Klik disini untuk melanjutkan »»
Honda Tiger Club Indonesia
Honda Tiger Club Indonesia (HTCI) adalah induk organisasi klub kehobbian sepeda motor Honda Tiger di Indonesia. Dengan dihadiri oleh sejumlah club dari seluruh tanah air, HTCI dideklarasikan di Bandung pada tanggal 10 Oktober 2004 yang kemudian dikukuhkan secara legal melalui akta no.57 notariat A. Natasukarya.
Terlampir kepengurusan HTCI periode 2011 – 2013
DEWAN PENASIHAT
Ketua : S. Indra Panca (TAB - Bandung)
Anggota : Ronny. LHDA (IMTB - Balikpapan)
Anggota : Teddy Supriyadi (STOC - Subang)
PENGURUS PUSAT
Ketua Umum : Taufan Ardiansyah (LOTIC - Lombok)
Wakil Ketua Umum I : Hermawan (HTCD - Dumai)
Wakil Ketua Umum II : Arifin (IMTB - Balikpapan)
Sekretaris Jendral : Legowo Wisnu (TJT - Jakarta)
Tim Sekjend : Diaz (TMC - Surabaya)
Tim Sekjend : Pitoyo "Piet" (DETIC - Depok)
Kabid Keuangan : Itok Gardianto (TJT - Jakarta)
Bisnis Unit
Kabid : Purwanto (TMC Surabaya)
Anggota : A. Cakrananda (DETIC - Depok)
Bidang Admin dan Jaringan
Kabid : Neng Ary (CMS Banten)
Anggota : Valent (AHTS - Manado)
Bidang Sistem dan Prosedur
Kabid : Arief "Bart" Sukendar (BMJ - Jakarta)
Anggota : Santos Palanti (AHTS - Manado)
Anggota : Septian "Tommy" Dwi Mulia (HTC-AHM - Jakarta)
Bidang Humas
Kabid : Movianto (TOPU - Purwakarta)
Anggota : Dado (Untic's - Samarinda)
Bidang Pengawasan
Kabid : Ardy Malik (TAB - Bandung)
Anggota : Sundi (KHTC - Aceh)
Anggota : Adil (IMTY - Yogyakarta)
Anggota : Elu (MTC - Manado)
Bidang Manajemen Club
Kabid : Dudung AR (TAB- Bandung)
Anggota : Wawan (CMS- Banten)
Bidang Telematika
Adviser : Laurentius Malau (DETIC- Depok)
Kabid : Nicko (BRONTAC - Jakarta)
Bidang Program Kerja
Kabid : Hamzah (IMTY - Yogyakarta)
Anggota : Djakriya "Jack" (HTBC - Jakarta)
Sumber : http://www.tiger-club.or.id/
Berbagi pengetahuan
Berawal dari ingin mencari renungan harian katolik via mbah google, satu demi satu situs yang didapat dibuka untuk dilihat & baca artikel ataupun renungan-renungan di situs tsb. Ada salah satu situs yang membuat saya tertarik yaitu http://www.imankatolik.or.id/ yang dimana ada kalender Liturgi yang begitu menarik & ada kode html-nya juga yang bisa dipasang di blog, WordPress & Multiply kita. Maka dari situ saya men-copy paste kode html ke dalam blogku sehingga menambah widget rohani di blog yang saya punya (blog amatir). Bukan bermaksud sebagai plagiat tapi ingin berbagi siraman rohani ke saudara-saudaraku seiman. Agar Sabda Allah semakin dicintai oleh Umat-Nya.
Kalender Liturgi harian ini dapat dipasang pada Website, Blog, WordPress dan Multiply yang dimana terdapat kode html masing2 dibawah ini, berikut kode html.
1. Situs Website & Blogspot
Masuk ke dasbor, lalu ke tata letak lalu tambah gadget, pilih klik gadget HTML/JavaScript dari situ copas widget/kode html di kolom konten.
Kalender Liturgi Gereja Katolik (Kalender harian) imankatolik.or.id di share/dibagikan untuk umum. yang ingin memasang tampilan kalender Liturgi baik di website keuskupan, paroki, blog maupun website umum dan katolik lainnya (kecuali Wordpress template). Berikut adalah code html, tinggal di copy dan paste saja :
| <iframe align=”center” frameborder=”1″ width=”140″ height=”200″ scrolling=”No” src=”http://www.imankatolik.or.id/kalender_share_kecil.php“></iframe> |
Bentuk Tampilan pada website & blog sebagai berikut :
2. Menampilkan pada WordPress
Masuk ke Dasbord, lanjut ke tampilan atau langsung ke widget dan dan klik tambah Teks biasa atau HTML dan copy kode
Kalender Liturgi Gereja Katolik (Kalender harian) imankatolik.or.id di share/dibagikan untuk umum. yang ingin memasang tampilan kalender Liturgi baik di website KHUSUS Wordpress template. Berikut adalah code html, tinggal di copy dan paste saja :
| <table width="150" height="200" bgcolor="#FFFFCC" cellspacing="0" border="1" > |
Bentuk Tampilan pada WordPress sebagai berikut :
*Ilustrasi gambar pada WordPress
3. Memasang kalender harian Khusus Multiply
Kalender Liturgi Gereja Katolik (Kalender harian) imankatolik.or.id di share/dibagikan untuk umum. yang ingin memasang tampilan kalender Liturgi baik di website KHUSUS Multiply. Berikut adalah code html, tinggal di copy dan paste saja :
| <table width="150" height="200" bgcolor="#FFFFCC" cellspacing="0" border="1" > |
Bentuk Tampilan pada Multiply sebagai berikut :
*Ilustrasi gambar pada Multiply
Selamat memasang Kalender Liturgi Harian ini ke dalam situ Blog, WordPress dan Multiply agar kita bisa memberikan kabar gembira & suka cita ke saudara-saudara seiman. Silahkan meng-copas artikel ini asal jangan lupa masukan sumber ini yaitu http://imankatolik.or.id semoga sabda Allah semakin dicintai & dihayati bagi saudara seiman & kristiani umumnya. Amin
Sumber : http://imankatolik.or.id
TEMA: "DIPERSATUKAN DALAM EKARISTI, DIUTUS UNTUK BERBAGI"
Masa Prapaskah/Waktu Puasa Tahun 2012 dimulai pada hari Rabu Abu, 22 Februari sampai dengan hari Sabtu, 7 April 2012.
