Selasa, 16 Agustus 2011

Sejarah Nusantara (1942-1945)

. Selasa, 16 Agustus 2011
0 Pendapatmu

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

 

Masa pendudukan Jepang di Indonesia dimulai pada tahun 1942 dan berakhir pada tanggal 17 Agustus 1945 seiring dengan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia oleh Soekarno dan M. Hatta atas nama bangsa Indonesia.

Pada Mei 1940, awal Perang Dunia II, Belanda diduduki oleh Nazi Jerman. Hindia-Belanda mengumumkan keadaan siaga dan di Juli mengalihkan ekspor untuk Jepang ke Amerika Serikat dan Britania. Negosiasi dengan Jepang yang bertujuan untuk mengamankan persediaan bahan bakar pesawat gagal di Juni 1941, dan Jepang memulai penaklukan Asia Tenggara di bulan Desember tahun itu. Di bulan yang sama, faksi dari Sumatra menerima bantuan Jepang untuk mengadakan revolusi terhadap pemerintahan Belanda. Pasukan Belanda yang terakhir dikalahkan Jepang pada Maret 1942.

Pada Juli 1942, Soekarno menerima tawaran Jepang untuk mengadakan kampanye publik dan membentuk pemerintahan yang juga dapat memberikan jawaban terhadap kebutuhan militer Jepang. Soekarno, Mohammad Hatta, dan para Kyai didekorasi oleh Kaisar Jepang pada tahun 1943. Tetapi, pengalaman dari penguasaan Jepang di Indonesia sangat bervariasi, tergantung di mana seseorang hidup dan status sosial orang tersebut. Bagi yang tinggal di daerah yang dianggap penting dalam peperangan, mereka mengalami siksaan, terlibat perbudakan seks, penahanan sembarang dan hukuman mati, dan kejahatan perang lainnya. Orang Belanda dan campuran Indonesia-Belanda merupakan target sasaran dalam penguasaan Jepang. Jepang membentuk persiapan kemerdekaan yaitu BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia) atau Dokuritsu Junbi Cosakai, dalam bahasa Jepang. Badan ini bertugas membentuk persiapan-persiapan pra-kemerdekaan dan membuat dasar negara dan digantikan oleh PPKI yg tugasnya menyiapkan kemerdekaan.

 

Daftar isi

[sembunyikan]

Latar belakang

Bulan Oktober 1941, Jenderal Hideki Tojo menggantikan Konoe sebagai Perdana Menteri Jepang. Sebenarnya, sampai akhir tahun 1940, pimpinan militer Jepang tidak menghendaki melawan beberapa negara sekaligus, namun sejak pertengahan tahun 1941 mereka melihat, bahwa Amerika Serikat, Inggris dan Belanda harus dihadapi sekaligus, apabila mereka ingin menguasai sumber daya alam di Asia Tenggara. Apalagi setelah Amerika melancarkan embargo minyak bumi, yang sangat mereka butuhkan, baik untuk industri di Jepang, maupun untuk keperluan perang.

Admiral Isoroku Yamamoto, Panglima Angkatan Laut Jepang, mengembangkan strategi perang yang sangat berani, yaitu mengerahkan seluruh kekuatan armadanya untuk dua operasi besar. Seluruh potensi Angkatan Laut Jepang mencakup 6 kapal induk (pengangkut pesawat tempur), 10 kapal perang, 18 kapal penjelajah berat, 20 kapal penjelajah ringan, 4 kapal pengangkut perlengkapan, 112 kapal perusak, 65 kapal selam serta 2.274 pesawat tempur. Kekuatan pertama, yaitu 6 kapal induk, 2 kapal perang, 11 kapal perusak serta lebih dari 1.400 pesawat tempur, tanggal 7 Desember 1941, akan menyerang secara mendadak basis Armada Pasifik Amerika Serikat di Pearl Harbor di kepulauan Hawaii. Sedangkan kekuatan kedua, sisa kekuatan Angkatan Laut yang mereka miliki, mendukung Angkatan Darat dalam Operasi Selatan, yaitu penyerangan atas Filipina dan Malaya/Singapura, yang akan dilanjutkan ke Jawa. Kekuatan yang dikerahkan ke Asia Tenggara adalah 11 Divisi Infantri yang didukung oleh 7 resimen tank serta 795 pesawat tempur. Seluruh operasi direncanakan selesai dalam 150 hari. Admiral Chuichi Nagumo memimpin armada yang ditugaskan menyerang Pearl Harbor.

Hari minggu pagi tanggal 7 Desember 1941, 360 pesawat terbang yang terdiri dari pembom pembawa torpedo serta sejumlah pesawat tempur diberangkatkan dalam dua gelombang. Pengeboman Pearl Harbor ini berhasil menenggelamkan dua kapal perang besar serta merusak 6 kapal perang lain. Selain itu pemboman Jepang tesebut juga menghancurkan 180 pesawat tempur Amerika. Lebih dari 2.330 serdadu Amerika tewas dan lebih dari 1.140 lainnya luka-luka. Namun tiga kapal induk Amerika selamat, karena pada saat itu tidak berada di Pearl Harbor. Tanggal 8 Desember 1941, Kongres Amerika Serikat menyatakan perang terhadap Jepang.

Perang Pasifik ini berpengaruh besar terhadap gerakan kemerdekaan negara-negara di Asia Timur, termasuk Indonesia. Tujuan Jepang menyerang dan menduduki Hndia-Belanda adalah untuk menguasai sumber-sumber alam, terutama minyak bumi, guna mendukung potensi perang Jepang serta mendukung industrinya. Jawa dirancang sebagai pusat penyediaan bagi seluruh operasi militer di Asia Tenggara, dan Sumatera sebagai sumber minyak utama.

Organisasi yang diprakarsai oleh Jepang

Sosial Budaya

Sistem Stratifikasi Sosial pada Zaman Jepang

Sistem stratifikasi sosial pada zaman Jepang menempatkan golongan bumiputera di atas golongan Eropa maupun golongan Timur Asing, kecuali Jepang. Hal ini disebabkan oleh Jepang ingin yang mengambil hati rakyat Indonesia untuk membantu mereka dalam perang Asia Timur Raya.

Sistem Stratifikasi Sosial pada Zaman Industri Modern

Saat ini, industrialisasi modern tentu membawa dampak yang jauh lebih luas daripada industrialisasi pada masa Kolonial Belanda. Di perkotaan, terdapat pergeseran struktur pekerjaan dan angkatan kerja. Misalnya, sekarang muncul jenis-jenis pekerjaan baru yang dahulu tidak ada, yaitu jasa konsultan, advokasi, dan lembaga bantuan hokum. Angkatan kerja juga mengalami pergeseran, terutama dalam hal gender. Dahulu, tenaga kerja sangat dimonopoli kaum laki-laki. Namun saat ini, kaum perempuan telah berperan di segala bidang pekerjaan.

Berdasarkan hal tersebut, penentuan kelas sosial tidak lagi hanya ditentukan oleh aspek ekonomi semata, tetapi juga ditentukan oleh aspek lain, seperti faktor kelangkaan dan profesionalitas seseorang. Hal ini disebabkan oleh masyarakat industri yang memang sangat mengahrgai kreativitas yang mampu memberi nilai tambah dalam pekerjaa. Akibatnya, orang yang berpendidikan tinggi sangat dihargai oleh masyarakat industri. Sebaliknya, orang yang berpendidikan rendah ditempatkan pada strata bawah.

Perlawanan rakyat terhadap Jepang

clip_image006

Artikel ini tidak memiliki referensi sumber tepercaya sehingga isinya tidak bisa diverifikasi.
Bantulah memperbaiki artikel ini dengan menambahkan referensi yang layak.
Artikel yang tidak dapat diverifikasikan dapat dihapus sewaktu-waktu oleh Pengurus.
Tag ini diberikan tanggal Februari 2010

 

Peristiwa Cot Plieng, Aceh 10 November 1942

Pemberontakan dipimpin seorang ulama muda Tengku Abdul Jalil, guru mengaji di Cot Plieng Lok Seumawe. Usaha Jepang untuk membujuk sang ulama tidak berhasil, sehingga Jepang melakukan serangan mendadak di pagi buta sewaktu rakyat sedang melaksanakan salat Subuh. Dengan persenjataan sederhana/seadanya rakyat berusaha menahan serangan dan berhasil memukul mundur pasukan Jepang untuk kembali ke Lhokseumawe. Begitu juga dengan serangan kedua, berhasil digagalkan oleh rakyat. Baru pada serangan terakhir (ketiga) Jepang berhasil membakar masjid sementara pemimpin pemberontakan (Teuku Abdul Jalil) berhasil meloloskan diri dari kepungan musuh, namun akhirnya tertembak saat sedang salat.

 

Peristiwa Singaparna

Perlawanan fisik ini terjadi di pesantren Sukamanah Jawa Barat (Singaparna) di bawah pimpinan KH. Zainal Mustafa, tahun 1943. Beliau menolak dengan tegas ajaran yang berbau Jepang, khususnya kewajiban untuk melakukan Seikerei setiap pagi, yaitu memberi penghormatan kepada Kaisar Jepang dengan cara membungkukkan badan ke arah matahari terbit. Kewajiban Seikerei ini jelas menyinggung perasaan umat Islam Indonesia karena termasuk perbuatan syirik/menyekutukan Tuhan. Selain itu beliaupun tidak tahan melihat penderitaan rakyat akibat tanam paksa.

Saat utusan Jepang akan menangkap, KH. Zainal Mustafa telah mempersiapkan para santrinya yang telah dibekali ilmu beladiri untuk mengepung dan mengeroyok tentara Jepang, yang akhirnya mundur ke Tasikmalaya.

Jepang memutuskan untuk menggunakan kekerasan sebagai upaya untuk mengakhiri pembangkangan ulama tersebut. Pada tanggal 25 Februari 1944, terjadilah pertempuran sengit antara rakyat dengan pasukan Jepang setelah salat Jumat. Meskipun berbagai upaya perlawanan telah dilakukan, namun KH. Zainal Mustafa berhasil juga ditangkap dan dibawa ke Tasikmalaya kemudian dibawah ke Jakarta untuk menerima hukuman mati dan dimakamkan di Ancol.

Peristiwa Indramayu, April 1944

Peristiwa Indramayu terjadi bulan April 1944 disebabkan adanya pemaksaan kewajiban menyetorkan sebagian hasil padi dan pelaksanaan kerja rodi/kerja paksa/Romusha yang telah mengakibatkan penderitaan rakyat yang berkepanjangan.

Pemberontakan ini dipimpin oleh Haji Madriyan dan kawan-kawan di desa Karang Ampel, Sindang Kabupaten Indramayu.

Pasukan Jepang sengaja bertindak kejam terhadap rakyat di kedua wilayah (Lohbener dan Sindang) agar daerah lain tidak ikut memberontak setelah mengetahi kekejaman yang dilakukan pada setiap pemberontakan.

Pemberontakan Teuku Hamid

Teuku Hamid adalah seorang perwira Giyugun, bersama dengan satu pleton pasukannya melarikan diri ke hutan untuk melakukan perlawanan. Ini terjadi pada bulan November 1944.

Menghadapi kondisi tersebut, pemerintah Jepang melakukan ancaman akan membunuh para keluarga pemberontak jika tidak mau menyerah. Kondisi tersebut memaksa sebagian pasukan pemberontak menyerah, sehingga akhirnya dapat ditumpas.

Di daerah Aceh lainnya timbul pula upaya perlawanan rakyat seperti di Kabupaten Berenaih yang dipimpin oleh kepala kampung dan dibantu oleh satu regu Giyugun (perwira tentara sukarela), namun semua berakhir dengan kondisi yang sama yakni berhasil ditumpas oleh kekuatan militer Jepang dengan sangat kejam.

Pemberontakan Peta

  • Perlawanan PETA di Blitar (29 Februari 1945)

Perlawanan ini dipimpin oleh Syodanco Supriyadi, Syodanco Muradi, dan Dr. Ismail. Perlawanan ini disebabkan karena persoalan pengumpulan padi, Romusha maupun Heiho yang dilakukan secara paksa dan di luar batas perikemanusiaan. Sebagai putera rakyat para pejuang tidak tega melihat penderitaan rakyat. Di samping itu sikap para pelatih militer Jepang yang angkuh dan merendahkan prajurit-prajurit Indonesia. Perlawanan PETA di Blitar merupakan perlawanan yang terbesar di Jawa. Tetapi dengan tipu muslihat Jepang melalui Kolonel Katagiri (Komandan pasukan Jepang), pasukan PETA berhasil ditipu dengan pura-pura diajak berunding. Empat perwira PETA dihukum mati dan tiga lainnya disiksa sampai mati. Sedangkan Syodanco Supriyadi berhasil meloloskan diri.

  • Perlawanan PETA di Meureudu, Aceh (November 1944)

Perlawanan ini dipimpin oleh Perwira Gyugun T. Hamid. Latar belakang perlawanan ini karena sikap Jepang yang angkuh dan kejam terhadap rakyat pada umumnya dan prajurit Indonesia pada khususnya.

  • Perlawanan PETA di Gumilir, Cilacap (April 1945)

Perlawanan ini dipimpin oleh pemimpin regu (Bundanco) Kusaeri bersama rekan-rekannya. Perlawanan yang direncanakan dimulai tanggal 21 April 1945 diketahui Jepang sehingga Kusaeri ditangkap pada tanggal 25 April 1945. Kusaeri divonis hukuman mati tetapi tidak terlaksana karena Jepang terdesak oleh Sekutu.

Perlawanan Pang Suma

Perlawanan Rakyat yg dipimpin oleh Pang Suma berkobar di Kalimantan Selatan. Pang Suma adalah pemimpin suku Dayak yg besar pengaruhnya dikalangan suku-suku di daerah Tayan dan Meliau. Perlawanan ini bersifat gerilya untuk mengganggu aktivitas Jepang di Kalimantan.

Momentum perlawanan Pang Suma diawali dengan pemukulan seorang tenaga kerja Dayak oleh pengawas Jepang, satu di antara sekitar 130 pekerja pada sebuah perusahaan kayu Jepang. Kejadian ini kemudian memulai sebuah rangkaian perlawanan yang mencapai puncak dalam sebuah serangan balasan Dayak yang dikenal dengan Perang Majang Desa, dari April hingga Agustus 1944 di daerah Tayan-Meliau-Batang Tarang (Kab. Sanggau). Sekitar 600 pejuang kemerdekaan dibunuh oleh Jepang, termasuk Pang Suma.

Perlawanan Koreri di Biak

Perlawanan ini dipimpin oleh L. Rumkorem, pimpinan Gerakan “Koreri” yang berpusat di Biak. Perlawanan ini dilatarbelakangi oleh penderitaan rakyat yang diperlakukan sebagai budak belian, dipukuli, dan dianiaya. Dalam perlawanan tersebut rakyat banyak jatuh korban, tetapi rakyat melawan dengan gigih. Akhirnya Jepang meninggalkan Pulau Biak.

Perlawanan di Pulau Yapen Selatan

Perlawanan ini dipimpin oleh Nimrod. Ketika Sekutu sudah mendekat maka memberi bantuan senjata kepada pejuang sehingga perlawanan semakin seru. Nimrod dihukum pancung oleh Jepang untuk menakut-nakuti rakyat. Tetapi rakyat tidak takut dan muncullah seorang pemimpin gerilya yakni S. Papare.

Perlawanan di Tanah Besar Papua

Perlawanan ini dipimpin oleh Simson. Dalam perlawanan rakyat di Papua, terjadi hubungan kerja sama antara gerilyawan dengan pasukan penyusup Sekutu sehingga rakyat mendapatkan modal senjata dari Sekutu.

Gerakan bawah tanah

Sebenarnya bentuk perlawanan terhadap pemerintah Jepang yang dilakukan rakyat Indonesia tidak hanya terbatas pada bentuk perlawanan fisik saja tetapi Anda dapat pula melihat betnuk perlawanan lain/gerakan bawah tanah seperti yang dilakukan oleh:

  • Kelompok Sutan Syahrir di daerah Jakarta dan Jawa Barat dengan cara menyamar sebagai pedagang nanas di Sindanglaya.
  • Kelompok Sukarni, Adam Malik dan Pandu Wiguna. Mereka berhasil menyusup sebagai pegawai kantor pusat propaganda Jepang Sendenbu (sekarang kantor berita Antara).
  • Kelompok Syarif Thayeb, Eri Sudewo dan Chairul Saleh. Mereka adalah kelompok mahasiswa dan pelajar.
  • Kelompok Mr. Achmad Subardjo, Sudiro dan Wikana. Mereka adalah kelompok gerakan Kaigun (AL) Jepang.

Mereka yang tergabung dalam kelompok di bawah tanah, berusaha untuk mencari informasi dan peluang untuk bisa melihat kelemahan pasukan militer Jepang dan usaha mereka akan dapat Anda lihat hasilnya pada saat Jepang telah kalah dari Sekutu, kelompok pemudalah yang lebih cepat dapat informasi tersebut serta merekalah yang akhirnya mendesak golongan tua untuk secepatnya melakukn proklamasi.

Demikianlah gambaran tentang aktifitas pergerakan Nasional yang dilakukan oleh kelompok organisasi maupun gerakan sosial pada masa pemerintah pendudukan Jepang, tentu Anda dapat memahami sebab-sebab kegagalan dan mengapa para tokoh pergerakan lebih memilih sikap kooperatif menghadapi pemerintahan militer Jepang yang sangat ganas/kejam.

