan kita dan jadikan mereka sahabat kita yang bangga menjadi bagian kesuksesan perusahaan kita. Jadi sudah saatnya kita mengubah paradigma “ Multi Level Haram Hukumnya “ buat perusahaan kita. Selama tidak mengurangi nilai dan budaya yang sudah ditanamkan oleh pendiri perusahaan, tidak ada salahnya mengadopsi segala seuatu yang memberikan kontribusi lebih ke perusahaan kita, selama memang hal itu halal.

Oleh : Roberto Winnetou Soleyman – TB Gramedia Matraman

Klik disini untuk melanjutkan »»

Rabu, 18 Mei 2011

SEJARAH OUTBOUND

. Rabu, 18 Mei 2011
0 Pendapatmu

Outward Bound adalah ide pendidikan inovatif yang dikreasikan oleh Kurt Hahn yang telah bertahan dan berkembang selama lebih dari enam puluh tahun. Fakta Ini dapat dikatakan luar biasa karena begitu banyak metode pendidikan yang muncul dan tenggelam selama periode ini.

Apakah karena konsep ini sangat mudah beradaptasi dan dapat diterapkan pada dunia edukasi secara masal atau karena pemikiran dan filosofi dari konsep metode semacam outbound ini adalah abadi dan memiliki daya tarik universal? atau mungkin kedua faktor tersebutlah yang membuat metode ini menjadi populer dan terus berkembang.

Yang jelas sang penemu metode outward bound atau lebih dikenal outbound training , Kurt Hahn telah meninggal pada tahun 1974 tetapi pengaruhnya dalam Outward Bound dan inisiatif pendidikan lainnya masih hidup hingga saat ini. Beliau lebih menekankan tercapainya tujuan daripada melatih fokus, dengan menggunakan cara yg sangat fleksibel, beragam dan sangat adaptatif. Begitu pula dengan metode Outbound Training, dengan programnya yang boleh dikatakan “tidak lazim”

Kisah Sang Penemu Outbound

Kurt Hahn lahir di Jerman pada tahun 1896, putra seorang industrialis Yahudi kaya, tapi ia menghabiskan sebagian besar hidupnya di Inggris sebagai warga negara Inggris. Sementara ia masih di SMA tahun 1902, ia menghabiskan liburan musim panas di Dolomites dengan teman-teman dari Abbotsholme, sebuah sekolah negeri Inggris. Selama rentang perjalanan ini, dalam sebuah diskusi tentang sistem sekolah umum Inggris, ketertarikan mengenai dunia pendidikan pertama kali masuk ke dalam benak Hahn. Hal ini menyebabkan ia menjadi terobsesi, kemudian ia mulai mendalami filsafat pendidikan dan sangat dipengaruhi oleh pemikiran-pemikiran Plato, Baden Powell, Cecil Reddie, Dr Arnold dari Rugby, Herman Lietz dan lain-lain.

Pada tahun 1904, saat ia masih muda, Hahn terkena “sunstroke” yang cukup parah sehingga membuatnya cacat permanen namun disinilah ia merasakan ketegaran karena ia memiliki semangat dan keberanian untuk bertahan hidup yang sangat tinggi. proses pemulihan diri ini dimanfaatkannya untuk mempelajari filsafat pendidikan secara lebih mendalam dan merumuskan sistem pendidikan yang hingga saat ini menjadi sangat populer.

Salah satu prinsip hidupnya yang ia pegang teguh sejak saat itu adalah, “ketidakmampuan Anda adalah Peluang Anda”, yaitu mengubah Tantangan menjadi Keuntungan, dengan cara selalu melakukan hal yang benar, terbaik dan bermanfaat meskipun dalam keadaan yang dirasakan sangat sesulit apapun.

Filsafat pendidikan Hahn adalah perpaduan dari apa yang dianggap sebagai ide terbaik yang diambil dari berbagai sumber. Menurutnya, pendidikan adalah seperti pengobatan, metode pengobatan yang ada pada saat ini adalah hasil penemuan dan penyempurnaan dari metode metode terdahulu, jika anda datang ke seorang ahli bedah umum dan meminta untuk membedah usus anda dengan cara yang terbaik dan benar, pasti dokter ahli bedah umum tersebut akan menyarankan anda untuk datang ke ahli bedah yang lebih ahli mengenai usus.

Jadi menurut Hahn, tidak ada yang istimewa dan baru dari metode “temuannya”, karena menurut Hahn, ia hanyalah mengumpulkan, merumuskan kemudian mengemasnya dengan cara yang dianggapnya paling sesuai dengan pengalaman atau proses hidupnya pada masa itu. Beliau menganggap, lebih baik meminjam sebuah ide atau metode yang sudah teruji dan terbukti ketimbang harus mencari dan berkesperimen dengan metode baru.

Kunci keberhasilan Hahn adalah, ia berhasil merangkum, mengambil dan menggabungkan ide dan metode terbaik dari tiap pakar pendidikan di dunia, menjadi suatu metode edukasi yang sangat unik.

Hahn memiliki keyakinan bahwa setiap manusia dilahirkan dengan potensi dan kekuatan spiritual serta kemampuan untuk membuat penilaian yang benar mengenai nilai hidup dan moral.

Dalam perkembangan hidupnya, seseorang itu kehilangan kekuatan spiritual ini dan kemampuan untuk membuat penilaian moral karena, apa yang Hahn sebut, diseased society dan the impulses of adolescence.

Oleh karena itu, Hahn terobsesi oleh dekadensi moral atau penyakit sosial yang dia amati di masyarakat, dan sangat tergerak untuk mencari solusinya, beberapa “penyakit” tersebut misalnya seperti :

  • Penurunan tingkat kebugaran karena adanya sarana transportasi modern, pada saat itu lokomotif atau mesin
  • Penurunan memori dan imajinasi karena bingung, waswas, stress, gelisah akibat dampak dari modernisasi
  • Penurunan tingkat keterampilan dan perhatian karena melemahnya tradisi dan budaya yang positif serta keahlian
  • Penurunan disiplin diri karena ketergantungan pada obat-obat perangsang dan obat penenang
  • Penurunan rasa cinta dan kasih sayang antar sesama karena masing masing sibuk dan egois dengan gaya hidup modernnya

Sebagai bagian dari perhatiannya terhadap kekuatan dan kemampuan fisik adalah, ia percaya bahwa setiap manusia memiliki bakat kemampuan fisik, baik bakat fisik alamiah maupun ketidakmampuan fisik alamiah, misalnya seperti cacat fisik.

Keduanya memiliki kelebihan dan memberikan kesempatan: satu untuk mengembangkan kekuatan dan yang lainnya untuk mengatasi kelemahan. Inilah yang menjadi prinsip atau pegangan Hahn’s berikutnya yaitu,

“Ada banyak kelebihan pada diri anda daripada yang anda pikirkan dan bayangkan.”

Tujuan Hahn adalah untuk menyediakan wahana ideal untuk mengaktifkan kesadaran dan potensi kekuatan tersebut, sehingga setiap orang dapat menemukan kesempurnaan jati diri manusianya dan salah satu wahana yang ia buat adalah Outward Bound atau lebih populer di Indonesia dengan istilah Outbound Training.

 

 

Sumber : OutBound Training

Klik disini untuk melanjutkan »»
 
Hadie-Littha_1979 To Blogger.com | Template by Hadie-Littha_1979