"Semua orang beriman kristiani menurut cara masing-masing wajib melakukan tobat demi hukum ilahi' (KHK k.1249). Dalam masa tobat ini Gereja mengajak umatnya "secara khusus meluangkan waktu untuk berdoa, menjalankan ibadat dan karya amalkasih, menyangkal diri sendiri dengan melaksanakan kewajiban-kewajibannya secara lebih setia dan terutama dengan berpuasa dan berpantang" (ibid). Semua umat beriman diajak untuk memelihara suasana tobat dan mengisi masa tobat ini dengan berbagai keutamaan hidup beriman dan tidak mudah terpengaruh atau mengikuti suasana lain di luar suasana khusus gerejani ini.
Di samping itu sebagai tanda pertobatan dan syukur, Gereja minta supaya kita semua memberi perhatian dan mengarahkan hidup kita dengan bantuan beberapa hal berikut ini:
Dalam Masa Prapaskah kita diwajibkan:
Baiklah jika kita semua saling mendukung dengan memelihara masa tobat ini. Maka sangat dianjurkan agar perkawinan-perkawinan sedapat mungkin tidak dilaksanakan dalam masa Prapaskah (juga Adven), kecuali ada alasan yang berat. Pastor paroki dimohon secara bijaksana mencermati dan mengambil kebijakan sebaik mungkin dalam situasi dan kebutuhan pelayanan umat ini.
Mari kita mensyukuri belaskasih Tuhan dan berusaha untuk membagikannya kepada sesama kita, terutama mereka yang sangat membutuhkan.
Jakarta, 18 Februari 2012
Mgr. Ignatius Suharyo
Uskup Keuskupan Agung Jakarta
Sumber : www.kaj.or.id
SURAT GEMBALA PRAPASKAH 2012
KEUSKUPAN AGUNG JAKARTA
(dibacakan sebagai pengganti kotbah, pada Misa Sabtu/Minggu, 18/19 Februari 2012)
“DIPERSATUKAN DALAM EKARISTI, DIUTUS UNTUK BERBAGI”
Para Ibu dan Bapak,
Suster, Bruder, Frater,
Kaum muda, remaja dan anak-anak yang terkasih dalam Kristus,
1. Bersama – sama dengan seluruh Gereja, pada hari Rabu yang akan datang kita memasuki masa Prapaskah. Rupanya pada tahun ini masa Prapaskah tiba amat cepat. Masa Natal yang lalu juga terasa amat singkat, lebih singkat dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Mungkinkah ini merupakan isyarat bagi kita semua,untuk membaharui semangat dan gaya hidup kita : dari semangat dan gaya hidup yang ditandai pesta-pesta (=masa Natal yang pendek) menuju semangat dan gaya hidup yang semakin terlibat, berbelarasa dan rela bermati raga (=masa Prapaskah yang cepat tiba) demi sekian banyak Saudari-saudara kita sebangsa setanah air yang kecil, lemah, miskin dan tersingkir?
Saudari-saudara kita ini karena berbagai macam alas an terpaksa hidup tidak sesuai dengan martabatnya sebagai pribadi manusia, citra Allah. Suatu pertanyaan yang menantang kita semua sebagai murid-murid Yesus Kristus untuk kita jawab secara pribadi, dalam keluarga, komunitas dan bersama-sama sebagai warga Keuskupan Agung Jakarta.
2. Melalui nabi Yesaya Tuhan bersabda, “Aku hendak membuat sesuatu yang baru, yang sekarang sudah tumbuh … Umat yang telah Kubentuk bagi-Ku akan memberitakan kemasyhuran-Ku” (Yes 43:19.20). Sabda ini ditujukan kepada umat Allah Perjanjian Lama yang berada dalam pembuangan. Mereka berada jauh dari tanah air mereka, sangat menderita lahir dan batin. Dalam keadaan terbuang, sebagian dari mereka berpikir tidak ada gunanya percaya kepada Tuhan karena ternyata Dia tidak bisa membela Umat-Nya terhadap musuh yang telah mengalahkan mereka. Selain itu tidak sedikit dari antara mereka yang merasa dosa mereka terhadap Tuhan sudah terlalu besar, sehingga Tuhan tidak akan memberika kesempatan baru lagi. Namun dalam perjalanan waktu ternyata banyak dari antara mereka yang berhasil merebut kedudukan dalam kehidupan politik, social maupun ekonomi. Keberhasilan ini membuat mereka lupa atau tidak mau mengingat lagi bahwa mereka adalah umat terpilih yang seharusnya hidup berdasarkan janji Allah. Secara sederhana bisa dikatakan, ketika mereka mempunyai segala-galanya, mereka kehilangan jati diri dan cita-cita sebgai umat terpilih.