Garis waktu

clip_image008Artikel utama untuk bagian ini adalah: Garis waktu sejarah Indonesia

 

1941

  • 6 Januari, Belanda menangkap Thamrin, Douwes Dekker dan beberapa tokoh nasionalis lain. Thamrin meninggal di tahanan lima hari kemudian. Douwes Dekker diasingkan ke Suriname.
  • 11 Januari - Tim perundingan Jepang yang baru dan lebih agresif di bawah Yoshizawa tiba di Batavia.
  • Februari - Tekanan Jepang yang kian meningkat terhadap pemerintah Hindia Belanda untuk "bergabung dengan Wilayah Kemakmuran Bersama Asia Timur Raya" ditolak Van Mook.
  • 14 Mei - Jepang mengirimkan sebuah ultimatum kepada pemerintah Hindia Belanda, menuntut agar pengaruh dan kehadiran Jepang dibiarkan di wilayah ini.
  • 6 Juni - Perundingan antara Belanda dan Jepang gagal. Pemerintah Hindia Belanda menjawab bahwa tidak akan ada konsesi yang akan diberikan kepada Jepang, dan bahwa semua produk strategis (termasuk minyak dan karet) telah dikontrakkan untuk dikapalkan ke Britania dan Amerika Serikat.
  • 11 Juli - Volksraad membentuk sebuah milisi Indonesia.
  • 25 Juli - Jepang mengumumkan pembentukan sebuah "protektorat" atas Indochina.
  • 26 Juli - Semua asset Jepang di Hindia Belanda dibekukan.
  • 30 Juli - Pemerintah Belanda di pembuangan menjanjikan untuk mengadakan konferensi tentang Indonesia setelah perang.
  • 30 November - Angkatan Laut Belanda di Hindia mulai dimobilisasa.
  • 5 Desember - Pemerintah Hindia Belanda mengirim permintaan kepada Australia untuk mengirimkan pasukannya ke Ambon dan Timor. Pesawat-pesawat Angkatan Udara Australia dan personilnya tiba pada 7 Desember.
  • 8 Desember - Jepang menyerang Malaya, mendarat di ujung selatan Thailand dan utara Malaya. Jepang mulai menyerang Filipina. Belanda, di antara bangsa-bangsa lainnya, perang terhadap Jepang.
  • 10 Desember - Kapal-kapal perang Britania, Prince of Wales dan Repulse ditenggelamkan dalam perbedaan beberapa jam saja satu sama lain di lepas pantai Malaya.
  • 16 Desember - Orang-orang Aceh yang anti Belanda mengadakan hubungan dengan pasukan-pasukan Jepang di Malaya.
  • 17 Desember – Pasukan yang dipimpin oleh Australia mendarat di Timor Portugis. Diktator Portugal Salazar memprotes.
  • 17 Desember - Jepang melakukan serangan udara atas Ternate.
  • Jepang mendarat di Sarawak.
  • 22 Desember – Pasukan invasi utama Jepang mendarat di Filipina.
  • Hatta menulis sebuah artikel surat kabar yang menyerukan agar bangsa Indonesia melawan Jepang.
  • 24 Desember - Jepang menyerang pasukan-pasukan Britania di Kuching, Sarawak.

1942

Januari

  • 2 Januari - Jepang merebut kota Manila.
  • 3 Januari - Jepang merebut Sabah.
  • 6 Januari - Jepang merebut Brunei.
  • 6 Januari – Serangan udara Jepang pertama atas Ambon.
  • 10 Januari - Jepang mulai menginvasi Indonesia di Kalimantan (Tarakan) dan Sulawesi (Manado).
  • 11 Januari - Jepang merebut Tarakan.
  • 12 Januari - Van Mook melakukan perjalanan darurat ke Amerika Serikat, meminta tambahan pasukan, dan agar Hindia Belanda tidak dilupakan dalam pertahanan Sekutu.
  • 13 Januari - Jepang merebut Manado.
  • 15 Januari - Jen. Wavell dari Britania mengambil alih komando atas ABDACOM, komando gabungan Sekutu pertama (Australia, Britania, Belanda, Amerika) di dalam perang.
  • 16 Januari – Agen-agen Aceh kembali dari Malaya dengan janji-janji dukungan Jepang dalam melawan Belanda.
  • 23 Januari - Jepang merebut Balikpapan meskipun terdapat serangan balasan dari Belanda dan A.S.
  • 25 Januari - Jepang merebut Kendari di Sulawesi.
  • 30 Januari - Jepang menyerang Ambon. Pasukan-pasukan KNIL dan Australia menghancurkan pasokan agar tidak jatuh ke tangan Jepang. Kota Ambon direbut dalam tempo 24 jam. Pertempuran berlanjut hingga 2 Februari. Sejumlah 90 persen pasukan pertahanan Australia menjadi korban, banyak di antaranya yang dibantai pada Februari setelah ditawan.
    • Pasukan Britania mengevakuasi Malaya dan lari ke Singapura.

Februari

  • 1 Februari - Jepang merebut Pontianak.
  • 3 Februari - Jepang mengebom Surabaya, memulai serangan udara terhadap sasaran-sasaran di Jawa.
  • 4 Februari – Pertempuran Selat Makassar (pertempuran laut antara Kalimantan dan Sulawesi): Angkatan Udara dan Laut Jepang memaksa Sekutu untuk mundur hingga ke Cilacap. Jepang maju hingga ke Sulawesi.
  • 6 Februari - Jepang mulai mengebom Palembang.
  • 8 Februari - Jepang mulai melakukan serangan utama atas Singapura.
  • 9 Februari - Jepang mengebom Batavia, Surabaya dan Malang.
  • 10 Februari - Jepang merebut Makassar.
  • 13 Februari - Jepang mendaratkan pasukan parasut di Palembang, merebut kota dan industri minyaknya yang berharga.
  • 15 Februari - Singapura jatuh; 130.000 pasukan di bawah komando Britania ditawan sebagai tawanan perang.
  • 18 Februari - Van Mook, di Australia, memohon agar pasukan Sekutu melakukan serangan. Bali diduduki Jepang.
  • 19 Februari – Pertempuran Selat Badung (pertempuran laut antara Bali dan Lombok): sebuah satuan kecil pasukan Jepang memukul mundur pasukan Belanda dan Australia. Jepang mendarat di Bali. Serangan udara pertama Jepang atas Darwin, Australia.
  • 20 Februari - Jepang mendarat di Timor dan tanggal 24 Februari tentara Jepang telah menguasai Timor.
  • 23 Februari – Revolusi melawan Belanda dimulai di Aceh dan Sumatra Utara, dengan dukungan Jepang.
    • Belanda memindahkan Soekarno ke Padang; Soekarno lolos dalam kekacauan sementara Belanda melakukan evakuasi.
    • Belanda mengevakuasi Sjahrir dan Hatta dari Banda lewat udara beberapa menit sebelum Jepang mulai mengebom pulau itu.
    • Jepang mengklaim Timor; pasukan-pasukan Australia terus melakukan perang gerilya.

Pertempuran Laut Jawa: Dalam pertempuran di Laut Jawa dekat Surabaya yang berlangsung selama tujuh jam, Angkatan Laut Sekutu dihancurkan, kapal-kapal perusak Amerika lolos ke Australia. Sekutu kehilangan lima kapal perangnya, sedangkan Jepang hanya menderita kerusakan pada satu kapal perusaknya (Destroyer). Rear Admiral Karel Willem Frederik Marie Doorman, Komandan Angkatan Laut India-Belanda, yang baru dua hari sebelumnya, tanggal 25 Februari 1942 ditunjuk menjadi Tactical Commander armada tentara Sekutu ABDACOM, tenggelam bersama kapal perang utamanya (Flagship) De Ruyter.

Tanggal 28 Februari 1942, Tentara Angkatan Darat ke-16 di bawah pimpinan Letnan Jenderal Hitoshi Imamura mendarat di tiga tempat di Jawa. Pertama adalah pasukan Divisi ke-2 mendarat di Merak,Banten, kedua adalah Resimen ke-230 di Eretan Wetan, dekat Indramayu dan yang ketiga adalah Divisi ke-48 beserta Resimen ke-56 di Kragan. Ketiganya segera menggempur pertahanan tentara Belanda. Setelah merebut Pangkalan Udara Kalijati (sekarang Lanud Suryadarma), Letnan Jenderal Imamura membuat markasnya di sana. Imamura memberikan ultimatum kepada Belanda, bahwa apabila tidak menyerah, maka tentara Jepang akan menghancurkan tentara Belanda.

Maret

Pada Maret 1942, pasukan-pasukan Sekutu di Jawa diberitahukan oleh mata-mata bahwa suatu kekuatan Jepang sejumlah 250.000 sedang mendekati Bandung, sementara kenyataannya kekuatannya hanya sepersepuluh jumlah itu. Informasi yang keliru itu mungkin merupakan bagian dari alasan mengapa Sekutu menyerah di Jawa.

Belanda sesungguhnya memindahkan kaum Komunis yang ditahan di kamp-kamp penjara di Hindia Belanda, sebagian dari mereka sejak 1926, ke penjara-penjara di Australia ketika Jepang tiba.

  • 1 Maret - Pertempuran Selat Sunda: Pasukan invasi Jepang mendarat di Banten.
    • Pasukan invasi Jepang mendarat di sebelah barat Surabaya.
    • Serangan udara Jepang atas Medan.
  • 5 Maret - Serangan udara Jepang di Cilacap. Jepang masuk ke Batavia.
  • 7 Maret - Jepang merebut Cilacap.
  • 7 Maret - Rangoon jatuh ke tangan Jepang.
  • 8 Maret - Jepang merebut Surabaya.
  • 9 Maret - Belanda menyerah tanpa syarat kepada Jepang

Pada 9 Maret 1942, Gubernur Jenderal Jonkheer Tjarda van Starkenborgh Stachouwer bersama Letnan Jenderal Hein ter Poorten, Panglima Tertinggi Tentara India-Belanda datang ke Kalijati dan dimulai perundingan antara Pemerintah Hindia Belanda dengan pihak Tentara Jepang yang dipimpin langsung oleh Letnan Jenderal Imamura. Imamura menyatakan, bahwa Belanda harus menandatangani pernyataan menyerah tanpa syarat. Letnan Jenderal ter Poorten, mewakili Gubernur Jenderal menanda-tangani pernyataan menyerah tanpa syarat. Dengan demikian secara de facto dan de jure, seluruh wilayah bekas Hindia-Belanda sejak itu berada di bawah kekuasaan dan administrasi Jepang. Hari itu juga, tanggal 9 Maret Jenderal Hein ter Poorten memerintahkan kepada seluruh tentara India Belanda untuk juga menyerahkan diri kepada balatentara Kekaisaran Jepang.

Para penguasa yang lain, segera melarikan diri. Dr. Hubertus Johannes van Mook, Letnan Gubernur Jenderal untuk Hindia Belanda bagian timur, Dr. Charles Olke van der Plas, Gubernur Jawa Timur, melarikan diri ke Australia. Jenderal Ludolf Hendrik van Oyen, perwira Angkatan Udara Kerajaan Belanda melarikan diri dan meninggalkan isterinya di Bandung. Tentara KNIL yang berjumlah sekitar 20.000 di Jawa yang tidak sempat melarikan diri ke Australia ditangkap dan dipenjarakan oleh tentara Jepang. Sedangkan orang-orang Eropa lain dan juga warganegara Amerika Serikat, diinternir. Banyak juga warga sipil tersebut yang dipulangkan kembali ke Eropa.

Secara resmi Jepang telah menguasai Indonesia sejak tanggal 8 Maret 1942, ketika Panglima Tertinggi Pemerintah Hindia Belanda menyerah tanpa syarat di Kalijati, Subang. Jepang tanpa banyak menemui perlawanan yang berarti berhasil menduduki Indonesia. Bahkan, bangsa Indonesia menyambut kedatangan balatentara Jepang dengan perasaan senang, perasaan gembira dan disambut baik karena akan membebaskan bangsa Indonesia dari belenggu penjajahan bangsa Belanda.

  • 11 Maret - Perlawanan Aceh terlibat dalam pertempuran dengan Belanda yang sedang mengundurkan diri.
  • 12 Maret - Jepang mendarat di Sabang. Operasi-operasi di Aceh selesai sekitar 15 Maret.
  • 12 Maret - Jepang tiba di Medan.
  • 18 Maret - Jepang merebut Padang.
  • 28 Maret - Pasukan Belanda terakhir di Sumatra menyerah di Kutatjane, di selatan Aceh.
    • Jepang melarang semua kegiatan politik dan semua organisasi yang ada. Volksraad dihapuskan. Bendera merah-putih dilarang.
    • Angkatan Darat ke-16 Jepang menguasai Jawa; Angkatan Darat ke-25 di Sumatra (markas besar di Bukittinggi); Angkatan Laut menguasai Indonesia timur (markas besar di Makassar).

April

Pada April 1942, sekitar 200 tentara Sekutu yang telah melarikan diri ke bukit-bukit di Jawa Timur dan terus berperang, ditangkap oleh Jepang di bawah perintah Imamura. Mereka dikumpulkan dan dimasukkan ke kandang-kandang ternak dari bambu, dibawa dengan kereta-kereta api terbuka ke Surabaya, lalu dibawa ke laut dan dilemparkan ke ikan-ikan hiu, sementara masih berada di dalam kandang-kandang bambu itu. Imamura dinyatakan bersalah atas kekejaman ini oleh sebuah peradilan militer Australia setelah perang.

  • 7 April – Tiga orang pegawai Radio Hindia Belanda dihukum mati karena memainkan lagu kebangsaan Belanda pada 18 Maret, setelah menyerahnya Belanda.
  • 7 April - Jepang merebut Ternate.
    • Jepang mencoba untuk membentuk gerakan Tiga A; memulai kampanye propaganda.

·

    • ABDACOM dibubarkan. Britania dan Amerika membagi tanggung jawab perang: Britania akan mencoba untuk merebut kembali Malaya dan Sumatra serta Burma. Sisanya di Pasifik dan Indonesia menjadi tanggung jawab AS (yang bekerja sama dengan Australia).
  • 19 April - Jepang merebut Hollandia (kini Jayapura).

Mei

Juni

  • 17 Juni – Pemerintah Belanda di pengungsian di London membentuk dewan konsultatif untuk urusan-urusan Hindia Belanda.

Juli

Pilihan satu-satunya yang dimiliki Soekarno dan Hatta adalah pura-pura bekerja sama dengan Jepang. Tujuan akhirnya, sudah tentu, bukanlah untuk mendukung Jepang, melainkan untuk mendapatkan kemerdekaan untuk Indonesia. Belakangan, Belanda yang kembali akan mencoba untuk menuduh Soekarno sebagai kolaborator Jepang guna mendapatkan dukungan Britania dalam menghadapi republik Indonesia yang baru terbentuk.

Sjahrir memimpin gerakan di bawah tanah dari rumah kakak perempuannya di Cipanas, dekat Bogor. Informasi seringkali dan dengan diam-diam dibagikan Soekarno, yang mendapatkannya dari lingkaran dalam Jepang, dan Sjahrir.

  • Satuan sisa-sisa tentara KNIL dikirim ke Kai, Aru dan Kepualuan Tanimbar.
  • Jepang mengumpulkan Soekarno, Hatta, dan Sjahrir di Jakarta.
  • Soekarno, Hatta, Sjahrir bertemu secara rahasia: Soekarno untuk mengumpulkan massa untuk kemerdekaan, Hatta untuk menangani hubungan-hubungan diplomatik, Sjahrir untuk mengkoordinasi kegiatan-kegiatan bawah tanah.
  • Soekarno menerima tawaran Jepang untuk menjadi pemimpin pemerintah Indonesia, tetapi bertanggung jawab kepada militer Jepang.
  • 30 Juli - Jepang menduduki Kep. Kai dan Aru, setelah sejumlah perlawanan di Kai.
  • 31 Juli - Jepang merebut Kep. Tanimbar sejumlah perlawanan oleh KNIL dan detasemen-detasemen Australia di Saumlaki.

Agustus, September, Oktober

  • 29 Agustus - Jepang mulai memindahkan sejumlah pasukan dari Sumatra dan Jawa ke Kep. Solomon.
  • September, orang-orang Muslim Indonesia menolak untuk memberi hormat kepada Kaisar Jepang di Tokyo. Peristiwa di Sukamanah, Singaparna Tasikmalaya-Jawa Barat bukti nyata penolakan tersebut. Haji Zaenal Mustafa mengangkat senjata kepada Jepang walaupun kemudian berhasil ditumpas dan beliau dihukum mati di Ancol. Sebagai penghormatan, nama Haji Zaenal Mustafa menjadi nama jalan terpenting di Tasikmalaya.
  • Oktober, Kemajuan militer Jepang di Pasifik terhenti; para komandan Jepang disuruh mengembangkan sentimen-sentimen pro-Jepang di wilayah-wilayah pendudukan.
  • 16 Oktober – Tentara ke-16 Jepang mengirimkan pasukan-pasukan pengawal ke Lombok, Sumba dan Timor.

Pada mulanya, propaganda Jepang kedengaran seperti perbaikan dibandingkan dengan pemerintahan Belanda. Setelah itu, pasukan-pasukan Jepang mulai mencuri makanan dan menangkapi orang untuk dijadikan pekerja paksa, sehngga pandangan bangsa Indonesia terhadap mereka mulai berbalik.

Militer Jepang membuat tiga kesalahan besar terhadap bangsa Indonesia:

  1. kerja paksa: banyak laki-laki Indonesia diambil dari tengah keluarga mereka dan dikirim hingga ke Burma untuk melakukan pekerjaan pembangunan dan banyak pekerjaan berat lainnya dalam kondisi-kondisi yang sangat buruk. Ribuan orang mati atau hilang.
  2. pengambilan paksa: tentara-tentara Jepang dengan paksa mengambil makanan, pakaian dan berbagai pasokan lainnya dari keluarga-keluarga Indonesia, tanpa memberikan ganti rugi. Hal ini menyebabkan kelaparan dan penderitaan semasa perang.
  3. perbudakan paksa terhadap perempuan: banyak perempuan Indonesia yang dijadikan "wanita penghibur " bagi tentara-tentara Jepang.

Selain itu, Jepang menahan banyak warga sipil Belanda di kamp-kamp tahanan dalam kondisi-kondisi yang sangat buruk, dan memperlakukan tahanan perang militer di Indonesia dalam keadaan yang buruk pula.

Namun, kejahatan-kejahatan perang di -- yang sangat serius -- pada kenyataannya tidak seburuk dengan apa yang dilakukan di Tiongkok atau Korea pada masa yang sama. Sejumlah komandan, seperti misalnya Jen. Imamura di Jawa, secara terbuka dikritik di koran-koran Jepang karena terlalu "lunak". Bahkan ada sejumlah perwira Jepang yang bersimpati dengan gagasan kemerdekaan Indonesia, dan yang bahkan memberikan dukungan mereka kepada tokoh-tokoh dan organisasi politik Indonesia, hingga kepada Soekarno sendiri.

November, Desember

1943

  • Januari, Jepang menangkap Amir Sjarifuddin untuk mematahkan gerakan perlawanannya. Sjarifuddin dijatuhi hukuman mati, tetapi Soekarno mengintervensi dan membelanya atas nama pribadi. Kasus Amir Sjarifuddin ini cukup unik. Ia seorang komunis namun menerima dana dari pemerintah Belanda untuk mendukung gerakan perlawanan terhadap Jepang.
  • 9 Februari - Jepang mengirim tambahan pasukan ke Tanimbar, Kepulauan Kai dan Irian Barat.
  • 10 Februari - Gerilyawan Australia ditarik dari Timor Portugis setelah setahun berperang di dalam hutan.
  • 9 Maret - Jepang membentuk Putera (Pusat Tenaga Rakyat), sebuah sayap organisasi politik. Soekarno menjadi ketuanya, Hatta dan Ki Hadjar Dewantara salah satu anggotanya.
  • Jepang membentuk sayap militer lokal, disebut Heiho untuk menjadi unit reguler Jepang. Tentara Heiho dari Indonesia adalah kombinasi antara sukarelawan dan milisi. Tentara Jepang membedakan perlakuan terhadap Heiho dan tentara Jepang.
  • Juli, Jepang menangkap sekitar 1000 pejuang di Kalimantan Selatan
  • 7 Juli - Perdana Menteri Jepang Tojo menjanjikan pemerintahan otonomi terbatas bagi Indonesia dalam pidatonya di Gambir.
  • 13 Agustus - Amerika melancarkan serangan bom dari Australi terhadap Balikpapan.
  • Jepang mulai mengambil alih perkebunan gula untuk menguasai produksi gula. Para manajer Eropa dikirim kamp interniran. Di sekitar waktu ini, banyak Gereja Kristen Protestan didirikan oleh orang Indonesia setelah pendeta dan misionaris Belanda dikirim ke kamp interniran Jepang.
  • September, pemberontakan melawan Jepang berhasil ditumpas di Kalimantan Selatan dan Barat.
  • 8 September - Perintah dari Markas Besar Militer Jepang di Saigon untuk membentuk "Giyugun" (angkatan bersenjata lokal) di sepanjang Asia Tenggara. Pada akhir peperangan, sekitar dua juta orang Indonesia telah direkrut untuk menjadi Giyugun atau menjadi Heiho. Jepang merasa perlu merekrut orang lokal untuk pertahanan, karena tentara Jepang terus ditarik untuk perang dengan Sekutu di Pasifik.
  • 3 Oktober - Jepang membentuk Giyugun di Sumatra dan Jawa. Pasukan di Jawa disebut PETA (Pembela Tanah Air). Banyak tokoh yang tergabung dalam PETA, termasuk Soedirman dan Soeharto. Aktivis kemerdekaan menganggap pelatihan militer tidak begitu mendukung kekuatan Jepang dibanding persiapan untuk kemungkinan kemerdekaan. Pada pertengahan 1945, ada 120.000 pejuang tergabung dalam PETA. Kelompok ini yang kemudian akan membentuk inti Angkatan Bersenjata Indonesia.
  • 24 Oktober, payung organisasi MIAI berganti nama menjadi Masyumi (Majelis Syurah Muslimin Indonesia).
  • Jepang mulai melancarkan kerja paksa terhadap penduduk desa (romusha), ribuan orang mati dan hilang. Jepang mulai menjarah beras.
  • Brigade Angkatan Laut Belanda di pengasingan mulai pelatihan pada Camp Lejeune, North Carolina, dengan tujuan akhir merebut kembali Hindia Belanda.
  • 3 November - Hatta berpidato menghimbau orang Indonesia untuk bergabung dengan PETA.
  • 10 November - Soekarno, Hatta, dan Kyai Bagus Hadikusumo berangkat ke Tokyo untuk bertemu dengan Kaisar Jepang. Ini adalah pertama kali Soekarno bepergian ke luar negeri.
  • Desember, Barisan Hizbullah dibentuk oleh Jepang, sebuah angkatan perang pemuda Muslim yang berhubungan dengan Masyumi.

1944

  • Januari, Putera digantikan oleh Jawa Hokokai. Soekarno menjadi pemimpinnya.
  • 19 April - Sekutu menjatuhkan bom di Sabang, Aceh.
  • 22 April - Sekutu menguasai Hollandia (sekarang Jayapura).
  • 9 Mei - Komandan Jepang memutuskan meninggalkan Irian Barat.
  • 17 Mei - Serangan udara Sekutu di Surabaya.
  • 21 Mei - Tentara Amerika mendarat di Biak.
  • 4 Juni - Jepang melancarkan serangan balik ke Biak.
  • Agustus, Barisan Pelopor yang dibentuk oleh sayap pemuda Jawa Hokokai (setelah kemerdekaan berganti nama menjadi Barisan Benteng).
  • 11 Agustus - Serangan udara Sekutu di Palembang.
  • 28 Agustus - Ambon luluh lantak akibat serangan udara Sekutu.
  • 8 September - Jenderal Koiso menjanjikan Indonesia akan merdeka dalam waktu yang tidak lama lagi.
  • 8 September - tentara Amerika berhasil mengusir Jepang dari Biak.
  • 15 September - Sekutu mendarat di Morotai. Otoritas Jepang mulai mengorganisir dewan regional (dengan kekuasaan sebagai penasehat saja).
  • Oktober, tentara Australia mulai melancarkan serangan bom ke Balikpapan. Jepang mengorganisir sebuah Dewan Penasehat Pusat, serupa dengan Volksraad, namun tanpa kekuasaan legislatif.
  • November, Gubernur Militer Kumashaki Harada digantikan oleh Shigeichi Yamamoto. Pakubuwono XII menjadi Susuhunan Surakarta.

1945

clip_image009

Makam Kalibanteng, tempat dimakamkannya banyak warga sipil Belanda yang meninggal di kamp interniran Jepang.

Januari-April

[Mei

  • 3 Mei - Gerilyawan Aceh menyerang pos Jepang di Pandrah, berhasil membunuh seluruh tentara Jepang.
  • 29 Mei - Diselenggarakan sidang pertama BPUPKI yang berlangsung sampai 1 Juni. Soepomo berpidato tentang integrasi nasional dan melawan individualisme perorangan. Muhammad Yamin mengusulkan bahwa negara baru tersebut juga sekaligus mengklaim Sarawak, Sabah, Malaya, Timor Portugis, dan seluruh wilayah Hindia-Belanda sebelum perang. Yamin juga menyarankan bahwa Indonesia baru harus mengabaikan hukum internasional dan mendeklarasikan semua area samudra antara pulau-pulau sebagai perairan teritorial. Kontroversi terus berlanjut di antara peserta sidang BPUPKI mengenai aturan Islam dalam Indonesia yang baru.

Juni

  • Maeda mendukung perjalanan Soekarno dan Hatta ke Bali dan Banjarmasin untuk berpidato.
  • 1 Juni - Soekarno menjelaskan tentang doktrin "Pancasila" di depan BPUPKI.
  • 10 Juni - Tentara Australia mendarat di Brunei, tentara Belanda mendarat di Sumatra Utara.
  • 22 Juni - Sebuah komisi khusus dipimpin Soekarno dibentuk untuk memecahkan perselisihan atas peran Islam dalam Republik yang baru, dan setuju dengan menghadiahkan bahasa kompromi, yang kemudian dikenal sebagai Piagam Jakarta. Bahasa kompromi ini menyebutkan bahwa hanya yang beragama Islam yang diwajibkan untuk mengikuti Hukum Islam.
  • 24 Juni - Tentara Sekutu mendarat di Halmahera.

Juli

  • Militer Jepang mengadakan pertemuan di Singapura. Merencanakan pengalihan kekuasaan Indonesia kepada pimpinan pejuang kemerdekaan Indonesia.
  • 1 Juli - Tentara Australia menguasai Balikpapan, pesawat Amerika menjatuhkan bom di Watampone.
  • 8 Juli - Sekolah Tinggi Islam didirikan di Jakarta (Sekarang Menjadi Universitas Islam Indonesia (UII) yang berpusat di Yogyakarta seiring perpindahan ibukota Indonesia ke Yogyakarta saat Agresi Militer Belanda ke II)
  • 10 Juli-17 Juli - Diselenggarakan sidang kedua BPUPKI untuk membicarakan rancangan undang-undang dasar untuk Indonesia. Hatta melakukan kritik terhadap pernyataan Yamin, dan menyarankan Irian Barat sebaiknya tidak dimasukkan ke dalam Indonesia. Soekarno mendukung Yamin. Haji Agus Salim menyarankan agar rakyat yang berada di bawah bekas kekuasaan Inggris dan Portugis dapat memilih apakan akan bergabung dengan Indonesia atau tidak. Mayoritas anggota memilih bahwa Indonesia harus memasukkan Malaya, Sarawak, Sabah dan Timor Portugis, seluruh wilayah Hindia-Belanda sebelum perang.
  • 11 Juli - Amerika melancarkan serangan udara di Sabang.

Periode menjelang Kemerdekaan RI

clip_image008[1]Artikel utama untuk bagian ini adalah: Proklamasi Kemerdekaan Indonesia

Pada 6 Agustus 1945, 2 bom atom dijatuhkan ke dua kota di Jepang, Hiroshima dan Nagasaki oleh Amerika Serikat. Ini menyebabkan Jepang menyerah kepada Amerika Serikat dan sekutunya. Momen ini pun dimanfaatkan oleh Indonesia untuk memproklamasikan kemerdekaannya.

7 Agustus - BPUPKI berganti nama menjadi PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia).

Pada 9 Agustus 1945 Soekarno, Hatta dan Radjiman Wedyodiningrat diterbangkan ke Vietnam untuk bertemu Marsekal Terauchi. Mereka dikabarkan bahwa pasukan Jepang sedang menuju kehancuran tetapi Jepang menginginkan kemerdekaan Indonesia pada 24 Agustus.

Sementara itu, di Indonesia, Sutan Syahrir telah mendengar berita lewat radio pada tanggal 10 Agustus 1945, bahwa Jepang telah menyerah kepada Sekutu. Para pejuang bawah tanah bersiap-siap memproklamasikan kemerdekaan RI, dan menolak bentuk kemerdekaan yang diberikan sebagai hadiah Jepang. Saat Soekarno, Hatta dan Radjiman kembali ke tanah air pada tanggal 14 Agustus 1945, Syahrir mendesak agar Soekarno segera memproklamasikan kemerdekaan. Namun Soekarno belum yakin bahwa Jepang memang telah menyerah, dan proklamasi kemerdekaan RI saat itu dapat menimbulkan pertumpahan darah yang besar, dan dapat berakibat sangat fatal jika para pejuang Indonesia belum siap.

15 Agustus - Jepang menyerah kepada Sekutu. Tentara dan Angkatan Laut Jepang masih berkuasa di Indonesia karena Jepang telah berjanji akan mengembalikan kekuasaan di Indonesia ke tangan Belanda.

Para pemuda pejuang, termasuk Chaerul Saleh, yang tergabung dalam gerakan bawah tanah kehilangan kesabaran, dan pada dini hari tanggal 16 Agustus 1945 mereka menculik Soekarno dan Hatta, dan membawanya ke Rengasdengklok, yang kemudian terkenal sebagai peristiwa Rengasdengklok. Di sini, mereka kembali meyakinkan Soekarno bahwa Jepang telah menyerah dan para pejuang telah siap untuk melawan Jepang, apa pun risikonya.

Malam harinya, Soekarno dan Hatta kembali ke Jakarta, bertemu dengan Jenderal Moichiro Yamamoto dan bermalam di kediaman Laksamana Muda Maeda Tadashi. Dari komunikasi antara Hatta dan tangan kanan komandan Jepang di Jawa ini, Soekarno dan Hatta menjadi yakin bahwa Jepang telah menyerah kepada Sekutu, dan tidak memiliki wewenang lagi untuk memberikan kemerdekaan.

Mengetahui bahwa proklamasi tanpa pertumbahan darah telah tidak mungkin lagi, Soekarno, Hatta dan anggota PPKI lainnya malam itu juga rapat dan menyiapkan teks Proklamasi yang kemudian dibacakan pada pagi hari tanggal 17 Agustus 1945.

Tentara Pembela Tanah Air, kelompok muda radikal, dan rakyat Jakarta mengorganisasi pertahanan di kediaman Soekarno. Selebaran kemudian dibagi-bagikan berisi tentang pengumuman proklamasi kemerdekaan. Adam Malik juga mengirim pesan singkat pengumuman Proklamasi ke luar negeri.

 

Pasca-Kemerdekaan

clip_image011

clip_image010[1]

Rapat kedua KNIP yang diketuai oleh Sutan Syahrir pada tanggal 25-26 November 1945

18 Agustus - PPKI membentuk sebuah pemerintahan sementara dengan Soekarno sebagai Presiden dan Hatta sebagai Wakil Presiden. Piagam Jakarta yang memasukkan kata "Islam" di dalam sila Pancasila, dihilangkan dari mukadimah konstitusi yang baru.

Republik Indonesia yang baru lahir ini terdiri 8 provinsi: Sumatra, Kalimantan, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi, Maluku, dan Sunda Kecil.

Pada 22 Agustus Jepang mengumumkan mereka menyerah di depan umum di Jakarta. Jepang melucuti senjata mereka dan membubarkan PETA Dan Heiho. Banyak anggota kelompok ini yang belum mendengar tentang kemerdekaan.

23 Agustus - Soekarno mengirimkan pesan radio pertama ke seluruh negeri Indonesia. Badan Keamanan Rakyat, angkatan bersenjata Indonesia yang pertama mulai dibentuk dari bekas anggota PETA dan Heiho. Beberapa hari sebelumnya, beberapa batalion PETA telah diberitahu untuk membubarkan diri.

29 Agustus - Rancangan konstitusi bentukan PPKI yang telah diumumkan pada 18 Agustus, ditetapkan sebagai UUD 45. Soekarno dan Hatta secara resmi diangkat menjadi Presiden dan Wakil Presiden. PPKI kemudian berubah nama menjadi KNIP (Komite Nasional Indonesia Pusat). KNIP ini adalah lembaga sementara yang bertugas sampai pemilu dilaksanakan. Pemerintahan Republik Indonesia yang baru, Kabinet Presidensial, mulai bertugas pada 31 Agustus.

Sekutu

Sesuai dengan perjanjian Wina pada tahun 1942, bahwa negara-negara sekutu bersepakat untuk mengembalikan wilayah-wilayah yang kini diduduki Jepang pada pemilik koloninya masing-masing bila Jepang berhasil diusir dari daerah pendudukannya.

Menurut Sekutu sebagai pihak yang memenangkan Perang Dunia II, Lord Mountbatten sebagai Komandan Tertinggi Sekutu di Asia Tenggara adalah orang yang diserahi tanggung jawab kekuasaan atas Sumatra dan Jawa. Tentara Australia diberi tanggung jawab terhadap Kalimantan dan Indonesia bagian Timur.

Pada 23 Agustus 1945 tentara Belanda mendarat di Sabang, Aceh.

15 September 1945, tentara sekutu tiba di Jakarta, ia didampingi Dr Charles van der Plas, wakil Belanda pada Sekutu. Kehadiran tentara sekutu ini, diboncengi NICA (Netherland Indies Civil Administration - pemerintahan sipil Hindia Belanda) yang dipimpin oleh Dr Hubertus J van Mook.

 

Dampak Pendudukan Jepang Dalam Berbagai Aspek Kehidupan Bangsa Indonesia

Aspek Politik

Kebijakan pertama yang dilakukan Dai Nippon (pemerintah militer Jepang) adalah melarang semua rapat dan kegiatan politik. Pada tanggal 20 Maret 1942, dikeluarkan peraturan yang membubarkan semua organisasi politik dan semua bentuk perkumpulan. Pada tanggal 8 September 1942 dikeluarkan UU no. 2 Jepang mengendalikan seluruh organisasi nasional.

Selain itu, Jepangpun melakukan propaganda untuk menarik simpati bangsa Indonesia dengan cara:

  • Menganggap Jepang sebagai saudara tua bangsa Asia (Hakko Ichiu)
  • Melancarkan semboyan 3A (Jepang pemimpin, Jepang cahaya dan Jepang pelindung Asia)
  • Melancarkan simpati lewat pendidikan berbentuk beasiswa pelajar.
  • Menarik simpati umat Islam untuk pergi Haji
  • Menarik simpati organisasi Islam MIAI.
  • Melancarkan politik dumping
  • Mengajak untuk bergabung tokoh-tokoh perjuangan Nasional seperti: Ir. Soekarno, Drs. M. Hatta serta Sutan Syahrir, dengan cara membebaskan tokoh tersebut dari penahanan Belanda.

Selain propaganda, Jepang juga melakukan berbagai tindakan nyata berupa pembentukan badan-badan kerjasama seperti berikut:

  • Putera (Pusat Tenaga Rakyat) dengan tujuan membujuk kaum Nasionalis sekuler dan intelektual agar menyerahkan tenaga dan pikirannya untuk mengabdi kepada Jepang.
  • Jawa Hokokai (Himpunan kebaktian Jawa) merupakan organisasi sentral dan terdiri dari berbagai macam profesi (dokter, pendidik, kebaktian wanita pusat dan perusahaan).