3. Namun tidak semua warga Umat Allah Perjanjian Lama seperti itu. Dari antara mereka ada sekelompok kecil yang bertahan, dan kendati menderita, iman mereka tidak goyah. Dengan sengaja mereka tidak mengejar keberhasilan lahiriah di tanah pembuangan. Mereka terus membangun hidup di atas dasar janji-janji Allah. Mereka inilah yang disebut “sisa Israel”. Kelompok ini mempunyai sejarah yang panjang,. Ketika umat Allah Perjanjian Lama berpaling dari Tuhan dan menyembah berhala, mereka tetap setia (1 Raj 19:10.14.18). Ketika mereka diijinkan kembali dari pembuangan – sementara sebagian besar tidak mau menggunakan kesempatan ini karena sudah nyaman tinggal di negeri asing – mereka kembali ke tanah terjanji untuk membangun kembali masa depan mereka di atas puing-puing kehancuran. Kelompok mereka kecil – maka disebut “sisa Israel” – namun mereka yakin bahwa jati diri mereka sebagai umat yang dipanggil secara istimewa oleh Allah, tidak terletak pada penampilan lahiriah, melainkan pada cita-cita dan harapan yang mereka sandarkan pada janji Allah. Mereka ini bagaikan tunggul dan sebagaimana dikatakan oleh Nabi Yesaya, “ Suatu tunas akan keluar dari tunggul Isai, dan dan taruk yang akan tumbuh dari pangkalnya akan berbuah” (11:1; 53:2). Mereka inilah yang akan menghidupkan kembali harapan baru yang oleh nabi Yesaya disebut dengan kiasan sebagai “jalan di padang gurun … sungai-sungai di padang belantara” (43:19). Mereka ini pulalah yang disebut umat yang “Kubentuk bagi-Ku yang akan memberitakan kemasyhuran-Ku” (Yes 43:21). Dalam suratnya kepada jemaat Roma Rasul Paulus menegaskan keberadaan kelompok ini : “ Demikian juga pada waktu ini tinggal satu sisa, menurut pilihan kasih karunia” (11:15). Dalam bahasa sehari-hari kita sekarang, mereka disebut “komunitas kontras” atau “komunitas alternatif”.
Saudari-saudaraku yang terkasih,
4 Sebagai murid-murid Kristus, sebagai warga Gereja Katolik, kita pun mempunyai jati diri yang sangat istimewa dan khusus. Jati diri kita adalah Ekaristi, yang kita imani sebagai sumber dan puncak hidup Kristiani (bdk LG 11). Maksudnya, sebagaimana roti Ekaristi diambil, diberkati, dipecah-pecah dan dibagi-bagi, kita pun adalah pribadi-pribadi yang dipilih oleh Allah, diberkati agar dapat dipecah-pecah yang dibagi-bagi bagi dunia. Inilah jati diri kita. Atas dasar keyakinan inilah dirumuskan tema Aksi Puasa Pembangunan Keuskupan Agung Jakarta 2012 : “Dipersatukan Dalam Ekaristi – Diutus Untuk Berbagi”. Dengan pedoman tema Aksi Puasa Pembangunan ini, kita bersama-sama ingin mewujudkan atau mengaktualisasikan jati diri kita.
5. Perayaan Ekaristi terdiri dari empat bagian. Bagian pembuka mengajak kita menyadari bahwa kita adalah bagian dari umat manusia yang terpecah-pecah karena dosa. Maka kita mengawali Perayaan Ekaristi dengan mengakui dosa-dosa kita – bukan hanya dosa pribadi kita, melainkan dosa umat manusia. Ibadat Sabda memberi kesempatan penuh rahmat kepada kita yang berhimpun untuk membaca dan mengartikan keadaan hidup kita itu dalam terang Sabda Allah. Sabda Allah yang kita dengarkan bukanlah sekedar informasi yang diteruskan (=informatif), melainkan kekuatan yang membangun dan mempersatukan (=informatif dan transformatif). Dengan memasuki Liturgi Ekaristi, kita diikutsertakan dalam karya penyelamatan Allah yang memulihkan segala sesuatu dalam sengsara, wafat dan kebangkitan Kristus. Bagian ini bermuara pada komuni – dari kata communio yang secara harafiah berarti persatuan. Itulah buah utama karya penyelamatan Allah, yaitu bahwa kita dipersatukan kembali : yang terpisah dihimpun kembali. Setelah dipulihkan dan dipersatukan, menyusul perutusan, yang merupakan bagian terakhir dari Perayaan Ekaristi. Kita diutus untuk berbagi kehidupan.
Saudari-saudaraku yang terkasih,
6. Bersama-sama dengan para imam, saya pribadi sangat bersyukur karena boleh melayani umat Keuskupan Agung Jakarta ini. Amat sangat banyak kisah mengenai kerelaan berbagi dan kemurahan hati umat Keuskupan Agung Jakarta dalam berbagai wujudnya : baik yang ditulis maupun tidak ditulis, baik yang diceritakan ataupun tidak diceritakan, baik yang yang ditujukan kepada umat sendiri ataupun masyarakat yang lebih luas, baik untuk keperluan-keperluan di Keuskupan Agung Jakarta sendiri maupun bagi wilayah-wilayah gerejawi yang lain yang tersebar di seluruh nusantara, baik yang dijalankan bersama-sama maupun sendiri-sendiri. Peranan para Ibu / Bapak / Suster / Bruder / Frater / adik-adik kaum muda, anak-anak dan remaja dalam hal ini ikut menetukan wajah Gereja Keuskupan Agung Jakarta : Gereja yang memancarkan kasih, kebaikan dan kemurahan hati Allah. Terima kasih tak terhingga atas kebaikan, kemurahan hati dan kerelaan Anda sekalian untuk berbagi kehidupan.
7. Sementara itu kita semua tahu bahwa peran seperti ini tidak akan pernah selesai kita jalankan dan menantang kita semua untuk semakin kreatif mencari bersama-sama bentuk-bentuknya yang baru. Semoga semangat Ekaristi yang kita gali dan dalami selama Tahun Ekaristi ini memberikan inspirasi dan kekuatan kepada kita semua untuk membangun jati diri kita sebagai “ komunitas Ekaristi”, “komunitas alternatif” atau “komunitas kontras” yang terus berkembang karena dipersatukan dalam Ekaristi dan diutus untuk berbagi. Semoga dengan demikian kita sungguh menjadi umat yang selalu memberitakan kebaikan dan kasih Allah (bdk.Yes 43:21). Semoga berkat kekuatan Allah kita berkembang dalam kemurahan hati dan kerelaan berbagi yang – siapa tahu – membuat orang lain akan berkata, “Yang begini belum pernah kita lihat” (Mrk 2:12). Salam dan semoga Anda semua, keluarga-keluarga dan komunitas Anda selalu dilimpahi berkat, perlindungan dan damai sejahtera.
Jakarta, Februari 2012
+ I. Suharyo
Uskup Keuskupan Agung Jakarta
Sumber : www.ImanKatolik.or.id
(dibacakan sebagai pengganti kotbah, dalam setiap Misa, Sabtu/Minggu, [Adven I] 26/27 November 2011)
Para Ibu dan Bapak,
Para Suster, Bruder, Frater,
Kaum muda, remaja dan anak-anak yang terkasih dalam Kristus,
1. Pada hari Minggu yang lalu, kita merayakan Hari Raya Tuhan Kita Yesus Kristus Raja Semesta Alam. Perayaan itu menutup satu lingkaran tahun liturgi. Dengan merayakan pesta liturgi itu kita mengungkapkan kepastian iman kita bahwa Allah yang telah memulai karya-Nya, akan menyempurnakannya juga pada waktunya. Keyakinan iman inilah yang oleh Rasul Paulus dinyatakan dengan kata-kata ini, “Kalau segala sesuatu telah ditaklukkan di bawah Kristus, maka Ia sendiri sebagai Anak akan menaklukkan diri-Nya di bawah Dia, yang telah menaklukkan segala sesuatu di bawah-Nya, supaya Allah menjadi semua di dalam semua” (1Kor 15:28).
2. Hari ini kita memulai satu lingkaran liturgi yang baru dengan Minggu Adven I, yang pada tahun berikutnya juga akan ditutup dengan Hari Raya Tuhan Kita Yesus Kristus Raja Semesta Alam. Masa Adven dalam arti sempit mengundang kita untuk menyiapkan kedatangan Yesus yang akan kita rayakan pada Hari Natal. Dalam arti luas, Adven juga mengajak kita untuk memperkokoh harapan kita bahwa pada waktunya Tuhan akan menyempurnakan karya penyelamatan yang telah dimulai-Nya. Selama masa penantian dan pengharapan itu, menurut kata-kata Rasul Paulus yang kita dengarkan pada hari ini, “Allah juga akan meneguhkan kamu sampai kepada kesudahannya, sehingga kamu tak bercacat pada hari Tuhan kita Yesus Kristus” (1Kor 1:8). Begitulah dinamika iman dan harapan kita yang kita ungkapkan dalam lingkaran-lingkaran tahun liturgi. Dengan menempatkan diri kita ke dalam dinamika liturgi itu, karya penyelamatan Allah akan semakin kita alami: iman kita menjadi semakin dalam, harapan kita semakin kokoh dan kasih kita semakin menyala.
4. Dalam rangka berusaha membiarkan diri kita dibentuk oleh Allah inilah, Keuskupan Agung Jakarta menetapkan Tahun 2012 sebagai Tahun Ekaristi dengan tema “Dipersatukan, Diteguhkan, Diutus”.Tema ini dipilih dengan berbagai pertimbangan. Antara lain kita ingin menempatkan diri kita dalam arus rohani Gereja se-dunia, yang pada tanggal 10-17 Juni 2012 yang akan datang mengadakan Kongres Ekaristi ke-50 di Dublin. Adapun tema yang diangkat adalah “Ekaristi: Bersatu dengan Kristus, Bersatu di antara kita”. Selanjutnya tema Tahun Ekaristi Keuskupan Agung Jakarta ini melanjutkanyang sudah kita dalami selama tahun 2011 yaitu “Mari Berbagi”. Dengan demikian kita berharap agar kerelaan kita berbagi tidak hanya didorong oleh motivasi kemanusiaan, melainkan kita landaskan pada iman yang kokoh. Dengan menerima roti Ekaristi yang diambil, diberkati, dipecah-pecah dan dibagi-bagikan, kita berharap juga dapat menjadi roti Ekaristi: seperti halnya roti Ekaristi, kita adalah pribadi-pribadi yang dipilih dan diberkati Tuhan, agar siap dipecah-pecah dan dibagi-bagikan bagi dunia.