Penerapan sistem Autarki (daerah yang harus memenuhi kebutuhan sendiri dan kebutuhan perang). Sistem ini diterapkan di setiap wilayah ekonomi. Contoh Jawa menjadi 17 daerah, Sumatera 3 daerah, dan Meinsefu (daerah yang diperintah Angkatan Laut) 3 daerah. Setelah penyerahan kekuasaan dari Belanda kepada Jepang di Kalijati maka seluruh daerah Hindia Belanda menjadi 3 daerah pemerintahan militer:

Selain kebijakan politik di atas, pemerintah Militer Jepang juga melakukan perubahan dalam birokrasi pemerintahan, diantaranya adalah pembentukan organisasi pemerintahan di tingkat pusat dengan membentuk Departemen dan pembentukan Cou Sang In/dewan penasehat. Untuk mempermudah pengawasan dibentuk tiga pemerintahan militer yakni:

  • Pembentukan Angkatan Darat/Gunseibu, membawahi Jawa dan Madura dengan Batavia sebagai pusat dan dikenal dengan tentara ke enam belas dipimpin oleh Hitoshi Imamura.
  • Pembentukan Angkatan Darat/Rikuyun, yang membawahi Sumatera dengan pusat Bukit Tinggi (Sumatera Barat) yang dikenal dengan tentara ke dua puluh lima dipimpin oleh Jendral Tanabe.
  • Pembentukan Angkatan Laut/Kaigun, yang membawahi Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku dan Irian dengan pusatnya Ujung Pandang (Makasar) yang dikenal dengan Armada Selatan ke dua dengan nama Minseifu dipimpin Laksamana Maeda.

Untuk kedudukan pemerintahan militer sementara khusus Asia Tenggara berpusat di Dalat/Vietnam.

 

Aspek Ekonomi dan Sosial

Pada kedua aspek ini, Anda akan menemukan bagaimana praktek eksploitasi ekonomi dan sosial yang dilakukan Jepang terhadap bangsa Indonesia dan Anda bisa membandingkan dampak ekonomi dan sosial dengan dampak politis dan birokrasi. Hal-hal yang diberlakukan dalam sistem pengaturan ekonomi pemerintah Jepang adalah sebagai berikut:

  • Kegiatan ekonomi diarahkan untuk kepentingan perang maka seluruh potensi sumber daya alam dan bahan mentah digunakan untuk industri yang mendukung mesin perang. Jepang menyita seluruh hasil perkebunan, pabrik, Bank dan perusahaan penting. Banyak lahan pertanian yang terbengkelai akibat titik berat kebijakan difokuskan pada ekonomi dan industri perang. Kondisi tersebut menyebabkan produksi pangan menurun dan kelaparan serta kemiskinan meningkat drastis.
  • Jepang menerapkan sistem pengawasan ekonomi secara ketat dengan sanksi pelanggaran yang sangat berat. Pengawasan tersebut diterapkan pada penggunaan dan peredaran sisa-sisa persediaan barang. Pengendalian harga untuk mencegah meningkatnya harga barang. Pengawasan perkebunan teh, kopi, karet, tebu dan sekaligus memonopoli penjualannya. Pembatasan teh, kopi dan tembakau, karena tidak langsung berkaitan dengan kebutuhan perang. Monopoli tebu dan gula, pemaksaan menanam pohon jarak dan kapas pada lahan pertanian dan perkebunan merusak tanah.
  • Menerapkan sistem ekonomi perang dan sistem autarki (memenuhi kebutuhan daerah sendiri dan menunjang kegiatan perang). Konsekuensinya tugas rakyat beserta semua kekayaan dikorbankan untuk kepentingan perang. Hal ini jelas amat menyengsarakan rakyat baik fisik maupun material.

Pada tahun 1944, kondisi politis dan militer Jepang mulai terdesak, sehingga tuntutan akan kebutuhan bahan-bahan perang makin meningkat. Untuk mengatasinya pemerintah Jepang mengadakan kampanye penyerahan bahan pangan dan barang secara besar-besaran melalui Jawa Hokokai dan Nagyo Kumiai (koperasi pertanian), serta instansi resmi pemerintah. Dampak dari kondisi tersebut, rakyat dibebankan menyerahkan bahan makanan 30% untuk pemerintah, 30% untuk lumbung desa dan 40% menjadi hak pemiliknya. Sistem ini menyebabkan kehidupan rakyat semakin sulit, gairah kerja menurun, kekurangan pangan, gizi rendah, penyakit mewabah melanda hampir di setiap desa di pulau Jawa salah satunya: Wonosobo (Jateng) angka kematian 53,7% dan untuk Purworejo (Jateng) angka kematian mencapai 224,7%. Bisa Anda bayangkan bagaimana beratnya penderitaan yang dirasakan bangsa Indonesia pada masa Jepang (bahkan rakyat dipaksa makan makanan hewan seperti keladi gatal, bekicot, umbi-umbian).

Aspek Kehidupan Militer

Pada aspek militer ini, Anda akan memahami bahwa badan-badan militer yang dibuat Jepang semata-mata karena kondisi militer Jepang yang semakin terdesak dalam perang Pasifik.

Memasuki tahun kedua pendudukannya (1943), Jepang semakin intensif mendidik dan melatih pemuda-pemuda Indonesia di bidang militer. Hal ini disebabkan karena situasi di medan pertempuran (Asia – Pasifik) semakin menyulitkan Jepang. Mulai dari pukulan Sekutu pada pertempuran laut di Midway (Juni 1942) dan sekitar Laut Karang (Agustus ’42 – Februari 1943). Kondisi tersebut diperparah dengan jatuhnya Guadalacanal yang merupakan basis kekuatan Jepang di Pasifik (Agustus 1943).

Situasi di atas membuat Jepang melakukan konsolidasi kekuatan dengan menghimpun kekuatan dari kalangan pemuda dan pelajar Indonesia sebagai tenaga potensial yang akan diikutsertakn dalam pertempuran menghadapi Sekutu.

Dampak Positif dan Negatif Pendudukan Jepang di Indonesia

Masa Pendudukan Jepang di Indonesia adalah masa yang sangat berpengaruh bagi perkembangan Indconesia, selain itu hampir tidak adanya tantangan yang berarti kepada Belanda sebelumnya. Dalam masanya yang singkat itu, Jepang membawa dampak yang positif dan jua membawa dampak yang negatif bagi bangsa Indonesia pada umumnya. Pada umumnya kebanyakan beranggapan masa pendudukan Jepang adalah masa-masa yang kelam, akan tetapi tidak semuanya itu benar, ada juga yang membawa kebaikannya pula.

Dampak Positif Pendudukan Jepang

Tidak banyak yang mengetahui tentang dampak positifnya Jepang menduduki Indonesia. Ada pun dampak positif yang dapat dihadirkan antara lain :

  • Diperbolehkannya bahasa Indonesia untuk menjadi bahasa komunikasi nasional dan menyebabkan bahasa Indonesia mengukuhkan diri sebagai bahasa nasional.
  • Dalam bidang ekonomi didirikannya kumyai yaitu koperasi yang bertujuan untuk kepentingan bersama.
  • Mendirikan sekolah-sekolah seperti SD 6 tahun, SMP 9 tahun, dan SLTA
  • Pembentukan strata masyarakat hingga tingkat paling bawah yaitu rukun tetangga (RT) atau Tonarigumi
  • Diperkenalkan suatu sistem baru bagi pertanian yaitu line system (sistem pengaturan bercocok tanam secara efisien) yang bertujuan untuk meningkatkan produksi pangan.
  • Dibentuknya BPUPKI dan PPKI untuk mempersiapkan kemerdekaan Indonesia. Dari sini muncullah ide Pancasila.
  • Jepang dengan terprogram melatih dan mempersenjatai pemuda-pemuda Indonesia demi kepentingan Jepang pada awalnya, namun oleh pemuda hal ini dijadikan modal untuk berperang.
  • Dalam pendidikan dikenalkannya sistem Nipon sentris dan diperkenalkannya kegiatan upacara dalam sekolah.

Dampak Negatif Pendudukan Jepang

Selain dampak positifnya tadi diatas, Jepang juga membawa dampak negatif yang luar biasa antara lain :

  • Penghapusan semua organisasi politik
  • Romusha
  • Krisis ekonomi yang sangat parah : hal ini dikarenakan dengan disalurkannya uang pendudukan secara besar-besaran sehingga menyebabkan terjadinya inflasi.
  • Akibat dari self sufficiency yang terputusnya hubungan antar daerah
  • Pembatasan pers sehingga tidak ada pers yang independen, semuanya dibawah pengawasan Jepang.
  • Terjadinya kekacauan situasi dan kondisi yang parah seperti perampokan, pemerkosaan dan lain-lain.
  • Pelarangan terhadap buku-buku berbahasa Belanda dan Inggris yang menyebabkan pendidikan yang lebih tinggi terasa mustahil.
  • Banyak guru-guru yang dipekerjakan sebagai pejabat-pejabat pada masa itu yang menyebabkan kemunduran standar pendidikan secara tajam.

Sumber : http://id.wikipedia.org

Klik disini untuk melanjutkan »»

Kamis, 11 Agustus 2011

MANFAAT & KHASIAT K-LIQUID CHLOROPHYLL

. Kamis, 11 Agustus 2011
9 Pendapatmu

k-link-chlorofill

APA ITU K-LIQUID CHLOROPHYLL?


K-Liquid Chlorophyll adalah minuman kesehatan (Herbal Drink) yang bahan utamanya adalah sari klorofil dari daun Alfalfa (Medicago sativa), suatu herbal bernilai nutrisi tinggi.


KOMPOSISI:
Sari Daun Alfalfa yang mengandung : Sodium, Copper, Chlorophyllin, Vit A, B-Complex, C, E, Calsium, Magnesium, Pospor, Asam Amino, Alpha & Beta Carotine + UIE (Universe Induce Energy).


MANFAAT/KEGUNAAN:

  • Sebagai Anti Oxidant, baik untuk kesehatan mata, paru-paru, lambung, pencernaan dll.
  • Satu sendok makan K-Liquid Chlorophyll sama dengan 1 Kg sayur.
  • Memperlancar dan membersihkan darah dari segala bentuk racun dan zat kimia dalam tubuh.
  • Berfungsi sebagai anti kanker.
  • Menjaga keseimbangan Hormon dan keasaman dalam tubuh.
  • Menghalangi pertumbuhan bakteri dan mempercepat penyembuhan luka.
  • Meningkatkan daya serap nutrisi dan energi.

FUNGSI UTAMA K-LIQUID CHLOROPHYLL:
  • Cleansing
    Membersihkan sistem pencernaan, membersihkan darah, membunuh bakteri, mencegah infeksi dan detoksifikasi.
  • Balancing
    Menyeimbangkan kadar asam dan Alkali di dalam tubuh.
  • Nourishing
    Meregenerasi sel darah merah dan menstimulasi regenerasi sel.

PETUNJUK PEMAKAIAN:
  • Larutkan 1 (satu) sloki/sendok makan dalam segelas air putih.
  • Untuk anak-anak dibawah umur 12 tahun cukup larutkan 1/2 (setengah) sloki atau 1 (satu) sendok teh K-Liquid Chlorophyll.
  • Minum 3 (tiga) gelas sehari.
    (sebelum makan/perut kosong).


PENYAKIT YANG DAPAT DISEMBUHKAN :

  • Anemia (kurang darah)
  • Diabetes
  • Kolesterol, asam urat tinggi
  • Endometriosis, tumor rahim
  • Tumor kulit
  • Gangguan saluran kemih
  • Gonorrhea
  • Nyeri sendi (rheumatiod arthritis), nyeri tulang, nyeri otot (myalgia)
  • Radang tenggorokan, asma, bronkhitis
  • Sariawan, bau mulut, bau badan
  • Sakit maag (gastritis), sembeli, perut kembung, gangguan pencernaan lain
  • Kurang nafsu makan (Anoreksia)
  • Haid tidak teratur, nyeri haid
  • Badan kurus
  • Kegemukan
  • Luka baru, luka lama yang sukar sembuh
  • Gangguan kelenjar/hormon lain
  • Hepatittis dan gangguan liver lainnya
  • Badan lesu tidak bertenaga
  • Banyak lagi penyakit lainnya


Sumber : K-link.co.id

Klik disini untuk melanjutkan »»

Rabu, 20 Juli 2011

INILAH UU LALU LINTAS TERBARU TAHUN 2010

. Rabu, 20 Juli 2011
0 Pendapatmu

Rambu lalu lintasRambu-rambu Lalin
    Untuk para rider, biker mesti hati-hati nih untuk beberapa hari kedepan, kalo bisa sih seterusnya. Karena pihak kepolisian sedang galak-galaknya melakukan operasi patuh jaya 2011 yang dimana merazia setiap kendaraan (roda 2 dan roda 4 kecuali roda 3…hehehehehe) yang tidak sesuai dengan UU lalu lintas yang baru apalagi pelanggaran yg dibuat para pengendara. Baru aja Brother dari salah satu club motor (jgn ditiru) mengalami hal itu yg dimana padahal dia lupa menyalakan lampu utama saat siang hari. Walau dengan alibi atau alasan karena di parkiran ada yg iseng mainin saklar lampu jauh/dekat, karna yg nyala hanya lampu jauh sedangkan saklarnya ada di posisi lampu dekat so pasti di semprrrriiiiiiiiiiiittttttttttt oleh polisi yg sedang mengadakan operasi besar-besaran. So walau dengan alasan apapun poliss tidak akan memberikan ampun akan hal itu, jd dari pada para rider atau biker menjadi repot lantaran harus mengurus surat tilangnya ke pengadilan dan juga membutuhkan biaya disetiap pelanggaran yang dibuat jadi ada baiknya mematuhi UU lalu lintas, itupun sebetulnya untuk keselamatan para pengendara juga kok. Coba tengok UU Lalu lintas terbarunya :
Kenakan Helm Standar Nasional Indonesia (SNI)
Jangan lagi kenakan helm batok. Gunakanlah helm SNI. Selain karena alasan keselamatan, menggunakan helm jenis ini sudah menjadi kewajiban seperti diatur dalam Pasal 57 Ayat (2) dan Pasal 106 Ayat (8). Sanksi bagi pelanggar aturan ini, pidana kurungan paling lama satu bulan atau denda paling banyak Rp 250.000 (Pasal 291). Sanksi yang sama juga akan dikenakan bagi penumpang yang dibonceng dan tidak mengenakan helm SNI.
Pastikan Perlengkapan Berkendara Komplit
Bagi para pengendara roda empat atau lebih, coba pastikan kelengkapan berkendara Anda. UU Lalu Lintas No 22 Tahun 2009, dalam Pasal 57 Ayat (3) mensyaratkan, perlengkapan sekurang-kurangnya adalah sabuk keselamatan, ban cadangan, segitiga pengaman, dongkrak, pembuka roda, helm, dan rompi pemantul cahaya bagi pengemudi kendaraan bermotor roda empat/lebih yang tak memiliki rumah-rumah dan perlengkapan P3K. Bagaimana jika tak dipenuhi? Sanksi yang diatur bagi pengendara yang menyalahi ketentuan ini akan dikenakan pidana kurungan paling lama satu bulan atau denda paling banyak Rp 250.000, seperti diatur dalam Pasal 278
Tak Punya SIM? Denda Rp 1 Juta
Ketentuan yang satu ini mungkin harus menjadi perhatian lebih. Jika selama ini denda bagi pengendara yang tak punya SIM hanya sekitar Rp 20.000, UU Lalu Lintas yang baru tak mau memberikan toleransi bagi pengendara yang tak mengantongi lisensi berkendara. Sanksi pidana ataupun denda yang diterapkan tak lagi ringan. Setiap orang yang mengemudikan kendaraan bermotor di jalan dan tidak memiliki SIM, akan dipidana dengan pidana kurungan empat bulan atau denda paling banyak Rp 1 juta (Pasal 281).
Konsentrasi dalam Berkendara
Pasal 283 UU Lalu Lintas mengatur, setiap orang yang mengemudikan kendaraan bermotor di jalan secara tidak wajar dan melakukan kegiatan lain atau dipengaruhi oleh suatu keadaan yang mengakibatkan gangguan konsentrasi dalam mengemudi, dipidana dengan pidana kurungan paling lama tiga bulan kurungan atau denda paling banyak Rp 750.000
Perhatikan Pejalan Kaki dan Pesepeda
Para pengendara, baik roda dua maupun roda empat/lebih, harus mengutamakan keselamatan pejalan kaki dan pesepeda. Bagi mereka yang tidak mengindahkan aturan Pasal 106 Ayat (2) ini, dipidana dengan pidana kurungan paling lama dua bulan atau denda paling banyak Rp 500.000
Lengkapi kaca spion dan lain-lain
- Pengemudi sepeda motor
Diwajibkan memenuhi persyaratan teknis dan laik jalan yang meliputi kaca spion, klakson, lampu utama, lampu rem, lampu penunjuk arah, alat pemantul cahaya, alat pengukur kecepatan, knalpot, dan kedalaman alur ban (diatur Pasal 106 Ayat (3)). Sanksi bagi pelanggarnya diatur Pasal 285 Ayat (1), dipidana dengan pidana kurungan paling lama satu bulan atau denda paling banyak Rp 250.000.
- Pengemudi roda empat/lebih
Bagi pengendara roda empat/lebih diwajibkan memenuhi persyaratan teknis yang meliputi kaca spion, klakson, lampu utama, lampu mundur, lampu tanda batas dimensi badan kendaraan, lampu gandengan, lampu rem, lampu penunjuk arah, alat pemantul cahaya, alat pengukur kecepatan, kedalaman alur ban, kaca depan, spakbor, bumper, penggandengan, penempelan, dan penghapus kaca. Pasal 285 Ayat (2) mengatur, bagi pelanggarnya akan dikenai sanksi pidana paling lama dua bulan kurungan atau dendan paling banyak Rp 500.000.
STNK, Jangan Lupa
Setiap bepergian, jangan lupa pastikan surat tanda nomor kendaraan bermotor sudah Anda bawa. Kalau kendaraan baru, jangan lupa membawa surat tanda coba kendaraan bermotor yang ditetapkan Polri. Jika Anda alpa membawanya, sanksi kurungan paling lama dua bulan atau denda paling banyak Rp 500.000 akan dikenakan bagi pelanggarnya (Pasal 288 Ayat (1)).
SIM Harus yang Sah Ya…
Pasal 288 Ayat (2) mengatur, bagi setiap orang yang mengemudikan kendaraan bermotor di jalan yang tidak dapat menunjukkan SIM yang sah dipidana dengan pidana kurungan paling lama satu bulan dan/atau denda paling banyak Rp 250.000.
Pengemudi atau Penumpang Tanpa Sabuk Pengaman, Sanksinya Sama
Ini harus jadi perhatian bagi pengemudi mobil dan penumpangnya. Jangan lupa mengenakan sabuk pengaman selama perjalanan Anda. Selain untuk keselamatan, juga untuk menghindari sanksi pidana kurungan paling lama satu bulan atau denda paling banyak Rp 250.000 seperti diatur dalam Pasal 289.
Nyalakan Lampu Utama pada Malam Hari
Saat berkendara pada malam hari, pastikan lampu utama kendaraan Anda menyala dengan sempurna. Bagi pengendara yang mengemudikan kendaraannya tanpa menyalakan lampu utama pada malam hari, dipindana dengan pidana kurungan paling lama satu bulan atau denda paling banyak Rp 250.000 (Pasal 293).
Wajib Nyalakan Lampu pada Siang Hari
Para pengendara motor yang berkendara pada siang hari diwajibkan menyalakan lampu utama. Sekarang, sudah bukan sosialisasi lagi. Bagi pelanggarnya akan dipidana dengan pidana kurungan paling lama 15 hari atau denda paling banyak Rp 100.000.
Berbelok, Berbalik Arah, Jangan Lupa Lampu Isyarat!
Setiap pengendara yang akan membelok atau berbalik arah, diwajibkan memberikan isyarat dengan lampu penunjuk arah atau isyarat tangan. Jika melanggar ketentuan ini, Pasal 284 mengatur sanksi kurungan paling banyak satu bulan atau denda Rp 250.000
Jangan Sembarangan Pindah Jalur
Para pengemudi yang akan berpindah jalur atau bergerak ke samping, wajib mengamati situasi lalu lintas di depan, samping dan dibelakang kendaraan serta memberikan isyarat. Jika tertangkap melakukan pelanggaran, akan dikenai sanksi paling lama satu bulan kurungan atau denda Rp 250.000 (Pasal 295)
Stop! Belok kiri tak boleh langsung
Ini salah satu peraturan baru dalam UU Lalu Lintas yang baru. Pasal 112 ayat (3) mengatur, pengemudi kendaraan dilarang langsung berbelok kiri. Bunyi pasal tersebut “Pada persimpangan jalan yang dilengkapi dengan alat pemberi isyarat lalu lintas, pengemudi kendaraan dilarang langsung berbelok kiri, kecuali ditentukan lain oleh rambu lalu lintas atau pemberi isyarat lalu lintas”.
Balapan di Jalanan, Denda Rp 3 Juta!
Pengendara bermotor yang balapan di jalan akan dikenai pidana kurungan paling lama satu tahun atau denda paling banyak Rp 3.000.000 (Pasal 297)
Sesuaikan Jalur dengan Kecepatan
Ketentuan mengenai jalur atau lajur merupakan salah satu ketentuan baru yang dimasukkan dalam UU Lalu Lintas Nomor 22 Tahun 2009, yang diatur dalam Pasal 108. Agar menjadi perhatian, selengkapnya bunyi pasal tersebut adalah
(1) Dalam berlalu lintas pengguna jalan harus menggunakan jalur jalan sebelah kiri
(2) Penggunaan jalur jalan sebelah kanan hanya dapat dilakukan jika
a. pengemudi bermaksud akan melewati kendaraan di depannya; atau
b. diperintahkan oleh petugas Kepolisian Negara Republik Indonesia untuk digunakan sementara sebagai jalur kiri
(3) Sepeda motor, kendaraan bermotor yang kecepatannya lebih rendah, mobil barang, dan kendaraan tidak bermotor berada pada lajur kiri jalan.
(4) Penggunaan lajur sebelah kanan hanya diperuntukkan bagi kendaraan dengan kecepatan lebih tinggi, akan membelok kanan, mengubah arah atau mendahului kendaraan lain.