5. Kekayaan Ekaristi dengan mudah dapat kita timba dari salah satu pernyataan Gereja sebagai berikut: “…… Setiap orang yang mengambil bagian dalam perayaan Ekaristi, seharusnya selalu ingin berbuat baik dengan penuh semangat, menyenangkan hati Allah dan hidup pantas sambil membaktikan diri kepada Gereja, melaksanakan apa yang diajarkan kepadanya, dan bertumbuh dalam kesalehan. Ia pun akan siap menjadi saksi Kristus di dalam segala hal, dalam menghadapi persoalan-persoalan hidup manusia, agar dunia diresapi dengan semangat Kristus. Sebab tidak ada satu umat Kristiani pun dapat dibentuk dan dibangun, kecuali kalau berakar dan berporos pada perayaan Ekaristi Mahakudus” (Eucharisticum Mysterium no. 13).
6. Melalui surat ini saya ingin mengajak seluruh umat Keuskupan Agung Jakarta untuk secara khusus memperdalam pengetahun dan penghayatan mengenai Ekaristi selama tahun 2012 yang akan datang. Sejarah panjang liturgi Ekaristi, kedalaman maknanya dan kekayaan lambang-lambangnya tidak bisa kita tangkap dengan baik selain dengan mempelajarinya. Dalam perayaan Ekaristi kita mengenangkan kembali wafat dan kebangkitan Kristus dan mensyukuri karya penyelamatan Allah bagi kita. Kita mendengarkan Sabda Tuhan yang menuntun langkah-langkah kita dan menerima roti kehidupan yang menjadi kekuatan dalam peziarahan iman kita. Janji Tuhan untuk selalu menyertai umat-Nya sampai akhir jaman tidak dapat kita alami kecuali dengan mengasah kepekaan batin kita akan kehadiran-Nya dalam Ekaristi. Semoga pertemuan-pertemuan yang sudah selalu kita adakan pada masa Adven, Prapaskah, bulan Liturgi, bulan Kitab Suci dan kesempatan-kesempatan lain dapat digunakan sebaik-baiknya untuk pendalaman Ekaristi itu. Sementara itu bahan-bahan yang diperlukan sudah dan akan disediakan oleh saudari-saudara kita yang dengan sepenuh hati menyiapkannya.
7. Akhirnya bersama para imam yang diutus untuk melayani umat di Keuskupan Agung Jakarta ini saya ingin menggunakan kesempatan ini untuk mengucapkan terima kasih kepada para Ibu/Bapak/Suster/Bruder/Frater/Kaum Muda, Remaja dan Anak-anak yang dengan satu dan lain cara ikut terlibat dalam karya kegembalaan kami. Keterlibatan Anda sekalian dalam pelayanan Gereja “ke dalam”, membuat Gereja menjadi semakin bermakna bagi umat sendiri. Sementara keterlibatan Anda sekalian dalam pelayanan Gereja “ke luar”, membuat Gereja menjadi semakin berarti di tengah-tengah masyarakat luas. Semoga Ekaristi yang setiap kali kita rayakan semakin mempersatukan kita dalam perutusan yang mulia.
Salam dan Berkat Tuhan untuk seluruh keluarga dan komunitas Anda.
Mgr. Ign Suharyo, Pr
Uskup Keuskupan Agung Jakarta
Sumber : http://st-stefanus.or.id
Klik disini untuk melanjutkan »»
St. Fransiskus Xaverius (Fransiskus dari Xavier) digelari oleh Paus Pius X sebagai pelindung misi dan karya pewartaan iman. Ia adalah salah satu misionaris terbesar serta merupakan seorang perunding dan duta terbaik yang pernah ada.
St. Fransiskus Xaverius dilahirkan pada tahun 1506 di Navarre, Spanyol, di puri Xavier, dekat Pamplona. Bahasa ibunya adalah bahasa Basque. Ia merupakan anak bungsu dari suatu keluarga besar. Pada usia delapan belas tahun ia belajar di Universitas Paris. Ia masuk college St. Barbara dan pada tahun 1528 meraih gelar magisternya (licentiate). Di sinilah ia bertemu dengan St. Ignatius Loyola (pendiri Serikat Yesus), dan St. Fransiskus adalah satu dari tujuh orang pertama dari Serikat Yesus yang pada tahun 1534 di Montmartre mengucapkan kaul untuk melayani Tuhan. Bersama mereka, St. Fransiskus menerima tahbisan imamatnya di Venice tiga tahun kemudian. Pada tahun 1540 St. Ignatius menunjuknya untuk bergabung dengan Rm. Simon Rodrigquez untuk ekspedisi misi pertama ke Hindia Timur.
Berangkat Memulai Misi
Mereka tiba di Lisbon sekitar akhir Juni, dan St. Fransiskus segera menemui Rm. Rodriguez yang saat itu bertugas di suatu rumah sakit. Mereka tinggal di rumah sakit tersebut untuk menolong orang-orang yang sakit, tetapi berkatekese dan memberikan pelajaran di kota serta mendengarkan pengakuan-pengakuan dosa pada hari Minggu dan hari-hari libur. Raja John III menghormati para religius ini, sehingga Rm. Rodriguez diminta tinggal di Lisbon olehnya. St. Fransiskus pun terpaksa tinggal di sana selama delapan bulan.
Akhirnya, pada hari ulang tahunnya yang ke-35 (tanggal 7 April 1541), dengan disertai dua teman, yaitu Rm. Paul dari Camerino (seorang Italia) dan Fransis Mansilhas (seorang Portugis), ia berlayar menuju India. Paus menunjuk St. Fransiskus sebagai nuncio (duta besar) kepausan di Timur. Kecuali beberapa pakaian dan buku, St. Fransiskus menolak semua hadiah dari raja. Ia juga menolak didampingi seorang pelayan, dengan mengatakan bahwa cara terbaik untuk memiliki kehormatan sejati adalah dengan mencuci pakaian sendiri, merebus masakan sendiri, dan tidak berhutang pada siapa pun. Di Perjalanan St. Fransiskus naik kapal yang juga membawa Don Martin Alfonso de Sousa, Gubernur Hindia. Don Martin berangkat dengan lima kapal untuk memulai tugasnya. Kapal sang admiral terdiri dari para awak kapal, penumpang, tentara, budak, dan tawanan. St. Fransiskus melayani mereka. Ia berkatekese, berkotbah setiap Minggu di dek, melayani yang sakit, dan mengubah kabinnya menjadi tempat perawatan. Ia melakukan semua hal tersebut, padahal ia sendiri mengalami mabuk laut yang serius pada awal-awal pelayaran mereka. Bermacam-macam orang ada dalam kapal. St. Fransiskus harus menengahi pertikaian, menenangkan keluhan-keluhan, menghadapi sumpah serapah dan perjudian, dan memperbaiki ketidakteraturan lainnya. Wabah sejenis penyakit kulit melanda kapal itu dan tidak ada orang lain, kecuali ketiga Yesuit ini, yang merawat mereka yang sakit. Pelayaran mereka membutuhkan waktu tiga belas bulan (dua kali dari waktu pelayaran biasanya) untuk mencapai Goa. Mereka tiba pada tanggal 6 Mei 1542 dan St. Fransiskus pun menempatkan diri untuk menolong di rumah sakit. Di Tanah Misi Orang Portugis telah menetap di Goa sejak tahun 1510 dan di sana telah cukup banyak terdapat umat Kristen, gereja-gereja, para imam, dan seorang uskup. Tingkah laku orang-orang Kristen yang sangat bertentangan dengan Injil (misalnya: praktik tengkulak, pengabaian sakramen-sakramen, ketamakan, dll) sungguh merupakan tantangan bagi St. Fransiskus. Ketika seorang budak dipukuli secara tidak manusiawi, tuan-tuan mereka menghitung pukulan-pukulan tersebut dengan manik-manik rosario. Ia memulai misinya dengan mengajarkan prinsip-prinsip agama dan praktik-praktik kebajikan. Setelah melewatkan pagi harinya dengan menolong dan menghibur yang sakit di rumah sakit dan di penjara-penjara yang kotor dan bau, ia kemudian berjalan di jalan-jalan sambil membunyikan bel memanggil anak-anak dan para budak untuk berkatekese. Mereka berkumpul mengelilinginya dan ia mengajarkan syahadat iman (credo), doa-doa, dan nilai-nilai Kristiani kepada mereka. Ia mempersembahkan Misa bersama para penderita lepra setiap hari Minggu, berkotbah di depan umum (termasuk kepada orang-orang India), serta mengunjungi rumah-rumah penduduk. Keramahan dan kelembutan karakternya, serta perhatiannya yang penuh kemurahan hati, sungguh sangat memikat hati banyak orang. Cinta dan kerendahan hatinya membuatnya menempatkan diri sebagai seorang di antara mereka. Makanannya sama dengan makanan orang-orang yang termiskin, yaitu nasi dan air, dan ia tidur di atas tanah dalam sebuah gubuk. Pengajaran-pengajaran tentang kebenaran-kebenaran agama juga dituangkannya dalam lagu-lagu populer. Cara ini begitu berhasil sehingga lagu-lagu ini dinyanyikan di mana-mana (di jalan-jalan, rumah-rumah, dan tempat-tempat kerja). St. Fransiskus diberitahu bahwa di Teluk Pearl Fishery yang mulai dari Teluk Comorin sampai Pulau Manar, seberang Srilangka, ada orang-orang—yang disebut: orang Parava—yang telah dibaptis, namun, meskipun mereka memiliki semangat belajar, mereka masih memelihara takhyul, kepercayaan sia-sia, dan melakukan kejahatan-kejahatan. St. Fransiskus pergi untuk menolong orang-orang ini. Ia belajar bahasa asli setempat, mengajar dan meneguhkan mereka yang telah dibaptis, dan terutama mengajarkan dasar-dasar agama kepada anak-anak. Begitu banyak jumlah mereka yang