Sumber ini didapat : http://jasadh.wordpress.com

Klik disini untuk melanjutkan »»

Selasa, 19 Juli 2011

2 TAHUN PERNIKAHANKU

. Selasa, 19 Juli 2011
0 Pendapatmu

DSC_0969

 

2 Tahun adalah waktu yang masih relatif baru untuk perjalanan pernikahan kami ( FX. Eko Hadi Kristiyanto & Angel Littha Wahyuningsih ) sehingga kami harus sering berdoa & belajar untuk mengartikan kehidupan berumah tangga. Dlm waktu itu pun kami berdua selalu mengalami pahitnya berumah tangga yaitu perbedaaan pendapat, keadaan keuangan yg belum baik & keadaan2 yang belum pernah kami rasakan dalam berumah tangga. Tapi kami berusaha untuk menjalani rintangan-rintangan itu semua dengan cara kami berdua dengan berkat Tuhan Yesus yang selalu menyertai keluarga kami ini. Dan bertambah bahagianya kehidupan rumah tangga kami dengan adanya buah hati kami Ecclesya Hadtha Christalyant yang sudah berumur 1 tahun 2 bulan yang membuat kami selalu tabah dalam menghadapi rintangan-rintangan kehidupan. Disetiap hari saling pengertian, saling mencintai, saling menghargai, saling memberi, saling menerima, saling membantu, saling bersyukur satu sama lain, dan banyak lagi kata saling yang bisa membuat kami bersatu.

 

Ya Tuhan hadirkanlah kasih sayang dikeluarga kecilku dan buatlah kami merasakan seperti pengantin baru. Kuatkan kami dalam menghadapi badai rumah tangga yang selalu menerjang dan hanya dengan kasih-Mu yang selalu menyertai kami dapat melaluinya. Berikanlah kesehatan kepada keluarga kecilku ini, jadikan kami bersatu hingga kakek nenek dan hanya maut yang dapat memisahkan kami sesuai janji nikah kami. Amin “

DSC02200

Klik disini untuk melanjutkan »»

Rabu, 13 Juli 2011

RIWAYAT ST. ALOYSIUS GONZAGA

. Rabu, 13 Juli 2011
0 Pendapatmu

 Saint Aloysius Gonzaga-3Santo Aloysius Gonzaga

Aloysius (Luigi) Gonzaga, putra tertua Marchese (bangsawan) dari Castiglione, dilahirkan pada tanggal 9 Maret 1568. Meski baru berusia 4 tahun, Luigi diajak dalam ekspedisi latihan untuk mengenak dunia militer. Pada kesempatan ini, biasanya Luigi kecil akan mengenakan seragam tentara dan akan berjalan disamping ayahnya memeriksa pasukan.

  Namun, permainan tentara ini harus ditinggalkan ketika Luigi terserang penyakit malaria. pada usia 7 tahun, ia bertobat dari cara hidup berkebangsawanan untuk memulai kehidupan yang lebih mengutamakan hal batiniah. Sejak saat itu, ia mulai berdoa dan mendaraskan mazmur-mazmur. Ketika ayahnya kembali ke spanyol pada tahun 1576, ia mendapati putranya yang berusia 8 tahun itu sudah menjadi seperti seorang dewasa, dan ia sudah menganggapnya sebagai ahli waris Castiglione yang pantas. Karena ia adalah anak tertua, masa depan Aloysius sudah ditentukan. Tetapi sementara ayahnya memikirkan Aloysius sebagai pengikut langkahnya. Pada tahun 1577, Aloysius dan adiknya, Rodolfo, dibawa ke Firenze (Florence) kepada seorang bangsawan kawan ayah mereka seorang Adipati, Duke Francesco de Medici. Di istana bangsawan itu, mereka tinggal untuk mengetahui adat istiadat kebiasaan seorang bangsawan. Keluarga Medici adalah salah satu keluarga bangsawan yang paling berkuasa di Eropa.

Saint Aloysius Gonzaga-2

Tetapi pada saat yang sama dalam keluarga itu, intrik dan kebohongan merajalela; pisau belati dan racun adalah alat untuk menyelesaikan masalah. Dikelilingi suasana demikian itu, Aloysius yang berjiwa peka menarik diri dan menolak untuk ambil bagian dalam perlombaan-perlombaan orang Firence. Hanya dengan cara inilah, ia dapat menghindari dosa. Demikian muak ia dengan jalan hidup ini sehingga pada suatu hari pada tahun 1578, selagi berada didalam Gereja  Maria annunciata, ia membuat sebuah keputusan kuat untuk tidak pernah menyakiti Tuhan dengan dosa.

   Dari Firence, Aloysius dikirim ke Mantua pada November 1579. Disana, ia hidup bersama sanak saudara. Salah seorang mempunyai kapel pribadi yang sangat menarik hatinya. Di sini, ia membaca buku kehidupan Para Kudus dan tetap asyik mendaraskan mazmur-mazmur. Dari pendarasan mazmur harian inilah, pikiran menjadi seorang imam muncul. Aloysius kembali ke Castiglione pada tahun 1580. Dalam perpustakaan keluarga, ia menemukan ringkasan ajaran kristiani, karangan Petrus Kanisius dengan meditasi-meditasi untuk setiap hari pada akhir buku itu. Aloysius menggunakan meditasi-meditasi itu untuk doanya dan mulai merasakan buah-buah rohani.

  Carolus Borromeus, yang menjadi katedral di Malino, tiba di Castiglione pada kunjungan di keuskupan Agung itu. Ia bertemu dengan Aloysius yang berusia 12 tahun dan terkesan oleh anak itu. Dalam pembicaraan-pembicaraan, Kardinal itu mendengar bahwa anak muda belum menerima komuni Pertama, maka beliau mempersiapkan Aloysius. Pada tanggal 22 Juli, beliau sendiri menerimakan komuni pertama kepada Aloysius. Sesudah itu Aloysius selalu rindu untuk menerima komuni. Aloysius juga berpuasa tiga hari seminggu, bermeditasi pagi dan sore, serta menghadiri misa setiap hari sejauh mungkin.

  Pada Tahun 1581, ketika Maria dari Austria, janda kaisar Maximilianus II, melewati italia dalam perjalanan pulangnya ke Spanyol, ayah Aloysius memutuskan supaya keluarganya mengantarkan ke Madrid. Aloysius bersama Maria tiba di Madrid pada tanggal 7 Maret 1582. Ia menjadi pelayan pendaping adipati dari Austrias dan kemudian diangkay menjadi kstaria. Pada saat itu, Aloysius sudah yakin bahwa kehidupan bangsawan bukanlah untuk dia.

  Di Madrid itupula ia mempunyai Bapa pengakuan seorang Yesuit dan makin lama semakin terpikir menjadi seorang Yesuit. Hasrat itu dikuatkan pada tanggal 15 Agustus 1583, ketika ia sedang berdoa didepan patung Bunda Maria di gereja Yesuit. Dalam hati ia merasa inilah yang Tuhan minta darinya dan setelah meninggalkan gereja itu ia pergi ke bapa pengakuannya untuk memberitahukan keputusannya. Namun bapa pengakuannya menerangkan bahwa sekarang harus memperoleh izin dari ayahnya.

  Mendengar bahwa putra tertua dan ahli warisnya ingin meninggalkan warisan keluarganya demi hidup imamat, sang Marchese menjadi marah. Karena ayah dan anak sama-sama teguh dalam pendirian mereka masing-masing. Maka suatu ketegangan terjadi dalam hubungan mereka. Mengira bahwa ia dapat mengubah kehendak putranya, Sang Marchese membawa keluarganya kembali ke Castiglione pada tahun 1584. Lalu ia mengirim Aloysius dan adiknya untuk mengunjungi pelbagai istana di Italia, dengan harapan bahwa Aloysius akan meninggalkan pikirannya untuk menjadi imam. Ketika Aloysius kembali dari perjalanannya itu, ia belum juga mengubah keputusannya. Akhirnya sang ayah jemu dan memberika persetujuan. Pada awal bulan November tahun itu, Aloysius meninggalkan warisannya, pergi ke Roma dan menghadap Pater Jendral Caludio Aquaviva. Ia masuk novisiat Serikat Yesus pada tanggal 25 November 1585.

  Aloysius baru berusia tujuh belas setengah tahun, namun ia novisiat, ia sudah dewasa karena latar belakang dan perjuangannya. Motto yang memimpin ia ke novisiat ia pegang selama tahun-tahun beikut : “ Saya ibarat sepotong besi yang telah bengkok. Saya masuk biara agar diluruskan kembali.” Aloysius memberikan secara total ke dalam proses untuk menjadi seorang Yesuit. Setelah mengakhiri masa novisiatnya, ia pindah ke kolese Roma untuk menyelesaikan studi filsafatnya. Ia telah mulai studi filsafat ketika berada di istana raja di Madrid. Ia mengucap ketiga kaulnya (Kemiskinan, Kemurnian dan ketaatan) pada tanggal 25 November 1587.

Saint Aloysius Gonzaga-1

  Kemudian ia melanjutkan studinya dengan belajar teologi dan ia terbukti sebagai mahasiswa yang cemerlang dengan otak yang encer. Dalam tahun 1589, ia kembali ke Castiglione untuk waktu yang cukup lama demi mendamaikan saudaranya Rodolfo dengan Adipati Mantua. Setelah berhasil dalam soal ini, ia kembali ke Roma pada bulan Mei 1590.

  Pada awal tahun berikutnya, 1590, terjadilah wabah dan kelaparan di Italia. Aloysius mengumpulkan dana dengan mengemis di Roma bagi daerah-daerah yang terkena wabah. Kemudian ia bekerja langsung merawat orang-orang sakit.  Ia mengangkut orang-orang yang hampir mati dijalan raya, membawanya kerumah sakit, memandikan mereka dan memberi mereka  makan serta mempersiapkan mereka untuk penerimaan sakramen-sakramen. Keadaan jasmaninya berontak ketika berhadapan dengan penyakit, darah dan segala yang kotor berbau. Sekali demikian, ia mengatasi rasa jijik itu untuk membantu mereka yang membutuhkan pertolongan. Pada suatu malam, ia kembali dari rumah sakit. Ia berkata kepada pembimbing rohaninya, Pater Robertus Bellarminus, “Saya merasa hari-hari saya tak akan lama lagi. Saya merasakan kerinduan begitu besar untuk bekerja dan melayani Tuhan sehingga saya tidak bisa percaya Tuhan telah memberikan itu sekiranya ia tidak bermaksud mengambil saya dengan segera.”

  Karena banyak Yesuit muda mulai terkena penyakit itu, Pater Superior melarang Aloysius untuk kembali ke rumah sakit. Ketika Aloysius mengajukan lagi permintaan untuk melayani orang-orang sakit, ia diberi izin, tetapi hanya untuk membantu Rumah Sakit Santa Perawan Maria Penghibur. Di sana, pasien-pasien dengan penyakit menular biasanya tidak diterima. Aloysius pergi kesana, mengangkat seorang pasien dari tempat tidurnya, merawatnya dan mengembalikannya ke tempat tidur semula. Ternyata orang itu terkena penyakit menular dan Aloysius ketularan penyakit itu dan terpaksa istirahat pada tanggal 3 Maret 1591.

Apapun akan berharga bagi keabadian.”

  Untuk sementara waktu, penyakit itu bertambah hebat, tetapi kemudian Aloysius sembuh dan infeksinya reda. Namun demikian, penyakit itu telah menjadikannya begitu lemah sehingga tak pernah pulih kembali. Demam serta batuk muncul selama beberapa minggu ia tetap hidup tapi kesehatannya semakin mundur. Dalam doa, Aloysius diberitahu bahwa ia akan meninggal pada hari Raya Tubah dan Darah Kristus. Ketika hari itu tiba, yaitu 21 Juni 1591, ia tampak lebih segar daripada hari sebelumnya. Ia memohon sakramen Bekal Suci, tetapi pembesarnya menolaknya karena kelihatannya Aloysius tidak akan mati dalam waktu singkat. Malam itu, untuk kedua kalinya ia meminta Bekasl Suci, dan supaya pasien itu tenang, lalu diatur baginya agar menerima sakramen tersebut. Dua orang Imam tinggal bersama dia pada malam itu. Sesaat sesudah pukul 10, rasa sakit lambungnya yang terluka semakin hebat dan tak tertahan lagi.

  Maka ia minta supaya badanya diangkat sedikit. Ketika kedua Yesuit itu datang mendekat, mereka mengamati bahwa wajahnya mulai berubah dan mereka menyadari bahwa Aloysius yang muda ini akan wafat. Aloysius mengarahkan pandangan matanya kepada salib yang ia pegang, dan sewaktu mencoba menyebut nama Yesus, ia meninggal dunia.