dibaptis sehingga kadangkala, karena kelelahan menerimakan sakramen ini, tangannya hampir tidak dapat digerakkan. St. Fransiskus berhasil memperluas kegiatannya juga ke Travancore dan tempat-tempat lain. Tentunya, kedatangannya tidak selalu diterima dengan ramah oleh semua pihak. Diceritakan bahwa pada suatu peristiwa St. Fransiskus, hanya dengan salib di tangannya, bertahan sendirian menghadapi orang-orang yang menentang dan menyerbunya. Dikisahkan pula bagaimana ia berusaha sungguh-sungguh menolong seseorang yang dalam bahaya, padahal orang ini justru sering merintanginya. Misi di Malaka Pada musim semi tahun 1545, St. Fransiskus berlayar ke Malaka, di Semenanjung Malaya. Ia juga mengunjungi Maluku, Ambon, Ternate, Gilolo, dan tempat-tempat lainnya. Dalam misi ini dia mengalami banyak penderitaan, tetapi ia menulis kepada St. Ignatius, “Bahaya-bahaya yang saya hadapi dan tugas-tugas yang saya terima dari Tuhan sungguh-sungguh merupakan sumber air sukacita rohani, sehingga pulau-pulau ini merupakan suatu tempat di dunia di mana orang kehilangan pandangannya karena banyaknya air mata, yaitu air mata sukacita. Saya tidak ingat kapan saya pernah merasakan sukacita batin seperti ini. Penghiburan-penghiburan ini mengambil semua penderitaan badan dan semua kesulitan dari para musuh dan teman-teman yang tidak dapat dipercaya.” Mukjizat-Mukjizat Tuhan melakukan banyak mukjizat penyembuhan melalui St. Fransiskus. Di Malaka ia membangkitkan kembali seorang gadis muda yang tidak saja sudah mati, tetapi sudah dikubur selama tiga hari. Ibu dari anak tersebut datang kepada St. Fransiskus dan dengan penuh keyakinan akan kuasa Allah ia memohon padanya untuk menghidupkan kembali anaknya. Kagum akan iman ibu tersebut yang baru saja mengimani Kristus, St. Fransiskus mendengarkan permohonannya. Ia menoleh kepada ibu ini, meyakinkannya bahwa anaknya hidup, dan menyuruhnya pergi ke kuburan untuk membuka kuburnya. Ibu itupun pergi dan melakukan apa yang diperintahkan St. Fransiskus. Dan, ia menemukan bahwa anaknya sungguh hidup! Peristiwa di Malaka ini hanyalah salah satu dari banyak mukjizat yang terjadi. Dalam proses kanonisasinya, tercatat bahwa ia beberapa kali membangkitkan orang mati selama perjalanannya sepanjang pantai Teluk Fishery, Tranvacore, Jepang, dan Pulau Sancian. Antonio Fernandez, seorang pemuda berusia sekitar 15-18 tahun, sakit keras. Ibunya seorang Jawa dan ayahnya seorang Portugis. Keduanya sudah putus harapan akan kesembuhan anaknya. Tanpa seijin ayahnya, ibunya membawa anak tersebut ke seorang wanita. Wanita ini mengikatkan tali di tangan anak tersebut dan menjanjikan kesembuhan, tetapi tidak ada hasilnya. Sebaliknya, anak tersebut menjadi kejang-kejang dan tidak bisa bicara. Selama tiga hari anak tersebut tidak bicara dan tidak makan. Ibunya dengan menangis memohon untuk memanggil St. Fransiskus dan segera ia pun datang. Begitu St. Fransiskus datang, pemuda yang berbaring kaku seperti kayu itu tiba-tiba bangkit dengan penuh amarah. Santo ini meliriknya dan ini cukup baginya untuk meyakinkan bahwa pemberontakan ini dari roh-roh jahat. Ia menyentuh pemuda yang meracau ini dengan salibnya. Ketika disentuh, pemuda ini bahkan lebih kejang-kejang lagi. Ia menyeringai menakutkan dan meludahi St. Fransiskus. St. Fransiskus berlutut, membacakan kisah sengsara Kristus dari Kitab Suci, dan berdoa. Setelah selesai ia berdoa, pemuda ini pun sudah tenang. St. Fransiskus menyuruh orang tuanya untuk memberinya makan dan menyuruh mereka untuk berjanji membawanya ke Kapel Our Lady of the Hill selama sembilan hari berturut-turut segera setelah ia pulih. Tengah malam pemuda tersebut bangun, dan telah terbebas dari gangguan roh jahat. Esok harinya ia dibawa ke kapel dan St. Fransiskus memberikan misa untuknya. Pemuda tersebut tidak pernah kerasukan lagi selama hidupnya. Misi di Jepang St. Fransiskus juga melakukan perjalanan-perjalanan sekitar Goa, Srilangka, dan Teluk Comorin. Di Goa ia sempat mendirikan apa yang dikenal sebagai “sekolah international St. Paulus”. Pada bulan April 1549 St. Fransiskus mulai berlayar ke Jepang, ditemani oleh seorang pastor Yesuit, seorang awam, juga dua orang Jepang yang telah bertobat. Pada pesta kenaikan Bunda Maria ke surga mereka mendarat di Jepang, di Kagoshima, di pulau Kyushu. St. Fransiskus sendiri belajar bahasa Jepang. Buah dari kerja keras selama dua belas bulan adalah beberapa ratus orang bertobat. Para penguasa mulai curiga dan melarang kotbah selanjutnya. Selain itu, St. Fransiskus juga mengunjungi Yamaguchi (Honshu) dan Miyako (Kyoto). Melihat bahwa kemiskinan dalam pewartaan Injil itu tidak menarik di Jepang sebagaimana di India, St. Fransiskus mengubah metode-metodenya. Dengan dandanan yang layak dan didampingi teman-temannya yang berperan seolah-olah adalah para pembantunya, ia menghadirkan diri ke hadapan daimyo sebagai wakil dari negara Portugal. Ia memberikan surat dan hadiah-hadiah (a.l.: kotak musik, jam, dan kacamata). Daimyo menerima hadiah-hadiah tersebut dengan senang hati dan memberikan kebebasan kepada St. Fransiskus untuk mengajar serta menyediakan sebuah biara Budha yang kosong sebagai tempat tinggalnya. Karena ia mendapatkan perlindungan, maka St. Fransiskus berkotbah dan membaptis banyak orang di kota tersebut. Misi di Cina St. Fransiskus ingin meneruskan misinya ke Cina. Disertai Antony, seorang pemuda Cina, St. Fransiskus berharap menemukan cara-cara untuk mendarat diam-diam di Cina, negara yang tertutup bagi orang asing. Dalam minggu terakhir bulan Agustus 1552 mereka tiba di sebuah Pulau Sancian (Shang-chwan) yang berjarak enam mil dari pantai dan seratus mil di sebelah tenggara Hong Kong. Akhir Hidup Ketika di kapal, St. Fransiskus terserang demam pada tanggal 21 November. Esoknya ia dibawa ke pantai lagi, namun para awak kapal takut terhadap tuan mereka sehingga membiarkan St. Fransiskus di atas pasir pantai. Ia terkena angin utara yang menusuk, sampai seorang pedagang Portugis yang murah hati membawanya ke gubuknya yang sederhana. St. Fransiskus terkena demam tinggi, mengeluarkan darah, namun ia tak henti-hentinya berdoa di tengah-tengah kejang-kejang dan suara mengigaunya. Ia semakin lemah dan lemah. Pada hari Sabtu pagi tanggal 3 Desember 1552, “Saya [Antony] dapat melihat bahwa ia sekarat dan saya menyalakan lilin di tangannya. Kemudian, dengan nama Yesus di bibirnya, ia menyerahkan nyawanya kepada Tuhan, Sang Pencipta dengan tenang dan penuh kedamaian.” St. Fransiskus meninggal pada usia 46 tahun. Sebelas tahun dari hidupnya ia lewatkan di Timur. Tubuhnya dimakamkan pada hari Minggu sore dengan dihadiri oleh empat orang, yaitu Antony, seorang Portugis, dan dua orang budak. Berdasarkan usulan seseorang di kapal, peti mati ditutupi dengan kapur di sekitar tubuh kalau-kalau nanti harus dipindahkan. Lebih dari sepuluh minggu kemudian kuburan dan peti dibuka. Kapur diangkat dari muka dan ditemukan bahwa wajahnya tidak rusak dan tetap cerah warnanya, demikian juga bagian tubuh lainnya dan hanya bau kapur. Tubuhnya kemudian dibawa ke kapal dan dibawa ke Malaka di mana diterima dengan penuh hormat. Pada akhir tahun dibawa ke Goa, dimana tubuh itu dan ketidakrusakannya dibuktikan oleh para dokter. Hingga sekarang tubuhnya masih ada di Gereja Good Jesus. St. Fransiskus dikanonisasi pada tahun 1622, bersama dengan St. Ignatius Loyola, St. Teresa Avila, St. Filipus Neri, dan St. Isidore. Penutup Riwayat hidup St. Fransiskus Xaverius mengungkapkan betapa gembira hatinya menerima Kabar Gembira Kerajaan Allah, menerima Sang Mesias, sehingga ia tak segan-segan berkeliling dunia dan menghadapi segala tantangan untuk membagikan kegembiraannya dengan mewartakan Sang Mesias. Riwayatnya merupakan sebuah ajakan agar kita menyadari betapa berharganya Kabar Gembira Kerajaan Allah, betapa berharganya Kristus Sang Mesias. Dengan iman dan kesadaran ini marilah kita menyambut Sang Mesias dengan penuh sukacita.
ANGEL LITTHA WAHYUNINGSIH
Selamat Ulang tahun istriku juga mama lesya tercinta,
Kau bagaikan pelita hidupku yg selalu mengisi kehampaan yg selalu datang,
Kau tegar dalam menghadapi permasalahan yg datang,
Kau begitu dewasa dalam menjaga keutuhan rumah tangga kita,
Kau memberikan inspirasiku untuk selalu membuat mama bahagia,
Kau wanita yg begitu kucintai dari awal ketemu hingga saat ini sampai akhir hayatku,
Kau mama dari anakku yang begitu lucu, kau menjaganya,
Kau selalu memberikan masakan yg begitu enak
Kau memberikan kasih sayag kepada kami dengan sepenuh hati
Kau yang membuat aku semakin dewasa
Kau, kau, kau, kau wanita terhebat yang aku miliki yang sama seperti ibuku
Ya TUHAN berikanlah Panjang Umur, sehat selalu, semakin sayang sama keluarga, makin mencintai keluarga, Semoga doanya terkabulkan nanti oleh TUHAN YESUS yang juga semakin dekat dengan TUHAN YESUS & selalu diberkati oleh-Nya. Amin..
Papa & Lesya semakin sayang & mencintai mama yg cantik……..
…………..LOVE U MAM……….
Klik disini untuk melanjutkan »»