  Aloysius Gonzaga berusia 23 tahun saat wafat. Ia dimakamkan di Gereja Anunciata, disamping Kolese Roma. Di kemudian hari, jenasahnya yang suci dipindahkan ke Gereja Santo Ignasius. Di sana, jenasahnya dihormati sampai hari ini. Aloysius Gonzaga adalah orang kudus Tuhan. Ini terlihat dari motto Aloysius : “ apapun akan berharga bagi keabadian.” Di atas segalanya, ia mencintai kerendahan hati dan doa. Baginya, doa menjadi sangat penting bagi semua pengetahuan; cinta diterima dalam batin melalui doa kontemplatif. Aloysius mempunyai empat devosi khusus. Pertama, devosi kepada Sakramen Maha Kudus. Ia membagi hari-harinya dalam satu minggu menjadi dua; yang pertama, untuk mengucap syukur atas komuni suci yang telah diterimanya terkahir kali, dan yang kedua, untuk menyiapkan dirinya dalam penerimaan Komuni Suci mendatang. Devosi kedua ditujukan kepada sengsara kristus. Pengalaman Aloysius dalam penderitaan dan penyesahan diri secara alami membawanya pada pencarian misteri penderitaan Kristus sebagai sebuah model untuk menjadi kuat dan tenteram. Devosi ketiga adalah devosi kepada Bunda Maria. Devosi ini menunjukkan ia mempunyai cinta yang dalam kepada Bunda Maria. Yang terakhir adalah devosi kepada Para Malaikat. Ini terlihat dari tulisan-tulisan utamanya yang berbicara tentang malaikat penjaga dan kesembilan malaikat Surga yang bernyanyi memuji Tuhan. Mata hati yang selalu tertuju pada hal-hal surgawi adalah bukti bahwa hidupnya terarah pada Sang Raja Abadi. Melihat hidup, Doa, karya, dan semua keutamaan yang dimilikinya, Aloysius menjalani hidupnya dalam kesucian. Oleh karena itu, ia diberi gelar Beato oleh Paulus V pada tanggal 19 Oktober 1605 dan dinyatakan sebagai Santo oleh Paus Benedictus XIII pada tanggal 31 desember 1726. Pesta Santo Aloysius dirayakan setiap tanggal 21 Juni.

 

 

Sumber : Gema ed. HUT ke 32 Paroki Aloysius Gonazaga-Cijantung

Klik disini untuk melanjutkan »»

Rabu, 06 Juli 2011

PAROKI CIJANTUNG ST. ALOYSIUS GONZAGA

. Rabu, 06 Juli 2011
0 Pendapatmu

Paroki Cijantung-DepanGedung Paroki St. Aloysius Gonzaga

 

PROFILE PAROKI
Buku Paroki :
Pada tanggal 21 Juni 1979 resmi menjadi paroki ke-32 di KAJ. Peletakan batu pertama pembangunan gedung gereja dilangsungkan tanggal 17 Februari 1980. Diberkati oleh Uskup Agung Leo Soekoto, SJ dan diresmikan pemakaiannya oleh Gubernur DKI Jakarta Letjen Purn. Tjokropranolo pada tanggal 23 November 1980.

Alamat Paroki :
Jl. Pendidikan III/2, Cijantung II, Jakarta Timur 13770
Telepon 8400465, 8408958


Pastor Paroki :
Agustinus Malo Bolu, CSsR

Statistik umat (per Agustus 2006)
Jumlah Wilayah      : 12
Jumlah Lingkungan : 43
Jumlah KK             : 1,910 KK
Jumlah umat          : 8,500 jiwa


Batas wilayah :
a. Sebelah utara berbatasan dengan Condet Batuampar, wilayah Paroki Cililitan
b. Sebelah barat berbatasan dengan sungai Ciliwung yang memisahkan paroki Cijantung dengan Paroki Jagakarsa.
c. Sebelah timur berbatasan dengan jalan tol Jagorawi yang memisahkan paroki Cijantung dengan paroki Kalvari (timur laut) dan paroki Cilangkap (timur)
d. Sebelah selatan berbatasan dengan propinsi Jawa Barat di mana paroki terdekat adalah Paroki St. Thomas, Kelapa Dua


UMAT PERDANA - Cikal bakal itu tumbuh dari komunitas tentara
Berdirinya paroki St. Aloysius Gonzaga Cijantung tidak terlepas dari peranan Pusat Rawatan Rohani Katolik TNI AD beserta keluarga Katolik baik sipil maupun militer yang berada di wilayah Cijantung. Selama belasan tahun mereka menghidupi kebutuhan rohaninya dengan berbagai kegiatan-kegiatan sekitar altar. Sejarah mencatat bahwa merekalah sesungguhnya penabur benih-benih sebagai cikal bakal umat di paroki ini. Bagaimana kisah ini berawal, berikut ini adalah penuturan beberapa saksi hidup yang mencoba meniti kembali perjalanan mereka.
Bermula dari adanya proyek pembangunan perumahan Angkatan Darat yang diberi nama Proyek Gatot Subroto. Proyek ini muncul sekitar tahun 1960-an, yang merupakan rencana yang sudah diatur oleh TNI khususnya Angkatan Darat. Saat itu sudah banyak perumahan TNI AD yang dibangun seperti komplek Rajawali, Gunung Sahari, Ksatrian dan Kota namun jumlahnya tidak memungkinkan lagi menampung anggotanya sehingga perlu dilakukan penambahan mengingat area yang ada sangat terbatas. Daerah Cijantung menjadi salah satu pilihan untuk mengembangkan proyek ini karena memiliki lahan yang sangat luas yang terbentang sepanjang komplek Cijantung I (RPKAD), Cijantung II (Komplek Perwira dan Komplek Sederhana). Bahkan di kemudian hari pembangunan perumahan ini mencapai tahap berikutnya hingga mencapai daerah Cijantung III (Komplek Yonkav 7), dan Cijantung IV (Komplek Hubad, Komplek Yonkav 1).


Adanya proyek ini menjadikan banyak perpindahan anggota tentara AD dari daerah Kota menuju Cijantung secara besar-besaran. Dalam proses pemindahan ini sangat dimungkinkan terdapat beberapa tentara yang beragama Katolik namun jumlahnya sangat sedikit. Tidak mudah menjumpai umat Katolik di sekitar wilayah Cijantung I dan II karena mereka tersebar ke berbagai komplek. Melalui beberapa perjumpaan dengan segelintir orang Katolik dan demi memenuhi kebutuhan rohani akhirnya diadakan pertemuan rutin yang dihadiri beberapa orang Katolik. Sejak itu terbentuklah sebuah komunitas orang Katolik TNI AD di Cijantung.
Adanya komunitas ini sangat membantu diantaranya mengatur keberangkatan anggota yang ingin pergi mengikuti misa hari Minggu ke paroki terdekat. Biasanya mereka mengikuti perayaan ekaristi di paroki Bidaracina (Polonia) atau malah di Gereja Katedral. Bagi anggota yang mempunyai kendaraan sendiri dapat membawa sebagian dari mereka untuk berangkat bersama-sama sementara bagi yang tidak mendapatkan fasilitas kendaraan maka komunitas ini yang berusaha meminjam kendaraan dinas. Pada masa itu di mana alat transportasi tidak mudah dijangkau, rasanya terlalu jauh dan amat sulit jika harus menghadiri misa hari Minggu tanpa memakai kendaraan.
Seiring dengan perjalanan waktu, perkembangan umat semakin lama semakin bertambah meski belum mencapai angka ratusan. Di antara mereka sudah saling mengenal satu dengan yang lainnya. Maka tidaklah mengherankan jika ikatan emosional di antara mereka sangat kental bagai keluarga sendiri.
Ada suatu pengharapan di dalam benak mereka seandainya mereka bisa mengadakan suatu misa di komplek mereka sehingga tidak perlu pusing-pusing lagi untuk mencari kendaraan pergi dan pulang antara Cijantung dan Bidaracina. Berawal dari pengharapan inilah akhirnya, demi menanggapi kebutuhan ini, mereka mencoba mewujudkannya dengan menghubungi bagian Pusat Rawatan Rohani (Pusroh) Katolik TNI AD yang berada di Jalan Gunung Sahari. Tujuannya sudah jelas yaitu agar diusahakan ada misa kudus di komplek Cijantung. Permintaan itu tidak serta merta langsung dikabulkan karena harus dikaji terlebih dahulu di antaranya adalah bahwa untuk menyelenggarakan suatu misa kudus umat yang terlibat paling sedikit harus 50 orang, sementara umat perdana di Cijantung hanya ada 12 keluarga. Maka demi mencukupi quota ini, beberapa aktivis, sebut saja salah satunya adalah Bapak FX Djokosoejono, berinisiatif mendatangkan beberapa anggota yang adalah para katekis militer dari komplek Jalan Gunung Sahari, komplek Rajawali, dan komplek Ksatrian untuk ikut serta dalam perayaan ekaristi tersebut.
Sejarah mencatat bahwa misa perdana bagi umat Cijantung terwujud pada tahun 1962. Pastor Ch. Widjajasuparto, Pr dari Pusroh Katolik AD yang mempersembahkan misa ini dan dihadiri oleh 12 KK ditambah beberapa orang katekis. Sejak saat itu, umat Cijantung bisa mengikuti perayaan ekaristi tanpa harus jauh-jauh pergi ke Paroki Bidaracina. Untuk selanjutnya penyelenggaraan misa ini hanya dilaksanakan sebulan sekali dengan tempat yang selalu berpindah-pindah dari rumah ke rumah mengingat jumlah mereka masih sedikit.
Dapat dibayangkan bahwa dalam setiap pertemuan yang sebulan sekali itu terbangun suasana yang lebih akrab dan hangat. Kadang-kadang selepas pertemuan itu masih dilanjutkan dengan acara yang lain, sebut saja misalnya permandian bayi, upacara perkawinan dan pelajaran agama. Walaupun pertemuan - pertemuan berjalan cukup panjang dan melelahkan, umat tetap semangat dan tidak merasa bosan.
Melihat antusias yang begitu besar, akhirnya Pusrohkat AD menunjuk Bapak FX Djokosoejono sebagai penanggungjawab komunitas di wilayah ini khususnya dalam hal penyelenggaraan misa. Tugas ini meliputi mencari pastor, menyiapkan tempat untuk misa hingga memobilisasi umat agar bisa datang menghadiri misa sebanyak-banyaknya.
Memasuki tahun 1964 umat Cijantung telah berjumlah 125 jiwa. Jumlah sebanyak ini rupanya sudah tidak mungkin lagi menyelenggarakan misa dari rumah ke rumah. Ketika jumlah umat semakin bertambah, maka kebutuhan tempat untuk berkumpul yang lebih memadai mulai dirasakan. Mulai saat itulah perayaan ekaristi dilaksanakan dengan berpindah-pindah dari satu gedung ke gedung yang lain. Sebut saja salah satunya adalah ruang kelas SD Persit KWK Cijantung II. Kemudian dari sini lalu pindah di ruang tunggu Poliklinik Kesdam V/Jaya Cijantung II. Di tempat ini diperlukan persiapan-persiapan yang cukup lama mulai dari mengepel lantai, mengubah ruang loket menjadi ruang pengakuan dosa dan mengatur bangku-bangku. Sementara itu pastor yang memimpin perayaan ekaristi masih didatangkan dari Jalan Gunung Sahari.
Dari poliklinik lalu kemudian pindah lagi ke ruang kantin RPKAD di Cijantung I. Di tempat ini segala kesibukan masih tetap sama, bahkan harus lebih cepat lagi mengingat seusai perayaan ekaristi segera disusul upacara kebaktian dari saudara-saudara yang beragama Kristen Protestan. Di tempat ini pula perayaan Natal dan Paskah serta upacara-upacara perkawinan pernah diadakan. Kemudian dari ruang kantin RPKAD pindah lagi ke koridor barak bujangan anggota RPKAD. Di kemudian hari misa itu berpindah ke salah satu ruang belajar prajurit di deretan kantor resimen.
Begitulah situasi yang terjadi saat itu. Kebutuhan tempat ibadat begitu sangat mendesak yang membuat para aktivis ini harus menyiapkan tempat yang cukup luas, mengubahnya menjadi altar lalu harus pula berpindah-pindah. Sungguh suatu perjuangan yang berat yang harus dilakoni sebagai konsekuensi logis terpenuhinya kebutuhan rohani demi berkembangnya iman umat.
Beberapa aktivis lain, antara lain Bpk. R.F. Soedirdjo merintis suatu wadah pendidikan tingkat SLTP pada tahun 1965 yang diberi nama SMP Gatot Soebroto. Sekolah ini menempati 4 buah gudang RPKAD di komplek Cijantung I. Sekolah yang dikelola bersama oleh Bapak M. Soemardi dan Bapak FX Djokosoejono ini mendatangkan guru pengajar dari para katekis militer yang berasal dari Gunung Sahari, Ksatrian-Bearland, dan Rajawali. Para katekis yang menjadi membantu mengajar itu antara lain Kapten YM Barus, Letnan F. Winardi, Letnan Sumasto, Letnan MYB Suyanto, Kapten RE. Soeharto dan Romo F. Salim. Usaha ini banyak dibantu oleh Letkol Sarwo Edhi Wibowo, komandan RPKAD waktu itu, dan Pusroh Katolik AD. Kontribusi yang tidak bisa dilupakan adalah sejak SMP ini berdiri pelaksanaan ibadat mempunyai tempatnya yang agak tetap dengan memakai salah satu ruang di sekolah ini. Perayaan ekaristi menjadi dua kali sebulan ditambah misa Jumat pertama pada sore hari. Pada tahun itu jumlah umat mencapai 200 jiwa. Pada perkembangan selanjutnya, sejak tahun ajaran 1972, SMP Gatot Soebroto ini dijadikan sekolah negeri dengan nama SMP Negeri 103 Jakarta
Dua tahun kemudian, tepatnya 1967 atas prakarsa kepala Pusrohkat AD, dalam hal ini Romo Letkol N. Pudjohandojo, Pr didirikanlah SMAK Ign. Slamet Riyadi (pernah diwartakan dalam iklan untuk pembukaannya di harian Kompas) sebagai kelanjutan jenjang pendidikan SMP yang telah dirintis sebelumnya. Prakarsa ini direstui oleh Uskup Agung Jakarta Mgr. A. Djajasepoetra, SJ. Sekolah ini menempati komplek yang sama dengan SMP Gatot Soebroto di komplek gudang RPKAD Cijantung I. Tempat ibadat dari SMP Gatot Subroto kemudian dipindahkan ke aula sekolah ini.
Pada akhir 1968 utusan umat Cijantung yaitu alm. Bapak Heribertus Slamet dan Bapak FX Djokosoejono datang menghadap Uskup Agung Mgr. Djajasepoetra di Klender untuk memohon agar Keuskupan Jakarta berkenan membangun kelas-kelas untuk belajar bagi siswa-siswi SMAK Ign. Slamet Riyadi di tanah hibah TNI AD ke Pusrohkat AD yang kini ditempati oleh Yayasan Ign. Slamet Riyadi. Permohonan yang disaksikan oleh Romo Looyman SJ itu dikabulkan dengan syarat akan dibangun tiga kelas dan sebuah aula yang harus dipakai untuk penyelenggaraan misa.
Tahun 1969 jumlah umat telah mencapai 300 jiwa. Perayaan ekaristi dan ibadat sabda masih tetap dilakukan dua kali dalam sebulan. Tempat ibadat akhirnya menggunakan aula SMAK Ign. Slamet Riyadi yang baru didirikan oleh keuskupan Jakarta. Dalam ibadat sabda umat dapat menyambut komuni kudus yang disiapkan dari Paroki Bidaracina.
Umat Cijantung terus berkembang baik dalam jumlah maupun partisipasinya. Awamlah yang senantiasa menggerakkan kehidupan menggereja ini. Ketika pelayanan pastoral menjadi sangat minim saat itu peranan awam justru menjadi ujung tombaknya. Memang hidup menggereja tidak hanya menjadi urusan kaum klerus tetapi juga awam. Dan ini sungguh terbukti di Cijantung yang berkembang melalui semangat menggereja kaum awamnya yang cukup konsisten dalam menanggapi kebutuhan rohani umat. Ini sejalan dengan apa yang disampaikan oleh Bapak Stepanus Mujilan, yang namanya mulai dikenal di KAJ ketika 1973 mengunjungi umat Cijantung untuk turut membangkitkan semangat partisipasi umat. Pada saat itu jumlah umat Cijantung telah mencapai lebih dari 500 jiwa.
MENYANDANG STATUS STASI Setelah 12 tahun perkembangannya
Sejak misa perdana diselenggarakan pada tahun 1962 yang dilaksanakan oleh Pusrohkat TNI AD kehidupan menggereja umat semakin lama semakin meningkat malah cenderung berkembang. Beberapa pelayanan pastoral selain misa juga diadakan seperti permandian bayi, pemberkatan perkawinan dan sebagainya. Namun karena Pusrohkat itu tidak memiliki kewenangan territorial di Keuskupan Agung Jakarta maka segala tanggung jawab administrasi umat menjadi kewenangan keuskupan. Untuk itu segala pelayanan pastoral yang terkait dengan administrasi diserahkan sepenuhnya kepada paroki terdekat yang waktu itu berada di paroki Santo Antonius Padua, Bidaracina. Maka sejak itulah Cijantung menjadi bagian dari wilayah Paroki Bidaracina dengan pelayanan pastoral sepenuhnya ditangani oleh Pusrohkat TNI AD.
Yang menjadi pertanyaan adalah apakah Cijantung waktu itu sudah pantas menyandang status stasi di bawah Paroki Bidaracina? Tidak ada catatan resmi mengenai hal ini namun dari beberapa nara sumber yang sudah digali termasuk dari saksi sejarah pendiri Paroki Cijantung, bahwa secara de facto sejak 1962 umat Cijantung sudah mandiri artinya umat Cijantung dapat tumbuh dengan tidak bergantung pada induknya yaitu Paroki Bidaracina malah dalam hal penyelenggaraan pelayanan pastoral, seperti misa, pelayanan sakramen, dan ibadat-ibadat lain mampu mengusahakan sendiri baik tempat maupun tenaga pelayannya secara mandiri. Selain masalah administrasi, Cijantung memang sudah terbiasa mandiri mengingat komunitas mereka adalah komunitas tentara di mana dari atasan hingga bawahan memiliki jalur perintah tersendiri yang tidak dimiliki umat lain. Maka ketika kebutuhan rohani muncul jalur yang ada berada di bawah pendampingan Pusrohkat TNI AD.
Menurut catatan sejarah paroki Bidaracina dalam buku sejarahnya yang berjudul “JALAN KITA” hal. 28 menyebutkan demikian : “…Dalam perjalanan hidupnya Paroki Bidaracina melahirkan Paroki baru yaitu : Paroki Cililitan (1968). Kemudian hari Paroki Cililitan melahirkan Paroki Cijantung (1979). Dahulu Cililitan dan Cijantung termasuk territorial Paroki Bidaracina…” Kalimat ini memang tidak menyebutkan secara eksplisit bahwa Cijantung pernah menjadi stasi Bidaracina namun hanya wilayah pelayanannya mencapai ujung selatan Bidaracina.
Dua tahun setelah Paroki St. Robertus Bellarminus, Cililitan berdiri atau tepatnya tahun 1970, Romo Rob Bakker SJ, pastor kepala paroki Cililitan, mempertimbangkan untuk memasukkan Cijantung menjadi salah satu stasinya karena secara territorial sangat berdekatan dengan Cililitan. Dan niat ini baru terwujud empat tahun kemudian. Maka sejak 1974 resmilah Cijantung sebagai stasi di paroki Cililitan. Ini berarti segala pelayanan pastoral ditangani langsung dari Paroki Cililitan. Jumlah umat pada waktu itu telah mencapai 375 jiwa.
Sejarah telah mencatat bahwa proses perkembangan umat Cijantung memiliki ciri khas tersendiri di mana kemandirian umat bukan atas pendampingan paroki induknya melainkan karena adanya komunitas tertentu yang didukung oleh institusinya dalam hal ini TNI AD. Maka sebenarnya ketika Paroki Cililitan baru berdiri umat Cijantung sudah mandiri dalam hal penyelenggaraan pelayanan pastoral yang didukung oleh Pusrohkat TNI AD.
Ada rentang waktu 6 tahun antara 1968 – 1974 setelah Paroki Cililitan berdiri, bahwa Cijantung masih menjadi bagian dari paroki Bidaracina. Apakah Cijantung dan Cililitan sudah menjadi stasi saat berada di wilayah Paroki Bidaracina atau memang baru 1974 itu Cijantung menjadi stasi ketika berada di paroki Cililitan? Berbagai sumber memberikan jawaban dengan pasti bahwa de jure Cijantung menjadi stasi di bawah Paroki Cililitan meski kenyataan sejarah mencatat bahwa kemandirian Cijantung sudah teruji sejak 1962 namun untuk menjadi sebuah stasi membutuhkan persiapan lain selain kemandirian yakni dukungan yang cukup intens dari pimpinan paroki Bidaracina.
Sejak resmi menjadi salah satu stasi Paroki Cililitan tugas penggembalaan umat ditangani oleh Pastor JB. Wiyana Haryadi, SJ dan kadang-kadang dibantu oleh para pastor militer. Tugas-tugas pastoral lebih ditingkatkan dan yang terpenting adalah adanya tempat ibadat yang layak dan tidak berpindah-pindah. Sarana yang dipakai adalah aula SMAK Ign. Slamet Riyadi yang dibangun di atas tanah Angkatan Darat oleh Keuskupan Agung Jakarta untuk menjadi tempat misa yang lebih luas dan menetap. Pengurus Dewan Stasi secara terus menerus menghimpun umat-umat di semua penjuru stasi tak terkecuali yang berada di luar komplek Cijantung yang wilayahnya meliputi Condet Balekambang (Utara), Gandaria (Selatan) hingga Cilangkap (Timur). Setiap penjuru stasi ditelusuri untuk mencari dan menemukan umat yang terpencil. Siapa yang menyangka bahwa jumlah umat ketika itu mencapai 729 jiwa yang terdiri dari : 184 orang tua; 91 dewasa; 438 anak-anak; 16 katekumen.
Dan demi memantapkan pembinaan umat maka dibentuklah lingkungan-lingkungan. Saat stasi, Cijantung sudah membentuk 7 lingkungan yang terdiri dari :
- Lingkungan Cijantung I
- Lingkungan Cijantung II (Sederhana)
- Lingkungan Kampung Susukan
- Lingkungan Ciracas
- Lingkungan Kampung Gedong
- Lingkungan Cibubur
- Lingkungan Munjul
- Lingkungan Gandaria
Empat tahun kemudian pada akhir tahun 1978 jumlah umat sudah mencapai 1.800 jiwa. Peningkatan jumlah umat ini selain karena permandian orang dewasa pada hari raya Paskah (tahun 1978 ada 27 orang baptisan dewasa) juga permandian bayi dan banyak pula kaum pendatang. Jumlah lingkungan telah dimekarkan menjadi 13 lingkungan karena memang perlu dimekarkan demi kebutuhan pelayanan umat
Tanggal 11 Februari 1979 Romo JB Wiyana Haryadi, SJ mengakhiri masa tugasnya di Cijantung. Beliau digantikan Romo JB Martosudjito, SJ yang sebelumnya bertugas di Paroki Pademangan. Selama 4 bulan pertama Romo Marto, demikian panggilan akrabnya, masih harus tinggal di Pastoran Cililitan karena belum ada rumah untuk pastor di Cijantung. Namun demikian, romo yang ditahbiskan di India ini bertugas sepenuhnya untuk Cijantung. Dengan cermat beliau melanjutkan usaha-usaha yang telah dirintis pendahulunya. Usaha menjadikan Cijantung sebagai paroki tersendiri sekaligus pembangunan sebuah gereja sebagai tempat ibadat yang tetap menjadi motivasi umat untuk terus membangun sikap mental berdikari, swadaya dan swasembada umat dituntut.
Setelah pastoran sementara selesai dibangun di komplek Ign. Slamet Riyadi, pada tanggal 20 Juni 1979 Romo Marto pindah dari pastoran Cililitan ke pastoran Cijantung.
Semenjak itu, misa harian mulai diadakan setiap pagi hari jam 05.45. Misa kudus hari Minggu menjadi tiga kali, yaitu pada hari Sabtu jam 18.00, hari Minggu jam 06.00 dan 08.00 di Aula Slamet Riyadi.
Sensus umat kembali digalakkan lagi untuk menggali sumber daya yang dimiliki umat Cijantung. Partisipasi umat lebih dibangkitkan antara lain dengan kewajiban menyerahkan iuran kartu merah.
PAROKI KE-32 ITU ADALAH CIJANTUNG
Setelah kurang lebih lima tahun berstatus stasi, tanggal 21 Juni 1979 Uskup Agung Mgr. Leo Soekoto, SJ akhirnya meresmikan stasi Cijantung menjadi paroki baru ke-32 di KAJ dengan nama Paroki St. Aloysius Gonzaga. Pastor Kepala Parokinya adalah Romo JB Martosudjito SJ. Jumlah umat saat Cijantung menjadi paroki mencapai 2,008 jiwa (385 KK) terbagi dalam 13 lingkungan.
Dengan menyandang predikat paroki ini, rencana baru muncul yaitu bagaimana membangun gedung gereja. Semangat yang menggebu-gebu ini ditandai dengan dibentuknya panitia persiapan pembangunan dengan dengan tugas menggalakkan usaha-usaha pencarian dana. Umat ikut berprihatin dalam keikutsertaannya membangun. Suasana pembangunan rumah ibadat benar-benar menjiwai setiap pertemuan dan pembicaraan umat di lingkungan-lingkungan.
Pada tanggal 17 Februari 1980 dimulai pembangunan gedung gereja yang ditandai peletakan batu pertama oleh Mgr. Leo Soekoto, SJ Uskup Agung Jakarta. Dalam rencana itu, sebuah komplek akan dibangun, di mana berdiri sebuah rumah ibadat, sebuah aula serbaguna dan gedung pastoran yang permanen. Pada tahap pertama dibangun gedung gereja dengan target waktu 8 bulan selesai. Dalam kotbahnya Mgr. Leo Soekoto menegaskan, “…kalau nanti gereja ini selesai dibangun, jangan sampai ada warga yang menyesal, karena untuk pembangunan gereja itu ia hanya menyumbang jauh di bawah kemampuannya; atau tidak menyumbang apa-apa, sebatang pakupun tidak; sebutir pasirpun tidak!...”
Kotbah ini cukup mengena. Semua warga bahu membahu sesuai dengan kemampuannya untuk mewujudkan berdirinya gedung gereja sesuai dengan targetnya. Mengenai target waktu pembangunan gereja ini, Romo Marto sempat mengingat kata-kata Uskup yang mengatakan demikian :
“…dalam satu tahun lagi, saya akan tertawa. Tertawa senang kalau gereja Cijantung sungguh-sungguh selesai dibangun, atau tertawa mengejek kalau pembangunan belum selesai seperti janjinya…“
Mendapat tantangan demikian, umat semakin bersemangat untuk segera menyelesaikan pembangunan gereja. Pencarian dana terus ditingkatkan antara lain dengan mengadakan “Malam Dana Pembangunan Gereja St. Aloysius Gonzaga” yang dilaksanakan pada tanggal 13 April 1980 di Flores Ballroom Hotel Borobudur Intercon-tinental. Dengan dibantu oleh Krisbiantoro sebagai MC, acara disemarakkan oleh para artis ibukota dan pagelaran sendratari dari padepokan Bagong Koesoediardjo.
Sementara untuk pembelian bangku-bangku gereja, sebagian dibantu oleh Bina Graha, khususnya melalui Sesdalobangnya waktu itu dipimpin Bapak Solihin GP. Pada akhirnya, walaupun ada perbedaan pendapat yang berujung pada pembubaran panitia pembangunan gereja/PGDP sebelum gereja itu selesai dibangun, semangat dan keinginan umat untuk memiliki gereja tetap berkobar dan kompak.
Delapan bulan setelah peletakan batu pertama atau tepatnya 23 November 1980, gedung gereja akhirnya diber-kati oleh Mgr. Leo Soekoto. Pada hari yang sama pula gedung gereja ini diresmikan oleh Gubernur DKI Jakarta, Bapak Tjokropranolo.
Di tengah semangat membangun yang terus menyala, 2,500 jiwa umat menyambut pemberkatan gedung gereja dengan penuh rasa syukur. Mereka kini telah memiliki gedung gereja yang cukup besar dan megah. Ketika Paroki Cijantung telah memiliki gedung gerejanya sendiri yang lebih permanen, wilayahnya telah tersebar cukup luas yang terbagi atas 4 wilayah dan 15 lingkungan yaitu :
Wilayah I :
Lingk. St. Yakobus Senior
Lingk. Sta Maria Dolorosa
Lingk. St. Yakobus Yunior
Wilayah II :
Lingk. Sta. Anna
Lingk. St. Yohannes
Lingk. St. Thomas
Lingk. St. Stanislaus Kotska
Wilayah III :
Lingk. St. Yohannes Berchmans
Lingk. St. Ignatius
Wilayah IV :
Lingk. Sta. Maria Ratu Rosario
Lingk. St. Carolus Borromeus
Lingk. St. Paulus
Lingk. Sta. Maria Asumpta
Lingk. St. Petrus
Lingk. St. Antonius
Pembangunan gedung gereja telah selesai namun langkah masih panjang karena masih ada 2 bangunan lagi yang harus berdiri yaitu gedung pastoran dan gedung serbaguna yang letaknya di kiri dan kanan gedung gereja. Maka tahun berikutnya mulailah memasuki tahap untuk membangun pastoran dan baru selesai pada bulan April 1982.
Mgr. Leo Soekoto sepertinya melihat bahwa tugas Romo Marto membangun paroki Cijantung sudah selesai dengan telah berdirinya 2 bangunan yaitu gereja dan pastoran. Pada tanggal 31 Juli 1982 Romo JB Martosoedjito, SJ harus mengakhiri masa tugasnya di Paroki Cijantung. Tiga tahun masa pengabdiannya dari menyiapkan paroki hingga membangun gereja benar-benar memiliki kesan yang sangat luar biasa bagi umat Cijantung. Mereka sepertinya tidak rela melepaskan Romo Marto dari Cijantung. Bagi sebagian umat yang merasa pernah berjuang bersama beliau dalam suka dan duka ini pasti akan menjadi kenangan tersendiri pada masa-masa 3 tahun pengabdian beliau.
Romo Marto digantikan oleh Romo Aloysius Soesiloharso Siswopranoto, SJ atau lebih dikenal dengan nama Romo Sis, yang sebelumnya berkarya di Paroki Pasar Minggu. Selain tugas penggembalaan umat, Romo Sis juga mengemban tugas khusus dari Uskup untuk membenahi persekolahan Ignatius Slamet Riyadi yang carut marut saat itu. Bagi Romo Sis Cijantung bukanlah daerah baru karena sejak tahun 1969 beliau pernah melayani umat di sini pada waktu menjadi pastor paroki di Bidaracina. Menurut catatan sejarah Paroki Bidaracina, Romo Sis bertugas di paroki tersebut pada tahun 1969 (Agustus?) setelah Romo Kijm, SJ pindah pada tanggal 24 Maret 1969.
Dalam melaksanakan tugas pastoralnya, beliau dibantu Romo F Mardi Prasetyo, SJ yang juga sempat membantu Romo Marto. Romo yang bertubuh kecil dan berambut keriting ini rupanya hanya sebentar berkarya di Cijantung. Pada tahun Januari 1984 beliau harus berangkat ke Roma untuk tugas studi di sana. Jadilah Romo Sis berjuang sendiri melayani umat Cijantung yang pada pertengahan 1983, jumlah umatnya telah mencapai sekitar 4,382 jiwa dan berkembang dalam 6 wilayah dan 23 lingkungan. Wilayah-wilayah dan lingkungan itu meliputi :
Wilayah I :
Lingk. St. Yakobus Senior
Lingk. Sta Maria Dolorosa
Lingk. St. Yakobus Yunior
Wilayah II :
Lingk. Sta. Anna
Lingk. St. Yohannes
Lingk. St. Thomas
Lingk. St. Stanislaus Kotska
Wilayah III :
Lingk. St. Theresia
Lingk. St. Mateus
Lingk. St. Markus
Lingk. St. Alfonsus
Wilayah IV :
Lingk. St. Petrus
Lingk. St Paulus
Lingk. St. Antonius
Lingk. St. Yaokim
Wilayah V :
Lingk. Sta. Maria Ratu Rosario
Lingk. Sta. Maria Asumpta
Lingk. St. Hieronimus
Lingk. St. Carolus Borromeus
Lingk. St. Agustinus
Wilayah VI :
Lingk. St. Ignatius
Lingk. St. Stephanus
Lingk. St. Yosef
Lima bulan berselang setelah kepindahan Romo Mardi, tepatnya tanggal 1 Juni 1984, hadir Romo Ign. Madya Utama, SJ untuk membantu tugas-tugas Romo Sis. Gagasan yang cukup menggemparkan dan ini menurut catatan beliau saat bertugas bersama dengan Romo Sis adalah mengembangkan kebijakan pastoran terbuka yang merupakan ide visitasi provinsilaat SJ di mana masa itu kecenderungan pastoran dan biara itu seperti rumah kaca, tak tersentuh oleh umat. Dengan lahirnya gagasan ini dan melihat keadaan umat Cijantung yang kebanyakan hidup dalam serba kekurangan, menjadikan pastoran seperti rumah mereka. Umat boleh masuk ke sana bahkan ke meja makan sekalipun.
Tanggal 8 Januari 1986 Romo Madya meninggalkan Cijantung untuk tugas belajar ke Philipina. Beruntung sebelum kepergian Romo Madya ini, pada bulan Nopember 1985, telah hadir di tengah-tengah umat Cijantung seorang Frater Senior yang turut membantu pelayanan pastoral yaitu Frater Emmanuel Widayat Tri Nugroho, Pr. Setelah membantu Romo Sis sekitar 9 bulan, tanggal 15 Agustus 1986 Fr. Widayat menerima tahbisan imamat dari Uskup Agung Jakarta. Kemudian beliau ditempatkan sebagai pastor pembantu di Paroki Cijantung tanpa masa adaptasi lagi.


MEMBANGUN SAMBIL BERBENAH DIRI
Membangun entah membangun fisik ataupun membangun umat menjadi pekerjaan rumah sebuah paroki baru. Kedua rencana ini harus berjalan beriringan sehingga ketika pembangunan fisik dijalankan, sikap mental umat juga disiapkan. Membangun fisik menjadi bagian yang tidak terpisahkan bagi Cijantung demi lancarnya pembangunan umat.
Ketika gedung gereja dan pastoran sudah berdiri, umat membutuhkan kenyamanan untuk mencapai komplek gereja. Ini tidak terkecuali membicarakan soal jalan. Pada saat itu, Jalan Pendidikan III yang merupakan akses satu-satunya menuju komplek gereja masih merupakan jalan tanah. Bila musim hujan tiba, kondisinya sangat becek dan membahayakan para pengguna jalan. Akhirnya disepakati bahwa paroki akan merenovasi jalan tersebut. Jalan sepanjang 250 meter dan lebar 4 meter itu kemudian diaspal mulus (hot mixed). Renovasi jalan itu cepat selesai berkat bantuan dari Yonzikon Zeni AD yang lokasinya berdampingan dengan komplek gereja. Pembangunan jalan ini juga merupakan wujud nyata pelayanan warga Paroki St. Aloysius Gonzaga, Cijantung kepada masyarakat sekitarnya, sekaligus untuk memperingati sewindu hari jadi paroki dan sebagai hadiah pesta perak imamat Romo Sis. Pada waktu peresmian jalan tersebut, Romo Sis menyerahkan hadiah pesta peraknya kepada masyarakat sekitar melalui Bapak Lurah Cijantung.
Tahun 1987 Romo Sis mengakhiri masa tugasnya di paroki Cijantung dan beliau dipindah ke Paroki Tanjung Priok. Penggantinya adalah Romo Alexius Widianto, Pr. Pada tahun itu pula menandai berakhirnya pelayanan imam-imam Jesuit di Cijantung dan hingga tahun 2005 penggembalaan umat diserahkan sepenuhnya kepada imam-imam dioses KAJ. Umat paroki Cijantung saat digembalakan oleh Romo Widi telah mencapai 5.524 jiwa. Romo yang sebelumnya bertugas di Pasar Minggu ini dalam tugas-tugas hariannya dibantu Romo YA Imam Subagyo, Pr yang menggantikan Romo Th. Widayat Trinugroho, Pr. karena harus pergi studi ke Roma.
Pertumbuhan jumlah umat yang bergerak cepat harus diimbangi dengan sarana-sarana fisik yang memadai. Muncul kembali kebutuhan umat untuk membangun gedung serbaguna paroki berlantai satu, yang akan dipakai untuk acara-acara pertemuan, pelajaran agama, kursus-kursus dan lain-lain. Dengan segera dibentuklah panitia pembangunan gedung paroki. Rencana semula gedung yang akan dibangun hanya berlantai satu, tetapi dalam pelaksanaannya berubah menjadi tiga lantai. Pembangunan itu menghabiskan dana yang tidak sedikit. Selain swadaya dari umat, pembangunan itu juga didukung oleh banyak pihak, termasuk bantuan dari Bina Graha. Fungsi utama pembangunan gedung serbaguna ini selain untuk tempat pertemuan-pertemuan, gedung yang cukup megah itu juga dipakai untuk melayani umat yang berkaitan dengan
administrasi serta seksi-seksi tingkat paroki.
Di tengah kesibukan membangun gedung paroki, hadir Frater Diakon Ferdinandus Kuswardianto, Pr. Seperti Romo Widayat, setelah Frater ini ditahbiskan menjadi imam, Romo Anto – demikian panggilannya – ditugaskan kembali di Paroki Cijantung. Pada saat yang hampir bersamaan hadir pula Romo Y Wiyanto Harjopranoto yang menggantikan Romo Imam yang pindah tugas ke Paroki Theresia.
Setelah gedung serba guna ini selesai dibangun, Romo Widi harus mengakhiri masa tugasnya di Paroki Cijantung pada tahun 1993 dan digantikan sementara oleh Romo C Hardosuyatno, MSF. Kemudian pada tahun 1994 Romo Anto juga harus pindah tugas menjadi pastor pamong di Seminari Menengah Wacana Bhakti, Pejaten. Beliau digantikan oleh Romo P Ekosusanto, Pr yang sebelumnya bertugas di Paroki Kelapa Gading.
Tidak lama kemudian Romo Hardosuyatno, MSF yang memang hanya menjadi pastor kepala paroki sementara akhirnya menerima tugas sebagai pastor Polri sepenuhnya. Tepatnya tanggal 1 September 1994 beliau digantikan Romo LBS Wiryowardoyo, Pr yang sebelumnya bertugas di Paroki Bojong Indah. Pada waktu yang berdekatan pula Romo Wiyanto ganti bertugas di Paroki Bojong Indah.
Tanggal 1 Maret 1996 Romo Eko meninggalkan Paroki Cijantung untuk tugas studi ke Philipina. Beliau digantikan Romo A Yus Noron, Pr yang sebelumnya bertugas di Paroki Jatibening. Romo Yus Noron, Pr inipun sewaktu masih menjadi frater pernah juga menjadi tenaga assistensi pastoral pada tahun 1982. Buat beliau Cijantung bukan hal yang baru karena di paroki inilah beliau pernah melayani. Kemudian pada bulan Februari 1997 Romo Frans Talinau Doy, Pr ikut memperkuat tugas penggembalaan di Paroki Cijantung.
Rotasi tugas para pastor ini boleh dibilang mengalami perputaran yang sangat cepat sehingga umat seperti kehilangan pola atau ciri penggembalaan pastornya karena dalam kurun waktu 10 tahun sudah 10 pastor yang keluar masuk mendampingi umat.


MENYIAPKAN SEBUAH PAROKI BARU
Di bawah Romo Wiryo selaku pastor kepala, pembinaan iman umat terus ditingkatkan. Selain itu, pada masa beliaulah pembangunan fisik sarana dan prasarana rumah ibadat direnovasi secara besar-besaran mulai dari merenovasi rumah pastoran hingga memperluas kapasitas gedung gereja dengan panti imam yang cukup artistik. Hal ini dirasakan amat mendesak mengingat sampai akhir tahun 1996 Paroki Cijantung telah memiliki jumlah umat di atas angka 10,000an jiwa yang terdiri dari 2.323 KK.
Jumlah umat yang demikian besar ini menjadikan gedung gereja tidak mampu lagi menampung umatnya. Harus disadari bahwa pertumbuhan umat yang demikian pesat ini dapat dikategorikan menjadi 3 bagian. Bagian pertama adalah baptisan baru yang terdiri dari baptisan bayi dan baptisan dewasa. Bagian kedua merupakan warga baru yang diterima dari gereja lain (Protestan). Bagian ketiga adalah warga Katolik baru yang pindah dari daerah lain.
Perpindahan umat ini dapat dilacak sejak tahun 1970-an di mana ketika perusahaan multinasional mulai diijinkan masuk ke Indonesia mereka banyak terdapat di wilayah Cijantung dan sekitarnya, para karyawannya banyak juga yang beragama Katolik. Maka secara administrative mereka masuk sebagai warga Paroki Cijantung. Cijantung yang pada mulanya adalah komunitas tentara yang tinggal di Komplek Cijantung I dan II. Hingga paruh kedua tahun 1990-an wilayahnya semakin luas, terdiri dari 3 kecamatan dan 16 kelurahan. Kini umat bukan hanya dari kalangan militer saja, tetapi sudah beragam profesi dan pekerjaan, status social, golongan dan lain-lain. Demikian besarnya hingga waktu itu, secara administrative Paroki Cijantung pernah memiliki 15 wilayah dan 49 lingkungan. Pesatnya pertumbuhan umat dan luasnya wilayah yang harus dilayani ini, membawa konsekuensi dan reksa pastoral khusus.
Pertama, timbul gagasan dari dewan paroki untuk memekarkan paroki ini dan membentuk paroki baru yaitu Paroki Cipayung. Gagasan ini mengemuka ketika Bapak Kardinal Yulius Darmaatmaja, SJ mengadakan kunjungan pastoral di paroki ini, sekaligus untuk memberkati altar baru pada tanggal 10 Mei 1997.
Pada prinsipnya Uskup Yulius Kardinal Darmaatmaja, SJ setuju tetapi dengan catatan agar persekutuan umat di wilayah Cilangkap diperkokoh dahulu dan jangan tergesa-gesa membangun gereja.
Pada tahun 1998 Paroki Cijantung yang telah berjumlah 10,825 jiwa merealisasikan pemekaran wilayahnya dan membentuk paroki baru yang bernama Paroki St. Yohannes Maria Vianney, Cilangkap dengan pastor kepalanya Romo Yohannes Maria Vianey Sudarmo O.Carm. Gugusan Paroki Cijantung yang menjadi Wilayah Paroki Cilangkap adalah meliputi Cilangkap, Cipayung, Ciracas, Kelapa Dua Wetan, Munjul, Pekayon, Pondok Ranggon, Cibubur dan Setu. Embrio umat basis Paroki Santo Yohanes Maria Vianney Cilangkap berawal dari 2 gugusan komunitas basis Paroki Santo Robertus Bellarminus Cilitan dari satu sisi dan gugusan umat basis Paroki Santo Aloysius Gonzaga Cijantung di sisi lain. Jumlah umat Cijantung yang pindah ada sekitar 34% sehingga umat Paroki Cijantung menjadi 7,157 jiwa.
Ada catatan tersendiri mengenai masalah batas wilayah ini yaitu ketika bergabungnya lingkungan St. Carolus Borromeus ke Paroki St. Thomas Kelapa Dua. Banyak warga lingkungan ini tinggal di wilayah yang melintasi tapal batas Jakarta – Jawa Barat. Menurut administrasi paroki, lingkungan ini menjadi bagian dari wilayah paroki Cijantung, namun sejak pemekaran ini, lingkungan St. Carolus yang seharusnya bergabung ke dalam wilayah Paroki Cilangkap, akhirnya memutuskan untuk menyatukan diri dengan Paroki Kelapa Dua yang berada di bawah Ordinaris Keuskupan Bogor. Paroki Cijantung tidak mungkin melupakan kontribusi lingkungan yang satu ini setidaknya tetap tercatat dalam sejarah paroki bahwa dahulu mereka pernah menyatu dan membangun paroki bersama dengan lingkungan-lingkungan yang lain.
Ketika lingkungan ini berdiri, luas wilayahnya memang melintasi batas antar Ordinaris baik Bogor maupun Jakarta. Saat itu Paroki St. Thomas belum berdiri dan paroki terdekat hanya Cijantung. Pemekaran lingkungan yang terus berlangsung saat di paroki Cijantung, menyisakan umat yang berdomisili di wilayah tapal batas Bogor. Maka sah-sah saja jika mereka punya keinginan untuk masuk ke Paroki St. Thomas, keuskupan Bogor yang baru resmi berdiri tahun 1991.
Kedua, pertumbuhan umat yang pesat membutuhkan sarana-sarana fisik yang memadai. Untuk itu perlu dilakukan renovasi beberapa bangunan yang ada. Yang perlu dibenahi dulu adalah pastoran. Gedung pastoran ditata sedemikian rupa dan diberi AC. Lalu pada saat itu juga dibangun menara lonceng yang berdiri megah. Ruangan sakristi yang semula terletak di belakang altar, dipindah ke samping gereja dan membentuk bangunan tersendiri berlantai dua. Biaya renovasi ini diperoleh dari kolekte umat setiap Minggu, bantuan dari para pejabat sipil/militer dan pinjaman dari bank.
Pertumbuhan umat yang pesat berdampak tidak tertampungnya umat di gedung gereja pada saat mengikuti misa. Tak jarang terpaksa umat harus berdiri di halaman depan gereja. Hal ini sangat terasa pada saat misa Minggu pagi jam 08.00. Karena itu gedung gereja juga perlu dipugar. Gedung lama dipugar dan diperluas ke belakang, sementara bagian samping bersatu atap dengan gedung paroki dan pastoran. Untuk menyesuaikan, altar lama kemudian diganti dengan altar baru. Setelah selesai, rencananya bagian depan gereja akan diperluas dan dimajukan lagi. Sambil menunggu realisasinya, kemudian dibangun Gua Maria yang cukup besar di depan gedung paroki agar umat dapat berdevosi kepada Bunda Maria dengan lebih khusuk. Agar umat merasa lebih tenang beribadah, pagar di depan gereja dipugar dan diganti dengan pagar baru yang lebih kokoh dan tinggi. Telah banyak yang dibenahi dan tetap dituntut partisipasi yang lebih besar dari umat.
Pembangunan sarana fisik harus diimbangi dengan pembangunan hidup rohani umat. Justru yang kedua ini yang lebih penting. Agar hidup rohani iman jemaat semakin bertumbuh, gereja menyediakan banyak sarana pelayanan yaitu seksi-seksi dan organisasi paroki. Inilah focus penggembalaan Romo Wiryo selaku pastor kepala paroki Cijantung.
Pada tahun 1999, Romo Wiryo harus pindah tugas setelah 5 tahun membangun Cijantung menuju Paroki Pulo Gebang. Beliau digantikan oleh Romo Yus Noron yang saat itu menjadi pastor pembantu di Cijantung.
Romo Yus melanjutkan program kerja yang telah dicanangkan oleh pendahulunya. Tidak banyak yang pembangunan fisik yang dilakukan pada masanya karena memang sudah dituntaskan oleh Romo Wiryo.
Pada bulan Nopember 2001, Romo Yus pindah tugas ke Paroki Kelapa Gading. Beliau digantikan oleh Romo Jakobus Tarigan. Romo Jack, demikian panggilannya dibantu oleh Romo Rochadi sebagai pastor pembantu.
Semasa Romo Jack inilah kehidupan liturgi umat mengalami masa-masa dinamikanya yang cukup mencolok. Kekeliruan cara beribadat umat dibenahinya sehingga secara sontak umat seperti dikagetkan oleh aturan-aturan liturgis yang berlaku. Selain itu kedisplinan umat benar-benar disentilnya habis. Tidak jarang Romo Jack harus turun dari panti imam untuk memberi peringatan kepada umat agar mengikuti misa dengan baik. Dan tidak jarang pula beliau mengulangi misa jika umat tidak siap memulainya.
Luar biasa yang dilakukan oleh Romo Jack ini sehingga umat mau tidak mau mengikuti aturannya. Timbul pro dan kontra itu sudah menjadi resiko yang harus dialami jika ingin kehidupan liturgi umat menjadi baik, demikian kilahnya
Salah satu perkembangan terbaru di Paroki Cijantung pada masa beliau adalah selesainya renovasi Kapel St. Yakobus di Wilayah I dan diresmikan penggunaannya kembali pada tanggal 28 Maret 2004. Kapel milik Kopassus inipun diubah namanya menjadi St. Valentino dan sudah tidak disebut kapel lagi melainkan gereja.
Romo Jack mengakhiri tugasnya di Cijantung pada bulan Agustus 2005 dan beliau diganti oleh Romo Maximus Woga, CSsR. Bersama Romo Maxi ini, tugas-tugas pastoral dijalani bersama dengan Romo V. Adi Prasojo, Pr. Romo Adipun tidak lama bertugas di Cijantung karena pada September 2006, beliau digantikan oleh Romo Harry Liong yang semula bertugas di Paroki Ignatius Jalan Malang.
Cukup panjang perjalanan paroki Cijantung sejak cikal bakal itu tumbuh tahun 1962. Dari sebuah komunitas tentara yang berjumlah 12 KK itu mampu hidup, tumbuh dan berkembang menjadi sebuah paroki yang cukup besar perkembangan umatnya. Semula hanya satu profesi saja tetapi sekarang berbagai profesi tumbuh bersama, hidup dan berkembang, mewarnai keaneka ragaman paroki ini hingga saat ini. Sungguh Roh Kudus benar-benar bekerja mendampingi mereka melalui pelayanan beberapa orang, kesungguhan Pusrohkat AD dan tentunya kegigihan mereka untuk tetap hidup dan menghidupi kebutuhan rohani mereka. Kita patut mengimani karya Roh Kudus ini dan mengamininya. Andai semuanya itu tidak pernah terjadi, Paroki Cijantung mungkin tidak pernah ada.


PERKEMBANGAN PAROKI CIJANTUNG
Buku induk paroki Cijantung telah ada dan mulai melakukan pencatatan atas baptisan pertama kali pada tanggal 16 Desember 1973. Ini berarti ketika Cijantung belum menjadi stasi, buku induk itu sudah mulai dipersiapkan. Pada tahun-tahun sebelum tanggal itu, pencatatan atas baptisan umat Cijantung dimuat dalam buku induk Paroki Bidaracina. Sebenarnya tidak hanya catatan pembaptisan umat saja yang tercantum dalam buku induk paroki Bidaracina tetapi juga perkawinan yang dilangsungkan pada masa-masa tahun 1962 hingga awal 1973. Melihat catatan buku induk paroki yang dimulai tahun 1973, maka kecil kemungkinan ada pembaptisan atau perkawinan warga yang dilangsungkan di Cijantung dan dicatat dalam buku induk paroki Cililitan.
Dalam buku induk Paroki Cijantung akan kita temukan bahwa pembaptisan bayi pertama sebelum Cijantung menjadi stasi adalah Vincentius Galih Siswanto yang lahir pada tanggal 16 April 1973. Bayi dari pasangan Yohannes Berchmans Subangun dengan Christina Maria Sri Rahayu dari Lingkungan St. Anna ini dibaptis oleh Romo Wiyana Haryadi, SJ pada tanggal 16 Desember 1973. Pada bulan dan tahun yang sama atau tepatnya tanggal 24 Desember 1973 (malam Natal) telah dicatat pula pembaptisan dewasa atas nama Stephanus Sunardji. Pembaptisan itu dilakukan juga oleh Romo Wiyana Haryadi, SJ.
Itu adalah sekelumit catatan-catatan kecil yang menjadi sejarah di paroki ini. Masih banyak catatan-catatan lain namun dalam hal perkembangan umat, di bawah ini kami sajikan statistik perkembangan umat dari tahun ke tahun.


GERAK DAN LANGKAH UMAT
Sejak perintisannya dari tahun 1962 hingga saat ini, kesadaran umat dalam hal pembinaan iman/rohani terus digalakkan dengan penuh semangat dan berkesinambungan. Umat Cijantung patut berbangga hati karena sejak awal beih-benih iman itu tumbuh tidak kurang dari 78 orang imam pernah mendampingi kehidupan rohani umat. Berbagai seksi dan organisasi kategorial pernah hadir memberikan kontribusinya bagi pengembangan iman umat. Seksi atau organisasi yang ada yaitu Liturgi, Sosial, Pewartaan, PA/PBM, WKRI, Legio Maria, Warakawuri, ME, Mudika, GSM, Svara Gonzaga, PDKK, dsb adalah merupakan bentuk kesadaran umat untuk mau berkembang. PS Aloysius Gonzaga Voices, misalnya, lahir karena adanya kesamaan minat dalam paduan suara saat lomba paduan suara se-dekenat timur ybl, atau GIM (Gerakan Imam Maria) yang tercetus karena adanya ikatan emosional kaum orangtua seminari, dan sebagainya. Itu semua muncul karena memang umat punya kesadaran yang cukup tinggi untuk mengembangkan imannya. Namun di lain pihak ada juga yang pernah tumbuh dan akhirnya lekang dimakan waktu, sebut saja Antiokhia dan Choice yang sempat menjadi salah satu organisasi kategorial yang cukup dikenal orang muda saat itu kini sudah tidak muncul lagi. Patah tumbuh hilang berganti, begitulah dinamika umat Cijantung dalam usaha mengembangkan perwujudan imannya.
Banyaknya kegiatan umat ini patut dibanggakan namun sekaligus kerja keras bagi para imam untuk tetap mendampingi mereka agar tidak salah dalam melangkah.

 

 

Sumber : parokicijantung.blogspot.com

Klik disini untuk melanjutkan »»
 
Hadie-Littha_1979 To Blogger.com | Template by Hadie-Littha_1979